Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 November 2013

Mempertanyakan Kebenaran



Suatu petang di antara syahdunya suara gerimis, seorang kawan mengajukan pertanyaan yang memaksa saya memikirkan ulang soal kebenaran. Ia mengambil sebuah harian nasional dan menunjukkan sepenggal berita soal Ahmadiyah.

“Kalo dari kacamata teologi kamu, Ahmadiyah ini bener atau salah?” tanyanya lugas.

Saya menjawabnya dengan membakar sebatang rokok. Nampaknya pertanyaan singkat ini akan memancing diskusi panjang. Sampai hisapan ketiga saya masih bingung harus memulai dari mana. Memang saya hanya perlu menjawab “benar atau salah”. Tapi jelas tidak akan sesimpel itu.

“Oke..begini,” ujar saya sok bijaksana. “Kita gak bisa memandang ini dari satu sisi. Harus jelas dulu bagaimana sejarah Ahmadiyah,”.

Saya kemudian berargumen kesana-kemari soal sejarah Ahmadiyah. Sampai akhirnya kawan yang cerdik itu menyadari kalo saya lagi ngeles. “Jadi intinya benar atau salah?,” ia semakin memojokkan.
Sejujurnya saya gelagapan juga dicecar pertanyaan yang sama seperti itu. Saya hanya mengenal Ahmadiyah kulit luarnya saja, tidak mendalami isinya. Saya merasa tidak berkompeten untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Benar atau salah? Dari kacamata orang awam aja,” ia kembali mengulangi pertanyaan yang sama.
Saya mengambil nafas panjang. Mengerutkan dahi sambil duduk bersila ditemani asap rokok yang terus mengepul. Saya merasa ada yang ganjil.

“Kebenaran seperti apa yang kamu maksud?” saya balik bertanya.

Ia terdiam sejenak. Matanya menerawang tampak sedang memikirkan sesuatu. Suasana menjadi hening meski hujan di luar semakin deras. Kami saling tersenyum. Kalo ada yang melihat, mungkin akan menyangka kami sedang cinlok. Sepertinya kami harus clear dulu soal kebenaran yang dimaksud.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin kami mengukur sesuatu dengan “kebenaran” jika kebenaran itu sendiri sulit diukur? Maksud saya begini. Saat kita hendak mengukur berat daging yang dihasilkan dari seekor kambing misalnya, kita memiliki alat dan satuan ukur yang jelas. Ukuran berat itu disepakati semua pihak. Mulai dari ton, kwintal, kilogram sampai ons dan gram. Alat dan satuan ukur yang jelas itulah yang membantu kita bisa berteriak dengan lantang bahwa berat daging itu adalah 30 kilogram misalnya.

Lantas bagaimana caranya mengukur Ahmadiyah benar atau salah? Alat dan satuan ukur seperti apa yang akan kita pakai? Apakah “kebenaran” yang kita pakai untuk mengukur sudah “benar-benar” benar? Bagaimana “kebenaran” yang kita anggap benar untuk mengukur suatu “kebenaran” bisa menunjukkan “kebenaran”? Begitu kompleksnya soal kebenaran ini sampai membuat kami harus kembali meninjau ulang soal kebenaran.

Selama ini saya merasa kebenaran dimonopoli oleh sekelompok orang. Kebenaran dipahami sebagai sebuah kesepakatan bersama suatu tatanan masyarakat. Masa Orde Baru misalnya, orang-orang bertato dianggap identik dengan premanisme. Hal tersebut dianggap sebuah kebenaran yang disepakati oleh masyarakat. Persoalan tato dikonstruksi sedemikian rupa hingga menjadi “kebenaran” di tengah khalayak ramai.

Tapi hari ini kebenaran itu dilucuti. Tato tak lagi dianggap tabu. Masyarakat insaf bahwa yang selama ini dianggap sebuah kebenaran menjadi hal yang biasa saja. Buat saya, nilai-nilai kebenaran yang disepakati  bersama telah memudar. Kebenaran absolut itu hilang begitu saja.

Saya termasuk orang yang tidak percaya andagium “kebenaran pasti menang”. Karena faktanya, “pemenanglah yang menjadi kebenaran”. Jadi bagaimana kita bisa menggantungkan diri pada kebenaran yang tidak selamanya benar itu?

Hari ini, kebenaran sudah tidak bisa lagi dipatok, dimiliki dan dikuasai oleh sekelompok orang. Kebenaran sudah seperti rasa. Hadir di setiap pribadi. Menjelma lewat argumentasi. Kebenaran menjadi bias dan masuk ke setiap relung sanubari. Lantas, untuk apa lagi kita mempertanyakan kebenaran?

Dalam konteks inilah pertanyaan kawan saya soal benar dan tidaknya Ahmadiyah menjadi tidak relevan. Kami tidak bisa menemukan alat dan satuan ukur yang tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Maka, masih relevankah kita mempertanyakan kebenaran, jika kebenaran saja sudah menjadi ranah privasi orang per orang?


Kamis, 25 Oktober 2012

Band atau Boyband??...


Pernahkah kamu menghitung berapa jumlah boyband/girlband yang ada di Indonesia? Belum lagi boyband/girlband asal Korea atau pun Jepang yang turut mencari penggemar di Indonesia? Sudahlah tak perlu dijawab. Karena ini hanya pertanyaan retoris. Saya hanya ingin menegaskan bahwa demam boyband/girlband memang sedang nge-hits di kalangan remaja kita.

Tentu tak ada yang salah. Sebab setiap orang memiliki selera musik yang berbeda-beda. Sama seperti kita tidak bisa memaksa orang untuk memakan makanan yang tidak disukainya.

Pada awalnya, saya cuek saja dengan perkembangan ini. Tapi lama kelamaan saya terusik juga saat orang-orang terdekat saya juga tenggelam dalam euphoria ini. Dengan semangat ke-kepo-an yang tinggi, saya mulai mencari dan mendengarkan seperti apa sih selera boyband/girlband orang-orang terdekat saya. Terutama pasca konser Big Bang yang gaungnya masih saja terasa sampai sekarang.

Saya mulai bergerilya mendengarkan dan menonton video-video boyband yang katanya keren itu. Hasilnya,,saya tetap tak bisa menikmati musik dan aksi mereka. Saya juga merasa aneh, Karna saya bukan termasuk orang yang anti terhadap satu jenis musik. Anehnya, berkali-kali saya memaksakan menonton dan mendengarkan musik boyband/girlband itu, saya tetap tidak terbius sebagaimana kawan-kawan saya lainya.

Nah,,malam ini saya baru dapat jawaban saat saya bernostalgia mendengarkan lagu-lagu Gun n Roses. Ditengah lengkingan Axl Rose yang menyayat-nyayat, saat itulah saya menyadari bahwa sebuah boyband/girlband tetap tidak bisa menawarkan apa yang diberikan oleh band. Apa itu?... Buat saya, sebuah “band” lebih dinamis karna mereka sendiri lah yang mengaransemen musikalitas mereka. Mereka sendirilah yang “memberi nyawa” pada setiap petikan gitar & melodi. Mereka sendirilah yang “menghidupkan” musik lewat tabuhan drum. Ya..GnR besar bukan hanya karna suara si Axl Rose tapi juga petikan gitar Slash yang bahkan bisa membuat kita merinding.

Itulah yang menurut saya tidak bisa ditawarkan oleh boyband/girlband. Mereka datang dengan tampang, koreografi serta suara yang terkadang pas-pasan. Memang harus diakui, ada beberapa boyband yang memiliki kualitas suara cukup unik, tapi tetap musikalitas yang mereka tawarkan masih terasa hambar.

Silahkan tanya pada penggemar Dream Theather, seperti apa rasanya saat sang drummer Mike Portnoy memutuskan hengkang dari grup ini. Karna bagi penikmat musik, bukan hanya suara si vokalis yang bisa menyihir penggemar, tapi juga karakter gitaris, melodis, drummer atau bahkan keybordis yang memberikan warna tersendiri.

Jadi wajar saja, saat menyaksikan beberapa orang yang “hanya” bernyanyi dan berkoreografi dengan kostum serba glamour, tidak ada feel yang yang bisa saya rasakan.

Saya sendiri sebagai penggemar Avenged Sevenfold, bukan suara serak si Matt Shadow yang pertama kali membius saya. Tapi justru lengkingan gitar Synyster Gates dan pukulan drum The Rev lah yang pertamakali membuat saya terpincut.

Syns,,,salah satu gitaris paporit sayah..

Nah,,,bagaimana selera musik kamu? Apakah kamu termasuk penikmat musik seperti saya yang lebih menikmati musik secara komprehensif? Atau seperti mereka yang lebih menikmati wajah, koreografi serta fashion boyband semata?

Tidak ada yang salah karena musik adalah soal selera bukan hitungan matematis. Semua benar karena musik ada di telinga dan kepala yang terkadang tidak bisa hanya memakai logika..!




Kamis, 15 Maret 2012

Anda Tak Cukup Kaya..!!


Pagi ini diantara semrawut kemacetan Jakarta, saya melihat seorang gadis cantik mengendarai mobil sendirian. Mobil berkapasitas 8 orang itu tampak kosong melompong. Hanya sang gadis manis yang terlihat asik mendengarkan musik dibelakang kemudi. Saat mengalihkan pandangan, saya menyaksikan pemandangan yang sama. Mobil-mobil kosong dengan hanya satu atau dua orang penumpang saja.
Bagi saya, gadis itu hanyalah simbol. Simbol dari kesenjangan ekonomi yang terjadi di negri ini. Meski Badan Pusat Statistik (BPS) mengklaim pertumbuhan ekonomi kita mencapai 6%, saya tidak percaya. Pertumbuhan yang mana? Toh nyatanya para petani masih sulit membeli beras. Sekolah masih menjadi mimpi bagi sebagian anak-anak. Dan generasi muda kita masih bingung mencari kerja.
Sebagai anak muda yang setiap hari berkutat dalam aktivitas ibukota, macet tentu menjadi hal biasa. Saya tidak ingin mengkritik pemerintah karena mereka sudah jelas salah. Saya ingin sedikit menggelitik lewat gadis manis yang saya temui hari ini.
Jujur saja, saya agak kesal dengan perilaku orang-orang yang mengendarai mobil sendirian. Volume kendaraan di ibukota yang melonjak hingga 12 juta saja menjadi masalah. Apalagi mengendarai mobil sendiri. Mari kita berfikir sederhana. Jika rata-rata lebar jalan di Jakarta adalah 15 meter dan lebar mobil adalah 3 meter, maka hanya 4 mobil yang bisa melaju bersamaan. Jika setiap satu mobil hanya berisi 1 orang, artinya 4 orang itulah yang menguasai lebar jalanan. Berbeda dengan motor yang lebarnya hanya 1 meter. Pun jika diisi hanya satu penumpang, masih ada 10-12 orang yang bisa melewati jalan tersebut.
Saya menyebut orang-orang yang mengendarai mobil sendirian sebagai orang egois. Mereka menguasai jalanan yang lebar hanya untuk mereka sendiri. Bagi saya, merekalah biang kemacetan ibukota. Jika hanya pergi sendiri, mengapa mereka harus menggunakan mobil? Mengapa tidak naik motor atau angkutan umum saja??..
Baiklah, mungkin anda akan berapologi dengan kebobrokan transportasi kita. Hal ini memang menjadi masalah tersendiri. Infrastuktur transportasi kita dimana angkot yang sering ngetem, busway yang suka terlambat dan kereta yang penuh sesak, memaksa orang naik angkutan umum tentu bukan pilihan yang bijak. Namun mengendarai mobil sendirian tentu bukan jawabannya.
Kebijakan 3 in 1 di beberapa jalan protokol di Jakarta rasanya belum menjadi solusi. Selain membuka lapangan pekerjaan untuk menjadi joki, 3 in 1 nyaris tidak berpengaruh bagi kemacetan Jakarta. Saya pikir kita harus mulai berfikir untuk mengurangi pemakaian kendaraan terutama mobil, terutama lagi jika hanya pergi sendiri. Jika tidak, beberapa tahun lagi dengan penambahan volume kendaraan yang semakin masif, percayalah jam 1 malam pun juga akan macet.
Selain menyebabkan kemacetan, penggunaan mobil juga boros BBM. Dengan “Si Supri”-motor honda kebanggaan saya-, bensin 2 liter cukup untuk keliling Jakarta. Berapa yang dibutuhkan mobil anda untuk keliling Jakarta? Artinya, anda yang menggunakan mobil dan boros BBM turut berkontribusi pada ekslorasi besar-besaran minyak mentah yang artinya turut berkontirbusi pada pencemaran lingkungan dan pengrusakan bumi.
Mungkin anda menyebut saya sebagai orang yang iri. Tak munafik, sebagai manusia biasa saya tentu punya rasa iri. Namun kekesalan saya pada para pengguna mobil egois telah mengalahkan rasa iri saya.
Untuk itu, saya terpikirkan sebuah ide yang saya sebut sebagai “pajak subsidi silang”. Ini adalah sebuah kebijakan untuk menaikkan pajak bagi para pengendara mobil pribadi. Caranya bisa dengan menaikkan tarif tol beberapa kali lipat, menaikkan harga BBM khusus untuk mobil dan menaikkan tarif parkir mobil. Hasilnya bisa digunakan untuk membangun infrastuktur transportasi ataupun mensubsudi BBM bagi rakyat miskin yang katanya akan naik tahun ini.
Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Barrack Obama dalam pidatonya pada 25 Januari 2012 dihadapan kongres AS mengusulkan kebijakan “pajak bagi orang kaya”. Artinya, untuk membiyayai defisit anggaran pemerintahnya, Obama bermaksud menaikkan pajak bagi orang-orang kaya dan menggunakannya untuk kepentingan publik.
Dengan menaikkan pajak bagi pemilik mobil, setidaknya dua keuntungan yang kita dapat. Pertama, menurunkan penggunanaan mobil pribadi yang artinya mengurangi kemacetan dan konsumsi BBM. Kedua, hasil dari kenaikan pajak ini bisa digunakan untuk membangun infrastuktur transportasi kita agar lebih baik.
Jika kebijakan ini benar-benar terlaksana, percayalah para pengguna mobil pribadi akan berteriak-teriak tidak setuju. “kasiahan yang bawa mobil donk?” begitulah mungkin rekasi yang timbul. Buat saya sederhana, jika anda tidak mampu membayar pajak-pajak yang tinggi bagi para pemilik mobil pribadi, artinya anda tak cukup kaya..!!.
Saya melihat, selama ini fungsi mobil sudah berubah dari alat transportasi menjadi simbol status sosial. Maka jika anda ingin konsisten dengan status sosial sebagai pemilik mobil, konsekuensi untuk membayar cost lebih mahal harus anda patuhi. Jika tidak, artinya anda tidak cukup kaya untuk punya mobil . Apalagi jika mobil yang anda gunakan itu adalah mobil orang tua. Yes,.you’re really not enough rich..!!
Saya kenal dengan seseorang yang jika dilihat dari penampilannya, anda tidak akan percaya jika ia bergaji puluhan juta. Hidupnya sederhana. Sehari-hari, ia mengandalkan sepeda ataupun motor vespanya untuk berangkat ke tempat kerja. Mobil hanya digunakan sesekali jika pergi bersama keluarga. Bagi saya, ia lebih “kaya” daripada orang yang punya Mercy lima sekalipun.
Cara semacam ini sudah dipraktekkan di Amerika. Untuk mengurangi konsumsi rokok, walikota New York Michael Bloomberg menaikkan harga rokok hingga berkali-kali lipat. Cara ini cukup berhasil. Meski awalnya kontroversial, toh pada akhirnya semua berjalan seperti biasa.
Saya sengaja membuat tulisan ini agak provokatif. Bukan agar anda menyetujuinya, tapi supaya anda memahaminya. So,,silahkan tuangkan ide-ide kreatif kalian anak muda..!!!!

Senin, 29 Agustus 2011

Ramadhan, 29 Atau 30?

Sumber: Google


Kisruh penetapan 1 Syawal atau jatuhnya hari raya idul fitri memang menjadi hal biasa tiap tahunnya. Wajar saja, proses konversi dari kalender Hijriah ke kalender Masehi memang tidak mudah. Untuk menentukan 1 Ramadhan sebagai tolak ukur kaum muslim melaksanakan puasa serta 1 Syawal sebagai hari raya, setidaknya terdapat metode rukyat dan hisab.

Tahun ini, penetapan 1 Syawal juga tak terhindar dari perbedaan. Idul Fitri yang sejak awal digadang-gadang jatuh pada 30 Agustus 2011, harus mundur 1 hari. Dalam sidang itsbat yang berlangsung pada hari Senin (29/8), dinyatakan bahwa hilal belum terlihat di 30 titik pemantauan d Indonesia. Meskipun beberapa pihak mengklaim telah melihat hilal di Jepara dan Cakung, hasil pantauan di kedua titik ini tidak dapat mengubah keputusan pemerintah.

Tak pelak lagi, hal ini memperpanjang rekor perbedaan menyambut idul fitri di masyarakat. Umat Muhamadiyah berkomitmen bahwa 1 Syawal tetap jatuh pada 30 Agustus. Bahkan, di Sumatera Barat ada sekolompok masyarakat yang pada hari Senin 29 Agustus sudah berlebaran. Apapun itu, tentu menghargai perbedaan lebih penting dari sekedar kepercayaan masing-masing.

Penentuan lebaran tahun ini memang cukup unik. Banyak masyarakat yang terkecoh oleh tanggal merah yang sudah ditentukan pemerintah jauh hari sebelumnya. Termasuk saya sendiri, Dirumah ibu saya agak kecewa karna dari hari Senin sudah masak banyak untuk persiapan lebaran.He,,

Nah,,disini saya tidak ingin menggugat keputusan yang sudah diambil pemerintah. Saya juga tidak berniat menjelaskan tentang metode rukyat dan hisab yang membingungkan itu. Disini saya hanya ingin menyoroti hal kecil dibalik penentuan lebaran tahun ini.

Baiklah, saya ingin memulai dari pertanyaan “mengapa pemerintah sudah menetapkan 30 Agustus sebagai 1 Syawal jauh hari sebelumnya?”. Nah,,pertanyaan inilah yang mengusik saya sejak awal Ramadhan. Seperti yang kita ketahui, tanggal 1 Ramadhan 1432 H ditetapkan pada tanggal 1 Agustus 2011. Dalam penetapan tersebut hampir tidak ada masalah yang berarti. Artinya, dengan metode hisab, awal Ramadhan yang jatuh pada 1 Agustus memang sudah diketahhui sejak lama.

Nah,,disinilah masalahnya. Jika dari jauh-jauh hari pemerintah sudah mengetahui bahwa awal Ramadhan jatuh pada tanggal 1 Agustus, mengapa pemerintah masih menetapkan Idul Fitri pada 30 Agustus yang berarti hanya memberikan umur bulan Ramadhan tahun ini 29 hari.

Dari data-data lama yang iseng saya kumpulkan, jika kita menilik setidaknya selama tiga tahun belakangan, pemerintah selalu memberikan umur Ramadhan 30 hari. Pada tahun 2010, 1 Ramadhan 1431 H bertepatan dengan 11 Agustus. Dalam kalender resmi, 1 Syawal sudah jauh-jauh hari ditetapkan pada 10 September. Artinya, pada tahun 1341 H, bulan Ramadhan diperkirakan berumur 30 hari. Dan memang tepat.

Pada tahun 2009, 1 Ramadhan bertepatan pada 22 Agustus sedangkan 1 Syawal diperkirakan tanggal 21 September. Kembali umur Ramadhan adalah 30 hari. Sedangkan pada tahun 2008, 1 Ramadhan bertepatan dnegan tanggal 1 September dan 1 Syawal jatuh pada 1 Oktober. Lagi-lagi 30 hari. Lalu, mengapa pemerintah menetapkan umur Ramadhan tahun ini hanya 29 hari?

Memang tidak ada standar baku berapa hari umur Ramadhan sebenarnya. Namun, melihat tren beberapa tahun belakangan, nampaknya Ramadhan 30 hari adalah yang paling mungkin. Inilah yang menjadi keheranan saya sejak awal puasa.

Lalu bagaimana dengan tahun depan? Menurut perhitungan hisab, awal Ramdhan akan jatuh pada 20 Juli 2010. Sedangkan menurut versi pemerintah, 1 Syawal akan bertepatan dengan tanggal 19 Agustus 2012. Jika perhitungan hisab ini memang sudah dihitung pemerintah, maka tahun depan umur Ramadhan diperkirakan adalah 30 hari. Hmm,,kita lihat saja nanti.

Kita tentu berharap perbedaan yang terjadi tidak menghalangi nilai kemenangan idul fitri. Tulisan inipun hanyalah ulah iseng saja tanpa bermaksud mengusik kegembiraan kita setelah sebulan penuh berpuasa. Maka menyambut datangnya hari sakral ini, segala kesalahan haruslah menjadi seperti kayu bakar yang dilalap habis oleh api. Selamat mengakhiri puasa, mohon maaf atas segala kesalahan. Semoga kebersamaan kita selalu menjadi inspirasi menuju sukses. Selamat hari raya Idul Fitri 1432 Hijriah.

Kamis, 26 Februari 2009

Kepunahan Intelektual Anak Negeri

Sumber: www.agatestudio.com

Anak adalah aset bangsa, agama, dan tentu saja setiap orang tua. Sebab di tangan anak-anaklah terpantul masa depan umat manusia. Maka barang siapa yang mewariskan ilmu dan pengalamannya kepada sang anak, ialah pahlawan kehidupan. Sebaliknya yang bermain-main dalam mendidik buah hatinya sesungguhnya ia tengah berdiri bibir jurang.

Anak dan pendidikan adalah dua buah kata yang tidak bisa dipisahkan. Saling membutuhkan dan saling mempengaruhi. Saling menjaga. Semakin lebar jengkal tanah ilmu yang dilahap oleh seorang anak maka peluangnya untuk menjadi sampah masyarakat akan semakin menipis. Oleh karena itu,pendidikan seyogyanya menjadi menu utama. Tak hanya pendidikan formal yang dikomandoi oleh seorang guru namun juga pendidikan nonformal lewat tangan lembut ayah dan ibunda.

Namun yang terjadi di negeri ini berbalik 180 derajat dari apa yang dikumandangkan oleh para ahli anak diseluruh penjuru dunia. Anak dan pendidikan terpisah begitu jauh seakan tak ada celah untuk bersua. Yang marak menghiasi media-media massa adalah kasus kekerasan terhadap anak, trafficking, mahalnya biaya pendidikan, pekerja dibawah umur hingga gedung sekolah yang semakin menyalahi aturan dasar arsitektur karena dimakan usia. Tak jarang kita menyaksikan anak-anak bermental baja yang harus rela menempati kelas-kelas darurat demi menaklukkan rimba pengetahuan yang begitu kompeks.

Hati siapa yang tak akan menangis menyaksikan bocah-bocah belia mengais rupiah demi rupiah di jalan-jalan ibukoa.Bukankah saat itu adalah waktu mereka bermain dan merasakan hangatnya pelukan sang ibu? Ke manakah para punggawa negeri ini ketika keterbatasan ekonomi menjadi alasan untuk bercerai dari gemerlapnya dunia pendidikan? Memang banyak yang peduli, namun lebih banyak lagi yang menutup mata dan telinga menyaksikan elegi di tanah subur ini.

Padahal bangsa ini butuh regenerasi. Kaum tua sudah saatnya duduk menikmati hasil perjuangannya sambil memberi arahan bagi penerusnya. Namun apalah daya prospek anak-anak Indonesia begitu muram. Kemanakah ibu pertiwi akan dibawa ke depan?

Inilah tugas kita sebagai manusia. Mempersiapkan bibit-bibit unggul di masa depan bukan hanya tugas orang tua dan guru, namun juga setiap jiwa yang masih mempunyai nurani. Masa kita sekarang akan sangat berbeda dengan masa yang akan dihadapi oleh generasi penerus kita. Seleksi alam akan semakin menerjang. Realita sejarah membuktikan generasi yang tumpul hanya akan menumbuhkan komunitas yang tertindas.

Inilah waktu yang tepat untuk bergerak. Membeberkan fakta hanya akan menambah duka dan derita. Bukan lagi menjadi rahasia tentang kelas yang roboh ataupun janji pejabat tentang sekolah gratis. Memang terlaksana di kota-kota besar tentang digulirkanya sekolah gratis. Namun semua itu hanya sebatas wacana di daerah-daerah terpencil. Bukankah Indonesia terdiri dari belasan ribu pulau? Bukan hanya Jakarta dan sekitarnya.

Tak perlu lagi ada perdebatan tentang apa yang harus dilakukan. Entah program subsidi silang ataupun dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Langkah apapun harus segera diambil. Sebab,anak-anak Indonesia tak lagi sanggup menunggu kepunahan intelektual yang mengintainya.