Kamis, 15 Maret 2012

Anda Tak Cukup Kaya..!!


Pagi ini diantara semrawut kemacetan Jakarta, saya melihat seorang gadis cantik mengendarai mobil sendirian. Mobil berkapasitas 8 orang itu tampak kosong melompong. Hanya sang gadis manis yang terlihat asik mendengarkan musik dibelakang kemudi. Saat mengalihkan pandangan, saya menyaksikan pemandangan yang sama. Mobil-mobil kosong dengan hanya satu atau dua orang penumpang saja.
Bagi saya, gadis itu hanyalah simbol. Simbol dari kesenjangan ekonomi yang terjadi di negri ini. Meski Badan Pusat Statistik (BPS) mengklaim pertumbuhan ekonomi kita mencapai 6%, saya tidak percaya. Pertumbuhan yang mana? Toh nyatanya para petani masih sulit membeli beras. Sekolah masih menjadi mimpi bagi sebagian anak-anak. Dan generasi muda kita masih bingung mencari kerja.
Sebagai anak muda yang setiap hari berkutat dalam aktivitas ibukota, macet tentu menjadi hal biasa. Saya tidak ingin mengkritik pemerintah karena mereka sudah jelas salah. Saya ingin sedikit menggelitik lewat gadis manis yang saya temui hari ini.
Jujur saja, saya agak kesal dengan perilaku orang-orang yang mengendarai mobil sendirian. Volume kendaraan di ibukota yang melonjak hingga 12 juta saja menjadi masalah. Apalagi mengendarai mobil sendiri. Mari kita berfikir sederhana. Jika rata-rata lebar jalan di Jakarta adalah 15 meter dan lebar mobil adalah 3 meter, maka hanya 4 mobil yang bisa melaju bersamaan. Jika setiap satu mobil hanya berisi 1 orang, artinya 4 orang itulah yang menguasai lebar jalanan. Berbeda dengan motor yang lebarnya hanya 1 meter. Pun jika diisi hanya satu penumpang, masih ada 10-12 orang yang bisa melewati jalan tersebut.
Saya menyebut orang-orang yang mengendarai mobil sendirian sebagai orang egois. Mereka menguasai jalanan yang lebar hanya untuk mereka sendiri. Bagi saya, merekalah biang kemacetan ibukota. Jika hanya pergi sendiri, mengapa mereka harus menggunakan mobil? Mengapa tidak naik motor atau angkutan umum saja??..
Baiklah, mungkin anda akan berapologi dengan kebobrokan transportasi kita. Hal ini memang menjadi masalah tersendiri. Infrastuktur transportasi kita dimana angkot yang sering ngetem, busway yang suka terlambat dan kereta yang penuh sesak, memaksa orang naik angkutan umum tentu bukan pilihan yang bijak. Namun mengendarai mobil sendirian tentu bukan jawabannya.
Kebijakan 3 in 1 di beberapa jalan protokol di Jakarta rasanya belum menjadi solusi. Selain membuka lapangan pekerjaan untuk menjadi joki, 3 in 1 nyaris tidak berpengaruh bagi kemacetan Jakarta. Saya pikir kita harus mulai berfikir untuk mengurangi pemakaian kendaraan terutama mobil, terutama lagi jika hanya pergi sendiri. Jika tidak, beberapa tahun lagi dengan penambahan volume kendaraan yang semakin masif, percayalah jam 1 malam pun juga akan macet.
Selain menyebabkan kemacetan, penggunaan mobil juga boros BBM. Dengan “Si Supri”-motor honda kebanggaan saya-, bensin 2 liter cukup untuk keliling Jakarta. Berapa yang dibutuhkan mobil anda untuk keliling Jakarta? Artinya, anda yang menggunakan mobil dan boros BBM turut berkontribusi pada ekslorasi besar-besaran minyak mentah yang artinya turut berkontirbusi pada pencemaran lingkungan dan pengrusakan bumi.
Mungkin anda menyebut saya sebagai orang yang iri. Tak munafik, sebagai manusia biasa saya tentu punya rasa iri. Namun kekesalan saya pada para pengguna mobil egois telah mengalahkan rasa iri saya.
Untuk itu, saya terpikirkan sebuah ide yang saya sebut sebagai “pajak subsidi silang”. Ini adalah sebuah kebijakan untuk menaikkan pajak bagi para pengendara mobil pribadi. Caranya bisa dengan menaikkan tarif tol beberapa kali lipat, menaikkan harga BBM khusus untuk mobil dan menaikkan tarif parkir mobil. Hasilnya bisa digunakan untuk membangun infrastuktur transportasi ataupun mensubsudi BBM bagi rakyat miskin yang katanya akan naik tahun ini.
Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Barrack Obama dalam pidatonya pada 25 Januari 2012 dihadapan kongres AS mengusulkan kebijakan “pajak bagi orang kaya”. Artinya, untuk membiyayai defisit anggaran pemerintahnya, Obama bermaksud menaikkan pajak bagi orang-orang kaya dan menggunakannya untuk kepentingan publik.
Dengan menaikkan pajak bagi pemilik mobil, setidaknya dua keuntungan yang kita dapat. Pertama, menurunkan penggunanaan mobil pribadi yang artinya mengurangi kemacetan dan konsumsi BBM. Kedua, hasil dari kenaikan pajak ini bisa digunakan untuk membangun infrastuktur transportasi kita agar lebih baik.
Jika kebijakan ini benar-benar terlaksana, percayalah para pengguna mobil pribadi akan berteriak-teriak tidak setuju. “kasiahan yang bawa mobil donk?” begitulah mungkin rekasi yang timbul. Buat saya sederhana, jika anda tidak mampu membayar pajak-pajak yang tinggi bagi para pemilik mobil pribadi, artinya anda tak cukup kaya..!!.
Saya melihat, selama ini fungsi mobil sudah berubah dari alat transportasi menjadi simbol status sosial. Maka jika anda ingin konsisten dengan status sosial sebagai pemilik mobil, konsekuensi untuk membayar cost lebih mahal harus anda patuhi. Jika tidak, artinya anda tidak cukup kaya untuk punya mobil . Apalagi jika mobil yang anda gunakan itu adalah mobil orang tua. Yes,.you’re really not enough rich..!!
Saya kenal dengan seseorang yang jika dilihat dari penampilannya, anda tidak akan percaya jika ia bergaji puluhan juta. Hidupnya sederhana. Sehari-hari, ia mengandalkan sepeda ataupun motor vespanya untuk berangkat ke tempat kerja. Mobil hanya digunakan sesekali jika pergi bersama keluarga. Bagi saya, ia lebih “kaya” daripada orang yang punya Mercy lima sekalipun.
Cara semacam ini sudah dipraktekkan di Amerika. Untuk mengurangi konsumsi rokok, walikota New York Michael Bloomberg menaikkan harga rokok hingga berkali-kali lipat. Cara ini cukup berhasil. Meski awalnya kontroversial, toh pada akhirnya semua berjalan seperti biasa.
Saya sengaja membuat tulisan ini agak provokatif. Bukan agar anda menyetujuinya, tapi supaya anda memahaminya. So,,silahkan tuangkan ide-ide kreatif kalian anak muda..!!!!

5 komentar:

  1. good idea..
    luar biasa pemikiran anda bung....
    lalu bagaimana supaya analogi berpikir anda bisa terealisasikan..tanpa ada orng yg mndukung anda..anda tidak bisa berjalan sendiri

    BalasHapus
  2. yah..dengan menulis dan menyebarkan ide ini saya anggap sebagai bagian dari perubahan,,saya sih berharap jika ada 1000 oraang yang melihat tulisan ini mudah2an 500 diantaranya mau baca. Dari 500 yang baca mudah2an ada 200 yg baca ampe abis. dari 200 yang baca ampe abis mudah2an minimal ada 50 oraang yang mengerti,,dari 50 orang yang ngerti mudah2an ada 5 orang yang mengamalkan,,wah,,itu udah satu kemajuan tersendiri..hehe

    BalasHapus
  3. Rezza Aji Pratama sori baru baca tulisannya. Gw suka ide lo, dan itu dah sering bgt terngiang di otak gw. Tapi gw sebagai pengguna kendaraan umum yang setia (hahahaha) mengusulkan gak cuma mobil yang diadakan pajak silang, tapi MOTOR jg musti dikasih pajak silang. Biar gak makin banyak org yang pake motor gara2 gampang banget hari gini org nyicil motor. Kenapa? karena motor makin lama makin menggila, selip2 karena merasa dirinya langsing dan kecil, tapi motor kadang gak bisa tertib soalnya kek td gw blg merasa dirinya kecil.Jadi klo berkumpul tetep aja kan motor makin lama makin kayak mobil. Jadi gw dukung NAIKAN PAJAK SILANG KENDARAAN! hahahahaha

    - nisa_32 (kawan lama) _

    BalasHapus