Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Celoteh. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Maret 2011

Antara Jakarta dan Bekasi

Antara Jakarta dan Bekasi
Terdengar suara jangkrik dibalik megahnya bedeng kapitalisme
Dari sinilah semuanya akan di mulai
Obrolan ringan disuatu petang, dimana mega merah turun menyelimuti
Titik kulminasi telah kita lewati bersama
Dimana keringat dan semangat tak pernah putus lewat teriakan di jalanan
Mereka adalah generasi tanpa malu
Dan kita hanyalah generasi yang dilahirkan tanpa rasa malu-malu
Di titik ini kawan, antara Jakarta dan Bekasi
Akan kita jaga bara perjuangan itu agar tak lagi padam
Janji diatas kertas plano adalah janji bagi dunia

Kamis, 10 Maret 2011

Berbeda

Apa yang ada dibenakmu, saat kita tiba di suatu masa.
Dimana rasa itu masih ada, namun rantai ego tetap memisahkan kita.
Seperti burung yang jatuh cinta pada langit, jiwaku dan jiwamu terlalu bebas.
Aku teringat sebait sajak,,"Kita berbeda dalam segala hal, kecuali dalam cinta".
Tapi tahukah kau bahwa cinta bukan segalanya? karna kejujuranlah yang utama.
Jujurlah pada diri sendiri, maka jalan terjal itu akan menjadi landai.
Aku tahu, ini mungkin sebuah bentuk alter egoku.
Namun semua nampak begitu nyata, saat semilir angin dan aroma tubuhmu menyandera semua inderaku
Tiba-tiba semua terasa begitu gelap.
Genggamanmu masih terasa lembut, tapi ada yang berbeda
Sorot matamu masih menyejukkan, tapi ada yang berbeda.
Mari kita timbang dengan hati dan pikiran kita



Jangan kita yang menghakimi, tapi biarlah angin dari utara.!!

Jumat, 17 Juli 2009

Aku dan Dunia

Kita memang tak pernah berpikir tentang makna kehidupan. Jiwa yang penuh emosi dikekang sepenuhnya oleh kebebasan. Ya...manusia adalah makhluk yang bebas sesungguhnya. Namun, terkadang ia justru terkekang akan kebebasannya itu sendiri. Iblis yang bebas berekspresi adalah bukti ketidakmampuannya menyelami dunia yang fana.

Ah...hidup hanyalah sebuah kehampaan. Kehampaan yang harus terus diisi dengan semangat peradaban. Peradaban memang tak pernah lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari pemikiran yang radikal hingga berujung pada pergerakan yang progresif.

Kita memang wayang yang dinamis. Namun kita adalah wayang yang dapat bergerak tanpa bantuan sang dalang. Wayang kehidupan, itulah namanya. Nafsu yang membara selalu terjangkiti virus kemanusiaan. Ujungnya hanyalah dunia yang tak pernah diketahui oleh manusia manapun. Sebab, bumi kita saat ini adalah neraka. Tentu jika kita tidak bergerak.