Jumat, 24 April 2009

Negara Tanpa Presiden

Pemilu 2009 ini memang tergolong aneh. Selain banyak kekurangan-kekurangan yang terjadi sehingga banyak yang beranggapan pemilu kali ini sebagai pemilu terburuk yang pernah dilaksanakan, pemilu kali ini juga membuat bangsa ini sekarang seperti negara tanpa presiden.

Statement ini bukan tanpa alasan. Secara formal memang Indonesia masih di kepalai oleh seorang presiden dan wakilnya. Namun lihat saja ternyata presiden wakil presiden Indonesia saat ini sudah turun derajat menjadi “ bakal calon presiden” dan “ bakal calon wakil presiden”.

Sebenarnya kurang tepat juga memakai istilah “ bakal calon presiden dan bakal calon wakil presiden” bagi kepala negara yang saat ini masih secara resmi menjabat. Tapi entahlah, karena hal ini belum pernah terjadi mungkin para ahli politik belum menyepakati satu “istilah” untuk kepala negara yang masih resmi menjabat namun terlalu sibuk untuk mengurusi partainya dan tentu saja pencalonan kembali dirinya 5 tahun kedepan.

Di berbagai media photo-photo presiden dan wakil presiden kita selalu dibubuhi keterangan sebagai pejabat teras partai dan kegiatan partainya. Bukan sebagai presiden ataupun wapres. Artinya kegiatan presiden dan wapres Indonesia saat ini lebih banyak tercurah untuk partai-partai mereka.

Apalagi pada masa kampanye kemarin, presiden dan wakil presiden sibuk “menjual diri” pada masyarakat lewat pidato-pidatonya yang mengatasnamakan partai. Mereka seperti lupa pada 200 juta rakyat Indonesia yang saat ini masih menjadi tanggung jawab mereka. Inilah yang saat ini terjadi pada Indonesia saat ini. Negara tanpa presiden dan wakilnya.

Lalu di tangan siapakah tonggak kepemimpinan Indonesia saat ini dipegang? Tentu kita bertanya-tanya jika pejabat resminya saja saat ini sudah harus “mengabdi” pada partai bukan pada rakyat. Kegiatan presiden dan wakil presiden saat ini hanya berkutat masalah koalisi, rapat partai dan tentu saja strategi pencalonan diri pada pilpres mendatang.

Memang banyak yang menganggap hal ini sah-sah saja. Namun menjadi tidak sah jika harus sampai mengorbankan kepentingan rakyat. Padahal kampanye yang baik adalah kampanye yang selalu memperhatikan rakyat. Jika masih menjabat presiden saja sudah sibuk ingin mencalonkan diri sebagai presiden dengan menjadi “budak” kepentingan partai bagaimana mau dipilih rakyat?

Kamis, 09 April 2009

Catatan Akhir Pekan: Pendakian Ceremai



Kami terlambat satu jam dari yang direncanakan ketika tiba di stasiun Senen. Kereta Matarmaja yang akan membawa kami ke Cirebon sudah berangkat pukul dua tadi. Untung saja masih ada kereta Tegal Arum jurusan Jakarta-Tegal. Akan tetapi si Tegal Arum ini sudah kehabisan tempat duduk. Maka aku memilih menjadi penumpang gelap. Agar tidak terlalu merasa rugi jika harus berdiri 4 jam sampai Cirebon.

Perlahan kereta mulai bergerak ke timur. Lepas dari Jatinegara, langit mulai memuntahkan airnya dengan begitu deras. Aku yang berada tepat di pintu gerbong tak urung terkena cipratan air. Apalagi pintu kereta yang tak layak pakai lagi. Ya sudahlah... Lantai gerbong mulai digenangi air beberapa senti. Jika kalian mau tahu, itulah kereta rakyat. Tapi ketika pak Kondektur memeriksa karcis aku tinggal menyodorkan uang 5000-an. Tongzir, kawanku, memberi uang Rp 10000. Padahal jika lewat jalur resmi kami harus membayar Rp 13000. Sekali lagi itulah kereta rakyat.
Tepat pukul 7, kami mendarat di stasiun Cirebon Prujakan. Ini kedua kalinya aku singgah di kota ini. Namun untuk mencapai alun-alun kota, cukup bingung juga aku. Sebab ketika itu aku turun di stasiun Cirebon kejaksan.

Malam sabtu di Cirebon ternyata cukup ramai. Sepanjang jalan Kartini kaum muda-mudi memenuhi warung-warung lesehan yang banyak tersebar di trotoar. Ketika melewati sebuah alfamart kulihat sekolompok remaja tanggung sedang menggilir bir bintang dengan raut muka setengah teler. Beberapa botol bekas berserakan disekitarnya. Hmmm…cukup bebas juga ternyata Cirebon ini.

Kami sendiri setelah bolak-balik menyusuri jalan Kartini, memesan seporsi nasi bakar isi jamur, tuna dan lalapan. Nikmat sekali. Sayang...untuk orang kelaparan sepertiku ini seporsi rasanya masih sangat kurang.

Ah ya…mungkin kalian bertanya mengapa aku dan Tongzir harus pergi ke Cirebon. Baiklah akan ku beritahu. Kami akan mendaki gunung Ceremai kawan. Hanya berdua?? Ya hanya berdua. Biar lebih romantis. Hehe…

Ketika kami sedang bingung akan tidur dimana malam ini, tiba-tiba seorang remaja menegur kami. Setelah tahu kami hendak mendaki, ia pun mengajak kami singgah di Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) Gunati. Mapalanya Unswagati (Universitas Sunan Gunung Jati).

Kawan-kawan baru Mapala Gunati menyambut kami layaknya tamu. Benar-benar ramah dan menyenangkan. Karena bersikap terbuka, kami jadi cepat akrab. Bahkan ketika tahu kami belum pernah mendaki gunung Ceremai sebelumnya, mereka menawarkan diri untuk jadi pemandu. Ah…sesama pendaki memang saudara.

Akhirnya sore itu pukul 3, aku, Tongzir, Afor, Ringgo, Mj (baca; emji) dan Busik sebagi leader memulai pendakian dari jalur Linggarjati. Namun kami tidak melewati jalur Cibunar sebagai pos resminya. Biasa, nyari gratisan. Kami memilih jalur Linggasana yang dulunya merupakan jalur resmi. Karena jarang dipakai, jalur Linggasana ini benar-benar menantang. Treknya tertutup ilalang sepinggang. Sumber air pun hanya ada di pos pertama saja. Jalur Linggasana ini nantinya berakhir di Condang Amis. Pos ketiga jika lewat jalur resmi Cibunar.

Gunung Ceremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat ini sebenarnya mempunyai 3 jalur pendakian. Jalur Apuy di Majalengka, Palutungan, dan Linggarjati di Cirebon. Akan tetapi Jalur Linggarjati-lah yang katanya paling menantang. Bahkan untuk ukuran nasional Jalur Ceremai Linggarjati ini termasuk yang paling menguras mental dan tenaga. Tak heran ada istilah, belum naik Ceremai jika belum lewat Linggarjati.

Dan memang itulah yang kutemukan disini. Tak ada perkenalan sama sekali dari awal. Jalurnya mempunyai kemiringan 45-600. Maka kami harus berpegangan akar pepohonan yang menggelantung sepanjang pendakian. Benar-benar menyiksa. Ketika tiba pos 4 yaitu Kuburan Kuda, jam sudah menunjukkan pukul 18.11. Dan uniknya, di Kuburan Kuda ini kami masih sempat mendengar adzan maghrib lho.

Dan inilah trek terparah. Dari Kuburan Kuda sampai Pangalap yang merupakan pos 5. Tanjakannya benar-benar membuat nyali menciut. Untung saja pendakian kami di malam hari. Di Pangalap lagi-lagi kami mendengar adzan isya. Sayang hanya mendengar saja.
Pendakian di malam hari memang mengasyikkan. Selain kita tidak perlu melihat treknya yang dipastikan bisa bikin senewen itu, pemandangan kota Cirebon di malam hari terlihat sangat eksotis. Dari ketinggian Cirebon dan Kuningan nampak seperti miniatur yang dipasangi lampu-lampu. Selain itu, pendakian malam juga lebih mengirit air. Untuk gunung dengan jalur pendakian ekstrim tapi miskin air seperti Ceremai ini, pendakian malam tentu sangat bermanfaat.

Namun, pendakian malam bukan tanpa resiko. Penguasaan medan yang mumpuni menjadi syarat mutlak terutama bagi leader. Udara pun akan menjadi sangat dingin. Maka peralatan-peralatan seperti senter dan jaket tentu sangat krusial.

Apalagi ketika sampai di pos 6 (Tanjakan Binbin) hujan mulai turun. Meskipun hanya gerimis, namun hal itu semakin membuat lambung kami berteriak minta diisi, tubuh kami bergetar kedinginan dan mental kami yang merosot. Maka ketika sampai di pos 7 (Bapa Tere) kami memutuskan untuk membuat mie rebus. Saat sedang asyik memasak, hujan semakin deras. Tadinya kami memutuskan untuk nge-camp disini dulu. Namun akhirnya kami memutuskan untuk menyantap dinner kami diiringi air hujan. Kopi yang tadinya tinggal setengah gelas kini jadi penuh lagi. Hmmm…benar-benar selera petualang!

Di Bapa Tere ini kawan-kawanku mulai mengenakan jaket. Hanya aku dan Ringgo yang masih bertahan dengan style awal kami. Celana pendek dan kaus. Aku bukannya tidak kedinginan, namun aku ingin mengadaptasikan tubuhku dulu. Lagipula jaketku ada di dasar keril. Males ngambilnya.

Sebelum mencapai pos 8 (Batulingga), kami bertemu dangan pendaki lainnya yang sedang nge-camp. Kami mampir sebentar untuk bertukar cerita dan ngopi-ngopi. Begitulah sesama pendaki. Saling toleransi. Setelah Batulingga, kami tiba di pos 9 (Sangga Buana I). Sekali lagi treknya benar-benar menyesakkan. Dari Sangga Buana I ke Sangga Buana II, trek didominasi oleh bebatuan. Tentu saja masih dengan kemiringan yang dahsyat.

Ketika sampai di Sangga Buana II, kami berhasil mendapatkan air. Karena hanya berbentuk cekungan yang airnya bersumber dari rembesan, tak banyak pendaki yang tahu sumber air ini. Lagipula sumber air ini tidak selalu ada.

Setelah itu, trek masih didominasi oleh bebatuan besar dan kerikil. Keseimbangan tubuh benar-benar berperan disini. Karena kalau tidak, salah-salah kita akan terpeleset. Sekitar pukul 3, kami tiba di pos terakhir sebelum puncak. Pengasinan. Disini kami langsung memasak dan mendirikan tenda. Tadinya kami berniat mengambil momen sunrise di puncak. Namun karena kelelahan kami memutuskan menikmati sunrise disini saja.

Ketika yang lain langsung meringkuk di tenda, aku memilih mengeluarkan sleeping bag dan berbaring di luar. Aku ingin menikmati langit, angin tanah dan juga kabut sambil pacaran lewat telepon. Oh ya… di Pos 11 ini memang ada sinyal. Meskipun putus-putus.
Maka ketika pagi datang akulah yang pertama kali melihat keindahan itu. Tepat di hadapanku terhampar panorama Kota Cirebon dan Kuningan yang tak bisa kulukiskan dengan kata-kata. Semuanya terlihat. Lautnya, pantainya dan bahkan situ patok pun terlihat jelas.

Ketika menengok ke kanan, gunung Slamet menjulang dengan begitu megahnya. Di belakangnya terlihat gunung Sindoro dan gunung Sumbing yang masih dibalut warna oranye. Dan ketika menengok ke kiri, Gunung Palimanan seperti malu-malu bersembunyi di balik kabut.

Akhirnya pukul 7 kami memulai start ke puncak. Sepanjang perjalanan edelweiss banyak mendominasi meskipun belum berbunga. Sejam mendaki akhirnya aku bisa berdiri di titik tertinggi di jawa barat! Kawah Ceremai yang cukup besar terlihat tidak beraktivitas. Inilah klimaks dari perjuanganku.

Di puncak kami makan besar. Sayur, telur, kerupuk, tehu, tempe, ikan asin dan sambel menjadi menu kami pagi itu. Meskipun rasanya aneh karena dimasak asal-asalan, kami benar-benar menikmati. Dahsyat kawan.

Pukul 11 kami turun dari puncak. Kukira akan lebih mudah, ternyata tidak. Hujan deras mengguyur dari Pangalap sampai Condang Amis. Hampir 3 jam kami berjalan ditemani hujan. Entah sudah berapa kali aku terpeleset. Dan sialnya persediaan air kami sudah habis. Aku sendiri sudah benar-benar dehidrasi. Terpaksa aku menjilati setiap dedaunan yang basah oleh air hujan. Untung saja di condang amis aku berhasil meneguk air hujan yang ditampung dengan botol yang kotor sekali. Air hujan rasa tanah, kawan. Kalian berminat??

Ketika turun kami tidak lagi lewat linggasana. Kami memilih lewat jalur resmi agar kami tahu jalur Leuweung Datar dan Cibunar. Namun ketika sampai pos pendaftaran, seorang penjaga menanyakan karcis kami. Dengan terpaksa kami berbohong dengan mengatakan bahwa kami lewat jalur Palutungan dan tidak mendapatkan tiket. Sialnya penjaga itu malah menyuruh kami membayar tiket. Jadilah kami naik gunung seperti naik angkot. Naik dulu baru bayar.

Itulah sepenggal ceritaku minggu ini. Berpetualang bersama kawan-kawan mapala Gunati yang sangat mengerti arti persahabatan. Esoknya kami harus bertolak ke Jakarta. Dan lagi-lagi aku memilih kabur ketika pak kondektur datang. Maka bolak-balik Cirebon Jakarta aku hanya membayar Rp 5000 saja.




bersantai sejenak di puncak

Kamis, 19 Maret 2009

Catatan Akhir Pekan: Rumah Dunia



Apakah kalian tahu jiwa sang pengelana?
Mengejar bayangannya hingga ke tempat tanpa nama
Menari di antara kegelisahan di jalan tak berujung


Aku tak tahu apakah ini pantas disebut sebagai sebuah kegilaan. Itu kalian sendiri yang menilai. Bagiku ini hanyalah obsesi kecil dari jiwaku yang gelisah dan selalu haus akan sesuatu yang baru. Ide itu telahir begitu saja. Tak tahu kapan ia muncul di otakku. Yang jelas aku hanya ingin pergi ke Rumah Dunia di Serang dengan bersepeda. Awalnya banyak yang tidak percaya dengan rencanaku ini. Namun aku tetap konsisten dengan apa yang kuinginkan. Sebab itulah eksistensi bung.

Hari itu Sabtu 14 Maret 2009 aku mengayuh sepeda butut milik seorang temanku dengan semangat membara. Dari rumahku di daerah Ciledug aku menembus belantara kota Tangerang sejak pukul 06.00 pagi. Selain menghindari terik matahari yang membakar aku juga ingin menikmati denyut kotaku bersama golongan manusia lainnya. Pedagang, orang kantoran, sopir angkutan dan tentu saja “pekerja sosial’ di perempatan.
Sampai Kb. Nanas, perjalananku masih aman dan nyaman. Rasa optimis pun masih menguasai jiwaku. Maklum baru kukayuh sepedaku sekitar setengah jam.

Sampai di Jatake, semangatku mulai merosot. Penyebabnya adalah aku hampir saja disenggol truk senewen yang sopirnya seperti sudah menahan buang air sehari semalam dan ingin segera mencari toilet. Kuhela nafas dengan begitu berat. Kejadian seperti ini kuyakin bakal terjadi lagi nanti. Mengingat sepanjang Jl. Raya Serang yang akan kulalui banyak sopir-sopir truk dan bus yang merasa dirinya sebagai Michel Schumacher saja. Debu dan sopir-sopir sialan itu hampir mengubur semangat petualanganku.

Di Sebuah pom bensin di Cikupa, aku benar-benar hampir putus asa. Sudah hampir dua jam bersepeda tapi bahkan belum sampai setengah perjalanan. Ingin rasanya aku mengurungkan niatku ini. Namun, tiba-tiba bayangan wajahnya berkelebat begitu saja. Gadisku. Ia memang menjadi motivatorku. Mengingat wajah teduhnya hatiku kembali bergelora. Semangat yang berserakan itu kembali kupunguti dan kurangkai menjadi tekad membaja. Aku sudah memulainya, maka pantang bagiku untuk mengakhirinya dengan tidak terhormat. Itulah jiwa lelaki.

Setelah itu aku memang seperti diatas angin. Entah mengapa aku merasa setiap orang tersenyum dan memberi semangat padaku. Jika kalian mau tahu, itulah kekuatan cinta, kawan. Setiap ada turunan yang membuat sepedaku melaju dengan sendirinya, kulepas topiku agar angin membelai rambutku dan dengan pede-nya kuteriakan kata sayang dan cinta untuknya. Ah...norak sekali. Tapi begitulah, baru teringat wajahnya saja aku sudah berani berteriak melawan bisingnya kendaraan apalagi jika bertemu dengannya?

Di Balaraja aku kembali beristirahat. Sejauh ini perjalananku lancar-lancar saja. Semakin dekat, bisikku dalam hati. Akhirnya tepat pukul 11 siang aku berhasil mendarat di bumi Daar El- Qolam. Ah...betapa rindunya aku dengan almamaterku ini. Wajahnya memang sudah banyak berubah, namun ruhnya tetap kurasakan seperti dulu. Begitu religius ketika waktu sholat dan sangat duniawi selepas itu. Kalian tentu paham maksudku.

Keesokan harinya aku segera bergegas. Waktu semalam bagiku rasanya sudah cukup untuk melepas rinduku pada pondok ini. Jam 6 pagi aku mulai bergerak ke barat. Ke kota Serang tepatnya. Dalam perjalanan ke-2 ini lagi-lagi musuhku adalah truk-truk dan bus-bus besar. Sebagai pengguna sepeda tentu saja aku sadar diri dengan mengambil jalan sepinggir mungkin. Namun truk-truk brengsek itu masih saja mengklaksonku tanpa perasaan. Ah...begitu sensitifnya mereka dengan sepeda.

Tak terasa akhirnya aku tiba di Pasar Ciruas. Dengan sigap kuparkir sepedaku dengan sedikit pesan kepada seorang penjual mie ayam. “Nitip bentar ya, mas!” Tujuanku memang ingin mencari sebuah toko emas di pasar itu. Bukan untuk membeli perhiasan untuk si dia tentu saja, tetapi aku ingin bertemu dengan Ferdi. Salah seorang kawanku yang kudengar bekerja di salah satu toko emas di pasar ini.

Tanpa kesulitan aku berhasil menemuinya. Dari raut wajahnya aku tahu kalau ia agak kaget juga. Apalagi melihat wajahku yang kotor dan tampak kelelahan “Makin jelek aja lo!” ujarnya. Sekitar setengah jam aku bernostalgia dengannya. Ketika mengambil sepedaku kembali, penjual mie ayam itu menyindirku sambil tertawa. “Katanya bentar doang!” Dan aku hanya tersenyum.

Perjalanan selanjutnya begitu menyenangkan. Dengan bertanya sana-sini, akhirnya sekarang aku telah berdiri di gerbang Rumah Dunia. Inilah ujung pengembaraanku minggu ini. Tinggal berpikir bagaimana kembali ke rumah saja. Di depan gerbangnya yang seperti gapura dan terlihat sederhana, aku justru termenung. Bertemu dengan sesuatu yang sudah bertahun-tahun kita inginkan rasanya aneh sekali. Hampir 10 menit aku terdiam dan tak berani melangkah masuk.

Sampai akhirnya ada seorang relawan setempat yang mempersilahkanku masuk. Melewati gapura aku terus menerus memasang senyum semanis mungkin walau kenyataannya mungkin tak telihat menyenangkan. Para relawan itu langsung menyambutku. Bertanya ini itu dan sedikit tak percaya dengan cerita perjalananku. Setelah memperhatikan kondisi tubuhku yang serba berantakan barulah mereka percaya.

Relawan Rumah Dunia sebenarnya ada banyak sekali. Namun hanya tujuh orang yang kesehariannya selalu berada di RD dan sebagian besar dari mereka masih SMA. RD adalah bentuk bakti Gola Gong dan Tias Tatanka kepada masyarakat. Konsepnya sederhana saja. RD tak jauh beda dengan sanggar kebudayaan. Di dalamnya ada pangung dan perpustakaan. Yang membedakannya, RD tidak memungut biaya apapun pada setiap acaranya. Mulai dari pementasan teater, musikalisasi puisi, kelas menulis ataupun acara lainnya.

Relawannya yang ramah membuatku cepat akrab dengan mereka. Apalagi ketika sore harinya ada kelas menulis yang dibimbing langsung oleh mas Gong. Asal tahu saja, Gola Gong adalah guruku secara tidak langsung yang telah mengajariku lewat karya-karyanya. Maka bertemu dengannya secara langsung adalah pengalaman yang sangat kunantikan sejak dulu.

Setelah mendapat izin menginap dari relawan RD, aku diajak keliling kota Serang malam harinya oleh Rozi, salah satu relawan RD. Alun-alun Serang malam hari tak jauh beda dengan kota-kota lain yang pernah kukunjungi. Ramai dan remang-remang. Kami hanya menyantap Rabeg (makanan khas Serang) malam itu di kawasan Royal.

Esoknya, lagi-lagi aku memulai perjalanan pukul 6 pagi. Hanya Oki saja relawan RD yang sudah bangun di pagi itu. Dengan sangat terpaksa aku meninggalkan RD dan kawan-kawan baruku tanpa pamit. Ah.. biarlah lain kali aku memang berjanji untuk kembali ke sini dengan si dia.

Wajah Serang Timur pagi hari tak ubahnya seperti kota lain. Truk dan bus sudah berkeliaran menguasai jalanan. Di depan SMA 1 Ciruas aku berhenti. Kudengar seorang kawanku yang bernama Halili tak jauh rumahnya dari sekolah ini. Selain ingin sekedar say hello, jujur saja aku ingin numpang makan. Tak sulit ternyata mencari rumahnya. Dan ketika melihat seorang pemuda yang dibanjiri keringat di atas sadel sepeda di depan rumahnya, ia tampak kaget. Tamu macam apa yang bertandang sepagi ini dengan naik sepeda? Begitu pasti pikirnya.

Tak lama setelah numpang sarapan, aku bergegas melanjutkan perjalanan ke timur. Di daerah Kragilan, sebuah truk kontainer menyentuhku dengan lembut. Sepedaku oleng dan tepat menuju ke arah selokan. Untung saja sepersekian detik sebelumnya aku berhasil melompat dari sepedaku. Maka hanya sepedaku lah yang menabrak sebuah pohon tak bersalah. Tentu saja aku mengumpat truk sialan itu dengan sedikit emosi. Tapi sepertinya truk itu bahkan tidak melihat seorangpun yang naik sepeda di depannya tadi. Kurang ajar betul.!

Tiga setengah jam sudah aku bersepeda. Kutuntun sepedaku di jalanan perumahan Tigaraksa yang gersang dan berbatu. Tak sanggup lagi aku mengayuhnya. Ini bukan masalah semangat kawan, ini murni masalah tenaga. Ya...tenagaku rasanya sudah sangat terkuras. Maka disinilah aku sekarang, memutuskan untuk naik kereta dari stasiun Tigaraksa sampai Serpong. Setelah menimbang-nimbang, rasanya aku bisa mati lemas jika kupaksakan mengayuh sepeda menyusuri Jl. Raya Serang yang panas dan dipenuhi truk-truk gila itu selama 7 jam. Jika naik kereta setidaknya aku hanya perlu bersepeda 4 jam setengah+ 1 jam naik kereta.

Itulah sepenggal perubahan kecilku minggu ini kawan. Mencari hal-hal baru demi memuaskan dahagaku akan petulangan. Dari ekspedisiku itulah aku banyak belajar tentang kehidupan. Membuka wawasanku bahwa ternyata di daerah Cisoka masih dengan mudah kita temukan sapi, kerbau ataupun kambing yang berkeliaran bebas di sawah, kebun ataupun halaman rumah. Bahkan terkadang kendaraan harus mengalah untuk memberikan kesempatan pada sekelompok kambing egois yang ingin menyeberang. Sungguh aku tak pernah tahu sebelumnya bahwa masih ada daerah Tangerang yang seperti itu.
Maka inilah laboratorium kehidupan itu. Mendengarkan sepenggal kisah menarik dari seorang gadis cilik yang sudah naik turun kereta sejak usia belia demi mengumpulkan rupiah dari nasi bungkus yang dijualnya. Ah...lagi lagi aku hanya mampu tersenyum pahit.

Thanks to mojang Bandung yang selalu setia mendukung semua rencana gilaku. Jangan bosen2 nemenin bocah badung ini ya.

Kamis, 26 Februari 2009

Kepunahan Intelektual Anak Negeri

Sumber: www.agatestudio.com

Anak adalah aset bangsa, agama, dan tentu saja setiap orang tua. Sebab di tangan anak-anaklah terpantul masa depan umat manusia. Maka barang siapa yang mewariskan ilmu dan pengalamannya kepada sang anak, ialah pahlawan kehidupan. Sebaliknya yang bermain-main dalam mendidik buah hatinya sesungguhnya ia tengah berdiri bibir jurang.

Anak dan pendidikan adalah dua buah kata yang tidak bisa dipisahkan. Saling membutuhkan dan saling mempengaruhi. Saling menjaga. Semakin lebar jengkal tanah ilmu yang dilahap oleh seorang anak maka peluangnya untuk menjadi sampah masyarakat akan semakin menipis. Oleh karena itu,pendidikan seyogyanya menjadi menu utama. Tak hanya pendidikan formal yang dikomandoi oleh seorang guru namun juga pendidikan nonformal lewat tangan lembut ayah dan ibunda.

Namun yang terjadi di negeri ini berbalik 180 derajat dari apa yang dikumandangkan oleh para ahli anak diseluruh penjuru dunia. Anak dan pendidikan terpisah begitu jauh seakan tak ada celah untuk bersua. Yang marak menghiasi media-media massa adalah kasus kekerasan terhadap anak, trafficking, mahalnya biaya pendidikan, pekerja dibawah umur hingga gedung sekolah yang semakin menyalahi aturan dasar arsitektur karena dimakan usia. Tak jarang kita menyaksikan anak-anak bermental baja yang harus rela menempati kelas-kelas darurat demi menaklukkan rimba pengetahuan yang begitu kompeks.

Hati siapa yang tak akan menangis menyaksikan bocah-bocah belia mengais rupiah demi rupiah di jalan-jalan ibukoa.Bukankah saat itu adalah waktu mereka bermain dan merasakan hangatnya pelukan sang ibu? Ke manakah para punggawa negeri ini ketika keterbatasan ekonomi menjadi alasan untuk bercerai dari gemerlapnya dunia pendidikan? Memang banyak yang peduli, namun lebih banyak lagi yang menutup mata dan telinga menyaksikan elegi di tanah subur ini.

Padahal bangsa ini butuh regenerasi. Kaum tua sudah saatnya duduk menikmati hasil perjuangannya sambil memberi arahan bagi penerusnya. Namun apalah daya prospek anak-anak Indonesia begitu muram. Kemanakah ibu pertiwi akan dibawa ke depan?

Inilah tugas kita sebagai manusia. Mempersiapkan bibit-bibit unggul di masa depan bukan hanya tugas orang tua dan guru, namun juga setiap jiwa yang masih mempunyai nurani. Masa kita sekarang akan sangat berbeda dengan masa yang akan dihadapi oleh generasi penerus kita. Seleksi alam akan semakin menerjang. Realita sejarah membuktikan generasi yang tumpul hanya akan menumbuhkan komunitas yang tertindas.

Inilah waktu yang tepat untuk bergerak. Membeberkan fakta hanya akan menambah duka dan derita. Bukan lagi menjadi rahasia tentang kelas yang roboh ataupun janji pejabat tentang sekolah gratis. Memang terlaksana di kota-kota besar tentang digulirkanya sekolah gratis. Namun semua itu hanya sebatas wacana di daerah-daerah terpencil. Bukankah Indonesia terdiri dari belasan ribu pulau? Bukan hanya Jakarta dan sekitarnya.

Tak perlu lagi ada perdebatan tentang apa yang harus dilakukan. Entah program subsidi silang ataupun dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Langkah apapun harus segera diambil. Sebab,anak-anak Indonesia tak lagi sanggup menunggu kepunahan intelektual yang mengintainya.