Minggu, 03 Februari 2013

Mencumbu Kabut Merbabu (Bagian II : Habis)

si kembar Sindoro-Sumbing dari Pos II..

Summit Attack

Pagi menjelang. Di sebelah barat tampak si kembar Sindoro-Sumbing dengan gagahnya. Pagi di gunung memang selalu menyenangkan, meski selalu dilalui dengan rutinitas yang hampir sama. Ngopi, bikin sarapan, foto-foto narsis sambil membicarakan angin kencang semalam. Saya seperti biasa, sangat menyukai memasak di pagi hari. Meskipun hanya sekedar menggoreng roti ataupun membuat teh dan kopi.

Foto keluarga di Pos II...

Pagi itu kami masih bingung dengan rencana selanjutnya. Apakah tetap dengan rencana awal: muncak membawa segenap perabotan lenong lantas turun lewat Selo, atau ada opsi lain. Sementara kawan-kawan mempercayakan keputusan kepada saya, maka saya pun silaturahmi kepada para tetangga sebelum mengambil keputusan.

Soulmate Misbah & Uchup...

Dari hasil obrolan dengan para pendaki lain, saya dapat kesimpulan tidak ada satupun pendaki yang berani lewat Selo saat ini. Cuaca yang cukup ekstrem membuat para pendaki harus membuat keputusan cerdas. Saat itu, cuaca di Merbabu memang sedikit banyak dapat diprediksi. Cerah dari pagi hingga jam 13.00, lalu kemudian hujan akan terus turun dan berpotensi menjadi badai semakin malam. Turun lewat Selo dengan jalur savana yang terbuka di sore hari sangat berpotensi dicumbu badai.

Jalur pendakian menuju Pos III
Sebelum Pos III

Pada akhirnya, kami pun memutuskan untuk summit attack dan turun kembali lewat Wekas. Persiapan segera dilakukan. Kami hanya membawa bekal berupa roti dan biskuit, air secukupnya, serta trangia untuk jaga-jaga jika diperjalanan tiba-tiba ngidam kopi.

Bayu, dengan kondisinya yang tidak memungkinkan untuk summit attack memutuskan untuk menunggu di tenda. Sekitar pukul 07.30, saya, Misbah dan Uchup pun melangkahkan kaki menuju puncak. Kami rombongan ke-2 yang summit attack hari itu. Sementara rombongan pertama sudah berangkat sejak dini hari demi mengejar lahirnya sang mentari.

Perjalanan awal kami lalui dengan lancar. Jalurnya tidak terlalu terjal tapi juga tidak terlalu landai. Perjalanan sempat break sejenak demi menunggu Uchup melaksanakan hajatnya di pagi hari. Sekitar 1 jam lebih kami berjalan, akhirnya kami tiba di Pos III. Disini ada aliran air yang cukup jernih. Padahal biasanya air hanya bisa ditemukan di Pos II. Kami pun segera mengganti air perbekalan kami dengan air di Pos III ini. Maklum, air di Pos II rasanya sudah tercampur belerang sehingga sangat tidak enak diminum langsung.


Pertigaan Pemancar-Puncak


Di pertigaan antara ke puncak dan pemancar kami berhenti cukup lama untuk bernarsis ria. Pada awalnya kami mengira sudah cukup dekat dengan puncak. Rupanya setelah berjalan agak jauh, saya menemukan plang yang bertuliskan:
Puncak Kentheng Songo à 1,6 KM
Pos Helipad à 0,2 KM


Masih jauh ciiiinggg....

Melihat hal itu, saya segera berteriak kepada Uchup dan Misbah untuk bergegas. Jika tidak ingin berhujan-hujan ria, kami harus sudah sampai kembali di Pos II sebelum jam 13.00. Sebelum mencapai pos Helipad, kami dihadapkan pada tanjakan yang cukup terjal. Entah apa rasanya jika bawa keril melewati jalur ini. Di Pos Helipad inilah kami mulai membuka perbekalan kami. Roti tawar berselimut susu coklat. Lumayan mengganjal perut.


Asik kali ya guling2 disitu...


Bukan gw-nya kok yang keren..tapi pemandangannya..hehe

Lepas dari Helipad, jalur mulai sering dikunjungi kabut. Perjalanan ke puncak ini seringkali menipu. Jalurnya naik turun. Beberapa kami kami tertipu karena memperkirakan sebuah spot sebagai puncak, nyatanya hanyalah bukit.


Melipiiiirrr.....

Tak jauh dari pertigaan Puncak Syarif-Puncak Kentheng Songo, kami bertemu dengan para pendaki lain yang hendak turun. Atas saran dari mereka, kami harus sudah turun dari puncak sebelum jam 12, jika tidak ingin diguyur hujan atau bahkan badai. Dengan keputusan bersama, akhirnya kami pun memilih untuk mengunjungi Puncak Kentheng Songo saja.

Merbabu yang memiliki 3 puncak—Syarif, Kentheng Songo dan Triangulasi—memang benar-benar luar biasa. Jalan setapak yang terkadang berselimut kabut dengan dominasi warna hijau di sekeliling menimbulkan sensasi tersendiri. Perpaduan antara putihnya kabut, hijaunya dedaunan, birunya langit serta coklatnya pohon dan tanah membuat perjalanan kami sangat menyenangkan.

Setelah melahap tanjakan yang cukup menguras tenaga, akhirnya puncak Kentheng Songo berhasil kami rengkuh. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 10.30 saat itu. Plang penanda puncak sekaligus batu-batu berlubang tak ayal menjadi objek nasis kami. Saat itu, kami adalah satu-satu rombongan yang ada di puncak.


Puncak yang dikepung kabut

Tak lebih dari 20 menit, kami segera turun. Seluruh penjuru mata angin sudah dikepung warna putih. Sayang memang. Saat mengedarkan pandangan ke sekeliling keindahan alam Merbabu terhalang oleh kabut.

Perjalanan turun jelas lebih menyenangkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Di sebelah sana awan hitam mulai berkumpul siap untuk bekerja. Kami semakin bergegas. Tak jauh dari pertigaan puncak ke puncak Syarif, kami bertemu dengan rombongan besar yang baru akan menuju puncak. Tak kurang dari 23 orang yang tergabung. Kami berani memprediksi, mereka pasti akan kehujanan saat turun.

Sebelum mencapai pos Helipad, kami tergoda untuk ngopi sejenak. Jadilah trangia dan spirtus keluar dari persembunyiannya. Ditemani gulungan Samsoe dan segelas kopi, kamipun bercanda ditengah hawa dingin yang mengepung. Saat sedang asyik menggilir segelas kopi, 3 orang pendaki melewati kami lengkap dengan keril besar mereka.

“Mau turun lewat Selo mas?,” iseng saya bertanya.
“Enggak, lewat Wekas juga,” jawab salah seorang dari mereka pendek.

Seperti diburu waktu mereka pun bergegas melanjutkan perjalanan. Tinggallah kami yang geleng-geleng kepala keheranan. Mau turun lewat Wekas juga tapi tetap membawa segenap perabotan lenong ke puncak? Hanya orang saktilah yang mampu melakukannya.

Sekitar pukul 13.00 kami pun tiba kembali di tenda kami yang nyaman. Dan benar saja. Tak lama kemudian hujan mengguyur dengan derasnya. Entah bagaimana nasib para pendaki yang tadi kami temui saat turun. Yang pasti hujan akan mengguyur mereka dengan dahsyatnya.

Perjalanan dari puncak tadi membuat kami kelaparan. Uchup yang dalam perjalanan kali ini kami daulat sebagai koki utama segera melakukan eksperimennya. Dan hasilnya, berupa nasi goreng kornet dengan sosis dan bakso goreng. Yang lebih istimewa, nasi goreng ini pedasnya luar biasa. Tak ayal sempat memakan beberapa orang korban yang langsung sibuk mencari semak-semak pasca menyantap nasi goreng ini.

Kami menunggu dengan bosan. Hujan tak kunjung reda, sementara kami harus segera turun. Demi membunuh waktu saya dan Misbah yang memang satu tenda memutuskan untuk bermain kartu. Lantunan suara merdu dari Bossanova menambah syahdu siang itu. Hujan, di dalam tenda, alunan jazz romantis, aaaahhh….bisakah si Misbah ini dituker aja dengan seorang wanitaaa??

Sekitar pukul 15.00 rombongan dari puncak turun. Tubuh mereka basah kuyup tanpa menyisakan satu celahpun yang kering. Saya segera berinisiatif membuatkan kopi. Disinilah bencana terjadi. Kondisi gerimis memang memaksa kami untuk masak di vestibulate tenda. Kalian tahu sendiri, vestibulate si oranye lafuma kecil sekali. Perpaduan antara besarnya api dari trangia serta sempitnya vestibulate Lafuma akhirnya membakar tenda kami. Jilatan api itu berhasil melubangi tenda dengan diameter sekitar 2 cm. Ya sudahlah terima nasib saja. Hikss…!

Waktu semakin sore tapi hujan justru semakin deras. Akhirnya kami memutuskan untuk packing ditengaj hujan. Tenda jelas menjadi kendala utama dalam packing seperti ini. Karena sayalah yang bertugas membawa 2 tenda ini, saya menjadi orang terakhir yang packing. Jika sebelumnya di Manglayang saya harus merasakan nikmatnya mendirikan tenda ditengah hujan, kini saya harus merasakan membongkar sekaligus packing tenda ditemani rintik air hujan.

Sulit juga ternyata. Packing menjadi tidak maksimal hingga memakan banyak ruang. Keril saya sudah sangat tidak seimbang. Bahkan fly sheet tenda justru tidak muat akibat packing asal-asalan. Karena malas membongkar lagi ditengah hujan begini, fly sheet ini pun akhirnya saya tenteng saja.

Perjalanan turun tak juga membuat hujan semakin ramah. Bahkan semakin menjadi. Angin menderu-deru. Suaranya yang menghantam ranting dan dedaunan membuat merinding juga. Sekitar 1,5 jam turun kami harus berjuang dengan guyuran hujan, jalur yang licin dan bahkan menjadi aliran air serta angin yang bertiup kencang.

Akhirnya perjuangan kami usai sudah. Malam menjelang saat kami tiba kembali di basecame Wekas. Disinilah kami membersihkan badan dan numpang bermalam. Disini pulalah kami disuguhi nasi, sayur dan telur dadar yang rasanya sumpah nikmat alhamdulillah. Saya bahkan sampai nambah beberapa kali. Setelah perut kenyang dan membersihkan badan. Kami pun terlelap. Namun petualangan kami tak hanya berhenti sampai sini. Esok kami akan bertransformasi dari seorang hiker menjadi traveller. See you Jogjaaaa.


Pulaaaannggg
Credit foto : Uchup & Misbah

0 komentar:

Posting Komentar