Kamis, 15 Maret 2012

Anda Tak Cukup Kaya..!!


Pagi ini diantara semrawut kemacetan Jakarta, saya melihat seorang gadis cantik mengendarai mobil sendirian. Mobil berkapasitas 8 orang itu tampak kosong melompong. Hanya sang gadis manis yang terlihat asik mendengarkan musik dibelakang kemudi. Saat mengalihkan pandangan, saya menyaksikan pemandangan yang sama. Mobil-mobil kosong dengan hanya satu atau dua orang penumpang saja.
Bagi saya, gadis itu hanyalah simbol. Simbol dari kesenjangan ekonomi yang terjadi di negri ini. Meski Badan Pusat Statistik (BPS) mengklaim pertumbuhan ekonomi kita mencapai 6%, saya tidak percaya. Pertumbuhan yang mana? Toh nyatanya para petani masih sulit membeli beras. Sekolah masih menjadi mimpi bagi sebagian anak-anak. Dan generasi muda kita masih bingung mencari kerja.
Sebagai anak muda yang setiap hari berkutat dalam aktivitas ibukota, macet tentu menjadi hal biasa. Saya tidak ingin mengkritik pemerintah karena mereka sudah jelas salah. Saya ingin sedikit menggelitik lewat gadis manis yang saya temui hari ini.
Jujur saja, saya agak kesal dengan perilaku orang-orang yang mengendarai mobil sendirian. Volume kendaraan di ibukota yang melonjak hingga 12 juta saja menjadi masalah. Apalagi mengendarai mobil sendiri. Mari kita berfikir sederhana. Jika rata-rata lebar jalan di Jakarta adalah 15 meter dan lebar mobil adalah 3 meter, maka hanya 4 mobil yang bisa melaju bersamaan. Jika setiap satu mobil hanya berisi 1 orang, artinya 4 orang itulah yang menguasai lebar jalanan. Berbeda dengan motor yang lebarnya hanya 1 meter. Pun jika diisi hanya satu penumpang, masih ada 10-12 orang yang bisa melewati jalan tersebut.
Saya menyebut orang-orang yang mengendarai mobil sendirian sebagai orang egois. Mereka menguasai jalanan yang lebar hanya untuk mereka sendiri. Bagi saya, merekalah biang kemacetan ibukota. Jika hanya pergi sendiri, mengapa mereka harus menggunakan mobil? Mengapa tidak naik motor atau angkutan umum saja??..
Baiklah, mungkin anda akan berapologi dengan kebobrokan transportasi kita. Hal ini memang menjadi masalah tersendiri. Infrastuktur transportasi kita dimana angkot yang sering ngetem, busway yang suka terlambat dan kereta yang penuh sesak, memaksa orang naik angkutan umum tentu bukan pilihan yang bijak. Namun mengendarai mobil sendirian tentu bukan jawabannya.
Kebijakan 3 in 1 di beberapa jalan protokol di Jakarta rasanya belum menjadi solusi. Selain membuka lapangan pekerjaan untuk menjadi joki, 3 in 1 nyaris tidak berpengaruh bagi kemacetan Jakarta. Saya pikir kita harus mulai berfikir untuk mengurangi pemakaian kendaraan terutama mobil, terutama lagi jika hanya pergi sendiri. Jika tidak, beberapa tahun lagi dengan penambahan volume kendaraan yang semakin masif, percayalah jam 1 malam pun juga akan macet.
Selain menyebabkan kemacetan, penggunaan mobil juga boros BBM. Dengan “Si Supri”-motor honda kebanggaan saya-, bensin 2 liter cukup untuk keliling Jakarta. Berapa yang dibutuhkan mobil anda untuk keliling Jakarta? Artinya, anda yang menggunakan mobil dan boros BBM turut berkontribusi pada ekslorasi besar-besaran minyak mentah yang artinya turut berkontirbusi pada pencemaran lingkungan dan pengrusakan bumi.
Mungkin anda menyebut saya sebagai orang yang iri. Tak munafik, sebagai manusia biasa saya tentu punya rasa iri. Namun kekesalan saya pada para pengguna mobil egois telah mengalahkan rasa iri saya.
Untuk itu, saya terpikirkan sebuah ide yang saya sebut sebagai “pajak subsidi silang”. Ini adalah sebuah kebijakan untuk menaikkan pajak bagi para pengendara mobil pribadi. Caranya bisa dengan menaikkan tarif tol beberapa kali lipat, menaikkan harga BBM khusus untuk mobil dan menaikkan tarif parkir mobil. Hasilnya bisa digunakan untuk membangun infrastuktur transportasi ataupun mensubsudi BBM bagi rakyat miskin yang katanya akan naik tahun ini.
Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Barrack Obama dalam pidatonya pada 25 Januari 2012 dihadapan kongres AS mengusulkan kebijakan “pajak bagi orang kaya”. Artinya, untuk membiyayai defisit anggaran pemerintahnya, Obama bermaksud menaikkan pajak bagi orang-orang kaya dan menggunakannya untuk kepentingan publik.
Dengan menaikkan pajak bagi pemilik mobil, setidaknya dua keuntungan yang kita dapat. Pertama, menurunkan penggunanaan mobil pribadi yang artinya mengurangi kemacetan dan konsumsi BBM. Kedua, hasil dari kenaikan pajak ini bisa digunakan untuk membangun infrastuktur transportasi kita agar lebih baik.
Jika kebijakan ini benar-benar terlaksana, percayalah para pengguna mobil pribadi akan berteriak-teriak tidak setuju. “kasiahan yang bawa mobil donk?” begitulah mungkin rekasi yang timbul. Buat saya sederhana, jika anda tidak mampu membayar pajak-pajak yang tinggi bagi para pemilik mobil pribadi, artinya anda tak cukup kaya..!!.
Saya melihat, selama ini fungsi mobil sudah berubah dari alat transportasi menjadi simbol status sosial. Maka jika anda ingin konsisten dengan status sosial sebagai pemilik mobil, konsekuensi untuk membayar cost lebih mahal harus anda patuhi. Jika tidak, artinya anda tidak cukup kaya untuk punya mobil . Apalagi jika mobil yang anda gunakan itu adalah mobil orang tua. Yes,.you’re really not enough rich..!!
Saya kenal dengan seseorang yang jika dilihat dari penampilannya, anda tidak akan percaya jika ia bergaji puluhan juta. Hidupnya sederhana. Sehari-hari, ia mengandalkan sepeda ataupun motor vespanya untuk berangkat ke tempat kerja. Mobil hanya digunakan sesekali jika pergi bersama keluarga. Bagi saya, ia lebih “kaya” daripada orang yang punya Mercy lima sekalipun.
Cara semacam ini sudah dipraktekkan di Amerika. Untuk mengurangi konsumsi rokok, walikota New York Michael Bloomberg menaikkan harga rokok hingga berkali-kali lipat. Cara ini cukup berhasil. Meski awalnya kontroversial, toh pada akhirnya semua berjalan seperti biasa.
Saya sengaja membuat tulisan ini agak provokatif. Bukan agar anda menyetujuinya, tapi supaya anda memahaminya. So,,silahkan tuangkan ide-ide kreatif kalian anak muda..!!!!

Kamis, 01 Maret 2012

Mencari Damai Di Cikuray

Cikuray si kerucut. Begitulah gunung tertinggi ke-4 di Jawa Barat ini dikenal. Dengan tinggi 2818 mdpl, Cikuray menjadi salah satu pilar dari trio pegunungan Garut bersama Papandayan dan Guntur. Dilihat dari sudut manapun, Cikuray memang terlihat menjulang tegak simetris seperti kerucut. Tak heran jika si kerucut ini juga dikenal dengan jalur pendakianya yang cukup ekstrim.
Hari itu, 17 Februari 2012 aku, Eko, Barkah dan Hamdi yang dipertemukan nasib di Gunung Guntur sepakat untuk berkunjung kje Cikuray. Matahari baru saja terbit ketika kami bertemu di terminal Guntur Garut. Belum banyak aktivitas terminal pagi itu. Di sebuah masjid di belakang terminal, belasan pemuda dengan ransel-ransel besar bersenda gurau menunggu terang. Mereka adalah rombongan yang akan ke Papandayan.
Setelah mengisi perut dengan seporsi lontong kari di sekitar terminal, kami memulai perjalanan dengan menumpang angkot ke daerah Patrol. Suasana begitu sejuk dengan matahari yang masih malu-malu menyinari bumi. Garut merupakan kota yang dibentengi gunung-gunung. Tak heran jika paru-paru ku merasa gembira diisi udara kota ini.
Kami sampai Patrol disaat para pelajar hendak berangkat ke sekolah. Gadis-gadis manis dengan seragam abu-abu putih berjalan anggun sambil bercanda. Beberapa dari mereka menarik perhatianku.Hiburan di pagi itu menambah semangat kami.
Patrol merupakan desa terakhir sebelum mencapai pos Pemancar yang menjadi gerbang Cikuray. Dari Patrol, biasanya para pendaki menyewa mobil pick up ataupun ojek dengan ongkos sekitar Rp 30.000 untuk mencapai Pemancar. Namun, atas nama penghematan kami pun sepakat untuk berjalan kaki saja menuju Pemancar.
Dari Patrol, Pemancar beberapa stasiun TV itu terlihat gagah menjulang. Ia terlihat begitu dekat. Namun semua itu menipu. Kami keluar masuk rumah penduduk, melewati hamparan sawah menghijau, menginjak ladang-ladang hingga menyusuri perkebunan teh yang masih berembun sebelum sampai di Kampung Nyampai. Kampung ini sebenarnya merupakan rumah singgah sementara bagi para pemetik teh. Lambat laun, kampung ini menjadi tempat tinggal permanen . Kampung Nyampai terlihat sepi seperti tak ada kehidupan pagi itu. Hanya gonggongan anjing yang meyakinkan kami bahwa ada kehidupan disini.
Dari sebuah Musholla di Kampung Nyampai, aku memandang Pemancar yang berwarna merah menyala. Di belakangnya, Cikuray masih berselimut kabut. Perpaduan warna hijau pepohonan dan putihnya kabut seperti memanggil kami untuk segera mendaki. Kami melanjutkan perjalanan. Hembusan angin dingin di hamparan kebun teh mengiringi langkah kami. Jarak yang terlihat dekat jelas sangat menipu. Sepanjang awal perjalanan, aku mengutuki diri karena malas olahraga. Langkah kaki yang berat, nafas yang tidak teratur jelas menjadi indikasi betapa tubuhku sudah mulai manja.
Dengan peluh menetes deras, kami sampai di Pemancar setelah dua jam lebih berjalan. Segelas kopi panas menjadi pengusir dingin pegunungan. Pemancar akan menjadi awal perjalanan kami. Disini pula, kami harus mulai mengangkut air karena tidak akan ada lagi air setelah Pemancar.
Sekitar pukul 10.00 WIB kami mulai berjalan. Kami harus melewati tanjakan curam kebun teh sebelum masuk ke kawasan hutan Cikuray. Jalur pendakian terlihat cukup jelas meski di beberapa tempat pohon-pohon tumbang turut menghalangi jalan. Tak beberapa lama setelah memasuki kawasan hutan, kami bertemu dengan rombongan pendaki dari SMA 8 Jakarta.
Jujur saja, aku cukup senang menyaksikan antusiasme anak-anak SMA itu mendaki ke Cikuray. Menikmati dinginnya angin gunung jelas lebih baik daripada menghabiskan waktu bersama dinginya AC supermarket. Di beberapa tempat, kami sempat menyingkirkan pohon-pohon tumbang yang menghalangi jalan. Untung saja kawanku Hamdi selalu membawa golok.
Semakin lama pendakian terasa makin menyulitkan. Jalur pendakian yang ekstrim tidak diimbangi dengan kekuatan fisik yang prima. Meski demikian, bayangan akan permadani awan di puncak tak menyurutkan langkah kami. Cuaca yang cukup cerah turut membantu kami dalam pendakian ini. Hutan disini tergolong rapat dengan vegetasi yang cenderung beragam.
Setelah letih berjalan, kami akhirnya tiba di puncak bayangan sekitar pukul 17.00. Hawa dingin mulai terasa menusuk tulang. Di ketinggian ini, angin meliuk-liuk memeluk kami. Masing-masing dari kami merapatkan jaket sambil menikmati segelas kopi jahe panas. Hmmm….nikmatnya. Selama perjalanan, kami bertemu dengan banyak rombongan. Nampaknya di puncak nanti keramaian Cikuray akan menyamai keramaian di mall-mall.
Setelah ngopi-ngopi dan diskusi soal trangia cola, kami melanjutkan perjalanan. Disinilah ujian yang sebenarnya untuk mencapai puncak. Dari puncak bayangan, titik tertinggi Cikuray memang menjulang tinggi menantang. Benar saja, kami harus merayap melalui jalur ini. Pohon-pohon tumbang dan akar-akar pohon menjadi ciri khas. Jalur ini mengingatkanku pada jalur pendakian Ciremei via Linggarjati. Sungguh menguras tenaga dan menciutkan mental.
Satu jam lebih kami habiskan untuk mencapai puncak. Dan lihatlah kawan,,siluet senja menyambut kami dengan ramah. Di ketinggian seperti ini, langit terlihat begitu menawan. Gradasi oranye mewarnai langit sore yang akan semakin gelap. Sering ada orang yang bertanya padaku tentang keuntungan naik gunung. Maka inilah jawabannya. Tak bisa kulukiskan dengan kata-kata karena kalian sendiri yang harus merasakannya.
Setelah sinar menghilang dan langit menjadi muram, kami bergegas mencari tempat mendirikan tenda. Dan benar saja, puncak Cikuray sudah dipenuhi oleh para pendaki. Akhirnya kami menemukan tempat terbaik setelah agak turun dari puncak. Mulailah kami membuka tenda. Si oranye Lafuma mendapat teman si oranye Triton. Ini pertama kalinya Lafuma oranye ini berpetualang denganku. Semoga kita menjadi teman baik kawan..!!
Malam itu diiringi dengan udara yang dingin menyerbu, kami memasak. Nasi sarden ditambah tempe goreng terasa begitu nikmat. Tak lupa pula kopi dan teh hangat menjadi teman kami malam itu. Bahkan nasi mentah pun terasa nikmat di gunung. Sekitar pukul 21.00 kami mulai masuk ke dalam tenda. Meski sudah memakai jaket dan sleeping bag, hawa dingin tetap saja menggigit. Wajar saja, malam itu suhu tercatat hingga 5° celcius. Tidur adalah cara terbaik kami mengusir dingin.
Keesokan harinya, sunrise memang tertutup awan. Sebagai gantinya, kami disuguhi hamparan permadani awan yang putih memukau. Di arah barat, gunung Papandayan dan kawah Kamojang terlihat jelas mengundang kami. Kota Garut terlihat seperti semut. Sementara di timur, sinar mentari berusaha mati-matian menembus hamparan awan yang bergulung-gulung. Setelah disuguhi siluet senja kemarin, kali ini kami disuguhi hamparan permadani awan yang indah menawan.
Sungguh sebuah kebanggaan berdiri disi. Perjuangan bersama kawan-kawan belasan jam kemarin terbayar lunas. Pemandangan ini bagaikan mimpi. Semua keletihan menghilang bersama hembusan angin pagi yang mengepung. Ditengah keramaian puncak pagi itu, aku merasa sendiri. Terbawa suasana seakan ini adalah surga.
Kami tidak berlama-lama di puncak. Persediaan air yang semakin menipis membuat kami harus bergegas turun. Sekitar pukul 10.00 kami mulai bersiap turun meninggalkan puncak Cikuray yang mulai tertutup kabut. Tak jauh dari puncak kami bertemu dengan rombongan pendaki Jepang bersama dengan guide-nya. Jika pukul 10.30 mereka sudah sampai puncak, pukul berapa mereka mulai mendaki?
Pertanyaan tentang pendaki Jepang itu terus membuatku penasaran. Jawabannya baru kutemukan saat kami mencapai pemancar sekitar pukul 13.30. Ternyata mereka memulai pendakian mulai pukul 08.00. What???? Aku geleng-gelang kepala saking tak percaya. Kami harus menghabiskan waktu 8 jam untuk sampai puncak. Tapi mereka hanya butuh 2 jam 30 menit..!!!
Ketakjubanku semakin menjadi saat pukul 14.00 rombongan pendaki Jepang itu turun dari puncak. Artinya, mereka hanya membutuhkan waktu 6 jam untuk pergi ke puncak Cikuray PP. Aku tidak tahu dengkul racing macam apa yang mereka gunakan. Tapi jika ada yang jual, aku ingin juga memilikinya.
Perjalanan kami belum usai. Setelah turun ke Patrol, kami pun menyempatkan mampir ke Pondok Pesantren Darul Arqom yang tak jauh dari kaki Cikuray. Rupanya, Hamdi yang berambut gondrong sebahu itu merupakan anak seorang ustadzah. Kami membersihkan diri dan makan malam di rumah Hamdi. Jamuan malam itu sungguh menggugah selera.
Di terminal Garut, aku berpisah dengan Eko dan Barkah yang langsung ke Kp. Rambutan. Aku harus ke Cileunyi dulu untuk mengejar bis jurusan Lebak Bulus. Sungguh, naik mobil elf dari Garut ke Cileunyi menjadi pengalaman buruk. Sang sopir terus saja memaksa memasukkan penumpang meski sudah melebihi kapasitas. Selama dua jam, kedua kakiku mati rasa karena terjepit tak bisa dikeluarkan.
Sekitar pukul 01.00 aku kembali ke Jakarta. Menghirup polusi udara khas ibukota dan akan menjalani rutinitas yang itu-itu saja. 2 hari di Cikuray mengajarkanku banyak hal. Perjuangan, kesabaran, keindahan dan tentu saja persahabatan. Bravo pendakian Indonesia..!!!

Rabu, 11 Januari 2012

Timur Tengah dalam Pusaran Konflik


Sumber : http://www.ezilon.com/maps/middle-east-continent-maps.html


Berbicara soal Timur Tengah (Timteng), rasanya sangat berkaitan erat dengan konflik. Bibit konflik bahkan sudah dimulai sejak sebelum era modern. Kerajaan Persia yang menjadi cikal bakal negara Iran, tercatat selalu berperang dengan tetangganya kerajaan Mesopotamia yang berada di lembah sungai Eufrat dan Tigris (Irak).
Di zaman modern, konflik terus terjadi dengan dimulainya perang Iran-Irak yang berlangsung mulai September 1980-Agustus 1988. Konflik antar dua negara ini merupakan puncak gunung es dari sengketa perbatasan di sungai Shatt AL-Arab yang berlarut-larut sejak 1957.
Perang selama 8 tahun itu telah mengubah wajah kedua negara. Tak kurang dari 1 juta jiwa melayang sementara tujuan perang tak juga tercapai. Saddam Hussein sang tiran dari negri seribu 1 malam tak juga mampu menundukkan saingannya sang pemimpin Syiah Iran, Ali Khomaeni. Begitu juga sebaliknya.
Dengan kondisi ekonomi yang terus memburuk pasca perang Irak-Iran, Saddam Hussein kemudian menginvansi Kuwait yang memicu terjadinya perang Teluk pada 2 Agustus 1990. Rendahnya harga minyak akibat over produksi Kuwait, perselisihan ladang minyak Rumela, moratorium utang yang gagal serta konflik perbatasan memicu Irak menyerang Kuwait dan menguasainya dalam waktu singkat.
Peristiwa ini telah mengejutkan dunia. Atas nama Dewan Keamanan PBB, AS dan beberapa negara Eropa menghimpun kekuatan untuk melumpuhkan tentara Irak. Pada 17 Januari 1991, pasukan koalisi resmi memulai Operasi Badai Gurun untuk mengincar titik vital kekuatan Iraq.
Meski hanya berlangsung 7 bulan (2 Agustus 1990-27 Februari 1991), perang ini cukup menyita perhatian dunia. Selan karena Iraq yang melakukan berbagai cara untuk memenangkan perang seperti membakar sumur-sumur minyak di Kuwait serta menumpahkan minyak di Teluk Persia, keterlibatan Rusia juga menarik diperhatikan. Meski menjadi sekutu Iraq, nyatanya Rusia tidak berbuat apa-apa dalam sidang PBB mamupun perang itu sendiri.
Irak kembali menjadi mata badai saat negri adidaya AS menginvansi negri itu pada Februari-Maret 2003. Dengan tujuan utama menggulingkan Saddam Hussein serta melucuti senjata pemusnah massal, AS mengerahkan kekuatan militernya untuk menginvansi negara itu.
Selain Iraq yang menjadi mata konflik, Timur Tengah juga dihinggapi pertikaian sengit antara negara-negara Arab (terutama Palestina) dengan Israel. Benih konflik berbau agama ini dimulai ketika pada 14 Mei 1948 kaum Yahudi mempoklamirkan berdirinya negara Israel di wilayah Palestina. Sehari kemudian, tentara gabungan Lebanon, Mesir, Yordania, Suriah dan Irak menyerbu Israel yang justru dimenangkan oleh Israel.
Yang paling terkenal tentu saja perang 6 hari tahun 1967 yang melibatkan negara-negara Arab dengan Israel. Dalam perang yang kelak mengubah peta perpolitikan Timur Tengah itu, Israel berhasil merebut Yerussalem Timur, Jalur Gaza, Semenanjung Sinai, Tepi Barat dan Dataran Tinggi Golan.
Dewasa ini, konflik masih saja terjadi. Bermula dari revolusi di Mesir awal 2011 dan pemberontakan di Libya, Suriah kini menjadi buah bibir. Negri diktator itu kini bahkan sudah dikeluarkan dari Liga Arab dan terancam mengalami nasib yang sama dengan Libya.
Selain Suriah, potensi konflik juga muncul dari negri Syiah Iran. Negri para Mullah itu disinyalir sedang mengembangkan senjata nuklir berbasis uranium. Sikap ofensif langsung datang dari musuh bebuyutannya AS dan Israel. Presiden Israel Shimon Peres bahkan secara terang-terangan mengancam akan menyerang Iran.
Aura konflik semakin memanas saat Menlu Iran menyatakan kesiapan negaranya menerima tantangan Israel. Yang menarik adalah apa yang dilakukan oleh dua anggota tetap DK PBB Rusia dan Cina. Kedua negara itu terlihat jelas keberpihakannya terhadap Suriah dan Iran. Baru-baru ini Rusia bahkan sudah menempatkan kapal induknya di wilayah Suriah.
Dengan kondisi seperti ini, perang bisa meletus kapan saja di Timur Tengah. Jika Israel tetap menyerang Iran dan NATO membombardir Suriah sebagaimana yang terjadi di Libya, perang besar dipastikan akan meletus. AS, Israel dan negara sekutunya akan berhadapan dengan Iran, Suriah dan Rusia. Apa yang akan terjadi pada 2012? Benarkah akan terjadi perang dunia III?
Konflik dan Ekonomi
Siapapun pasti sepakat bahwa konflik berkaitan erat dengan ekonomi. Berbicara mengenai konflik di TimTeng, maka mau tidak mau kita harus berbicang soal minyak. Sebagai gudangnya minyak terbesar di dunia, apa yang terjadi di Timur Tengah tentu mempengaruhi pergerakan harga minyak.
Minyak sempat menyentuh level tertinggi di $ 147,27 per barel pada 11 Juli 2008. Saat itu, Iran melakukan uji coba rudal-nya yang hampir saja menyulut ketegangan di Timur Tengah.
Memang jika dirunut dari sejarah, konflik tidak selalu mengangkat harga minyak. Saat perang Iran-Iraq 1980-1988 berkecamuk misalnya, harga minyak tetap stabil dikisaran $ 32. Hal ini terjadi karena saat itu Arab Saudi membanjiri pasar dunia dengan minyak murah pada 1981.
Dengan demikian, pergerakan harga minyak sesungguhnya digerakkan oleh seberapa besar produksi yang dikeluarkan. Dalam hal ini, Organization Petroleum Exporting Countries (OPEC) yang memegang kunci dari kuota produksi minyak. Jika konflik terus terjadi dan produksi minyak menurun bisa dipastikan minyak akan terus melonjak.
Dengan menjadi jantung minyak dunia, tak pelak TimTeng menjadi primadona. Tak heran AS pun sejak lama turut serta dalam perkembangan ekonomi dan politik kawasan ini. AS tak hanya berkepentingan pada minyak namun juga mata uang dollar.
Sejak perjanjian Breton Woods pasca Perang Dunia II, AS memang menjadi kekuatan utama ekonomi dunia. Dollar pun merajalela dan menjadi mata uang utama. Namun, sejak Presiden Nixon melepaskan keterikatan dollar dengan emas pada 1971, dollar seperti akan terjun bebas.
Namun, kejatuhan dollar itu tertahan saat AS berhasil memaksa negara-negara produsen minyak untuk mematok harga minyaknya terhadap dollar AS. Setelah beberapa dekade merajalela, dollar mendapatkan pesaing baru dari negara-negara Eropa yang bergabung dan menggunakan mata uang baru euro pada 1999.
Petaka datang ketika Iran dan Iraq yang menjadi eksportir minyak lebih memilih menggunakan euro ketimbang dollar AS. Bahkan pada tahun 2000, Saddam Hussein sang Presiden Iraq menuntut minyaknya seharga $ 10 miliar dikonversi dari dollar ke euro. Dengan fakta ini, tak heran jika banyak pihak yang mensinyalir bahwa invansi AS ke Iraq sesungguhnya bertujuan untuk menyelamatkan dollar.
Proyeksi 2012
Dengan potensi koonflik yang semakin memanas di akhir tahun ini, tahun 2012 sepertinya akan dilalui negara-negara di Timur-Tengah dengan harap-harap cemas. Sebagai salah satu pentolan minyak dunia, Iran memegang peranan penting. Rencana embargo yang akan dijatuhkan Eropa sebagai bagian dari sanksi nuklirnya kemungkinan akan mengerek harga minyak.
Embargo minyak ini diperkirakan akan menurunkan produksi minyak Iran dari 3,7 juta barel/hari menjadi 2,7 juta barel/hari. Banyak pengamat yang menyatakan embargo ini justru akan menjadi boomerang bagi Eropa. Bahkan OPEC pun mendesak Eropa membatalkan sanksi itu.
Krisis Eropa memaksa negara-negara dikawasan itu menggenjot industrinya dan mendapatkan minyak murah. Namun jika dilakukan embargo minyak akan meroket tinggi. Bahkan mentri perminyakan Iran, Rostam Qasemi menyatakan harga minyak akan menembus $ 250 jika Eropa terus memberikan sanksi terhadap Iran.
Satu hal lagi yang cukup menyita perhatian adalah rencana negara-negara Islam untuk menggunakan mata uang bersama yaitu dinar emas. Dalam konfrensi OKI di Kuala Lumpur tahun 2003, tercetus ide untuk mengguankan mata uang bersama. Ide itu kembali berkumandang pada tahun 2005.
Memang belum ada kepastian soal rencana tersebut. Namun, pasca runtuhnya rezim Khadafi di Libya beberapa dokumen penting menyebutkan sudah ada niat dari negara-negara Islam dan Afrika untuk beralih menggunakan mata uang bersama.
Jika rencana tersebut benar-benar di laksanakan, apa yang terjadi pada tahun 2000 saat Iraq dan Iran beralih ke euro akan terulang. Jika negara-negara Islam yang mayoritas merupakan eksportir minyak benar-benar menggunakan mata uang bersama, sinyak buruk tentu bagi dollar AS.

Krisis Eropa & Potensi Pasar Indonesia


Sumber: http://crackerjackfinance.com/


Dua tahun sudah gonjang-ganjing krisis Eropa berkecamuk. Berbagai upaya mulai dari pengetatan anggaran hingga pinjaman dana bailout dilakukan. Namun Yunani, Italia, Portugal, Spanyol, Irlandia dan negara Euro lainnya masih saja panas dingin. Tak pelak hal ini akan sangat berpengaruh pada prospek ekonomi di seluruh kawasan pada 2012.
Banyak yang mengklaim krisis Eropa tidak akan berdampak signifikan pada perekonomian Indonesia. Para ekonom optimis dengan fundamental ekonomi dan sektor financial kita yang termasuk kokoh.
Cadangan devisa kita di atas $ 100 miliar tahun ini. Sementara Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi sampai kuartal III/2011 sebesar 6,5%, jauh diatas rata-rata pertumbuhan ekonomi Eropa dan Amerika yang hanya 2%.
Dengan fundamental semacam itu, wajar saja jika banyak pihak yang tertarik menjalin kerjasama dengan Indonesia. Tahun ini saja AS dengan gigih mendorong terwujudnya Trans-Pasifik sebagai areal perdagangan AS dengan negara-negara Asia-Pasific Economic Cooperation (APEC) terutama Indonesia. Sebelumnya, Indonesia juga sudah meneken perjanjian Free Trade Agreement (FTA) Asean-China pada 2010.
Kerjasama semacam ini tentu akan sangat sangat berpengaruh bagi ekonomi seluruh kawasan. China sebagai eksportir terbesar di dunia tentu sangat terpukul atas apa yang terjadi di Eropa. Ekspornya jatuh ke level terendah sejak 2009, sementara pertumbuhan ekonominya melambat hingga 9,1%.
Tingginya tingkat konsumsi dan jumlah penduduk Indonesia tentu menjadi pasar yang menggiurkan. China dan AS yang bertumpu pada ekspor tentu akan lebih fokus untuk menggempur pasar Indonesia. Meski BPS merilis neraca perdangan Indonesia-China surplus hingga $ 106,9 juta pada Oktober lalu, kita tentu tidak akan lupa bahwa per Maret 2011 defisit perdagangan kita mencapai $ 668 juta.
Yang paling mengkhawatirkan tentu saja sektor pertanian yang nampaknya masih mengandalkan impor. Tahun 2011 memang dipenuhi dengan gejolak impor kentang, beras, gula hingga garam yang begitu mengejutkan. Sungguh sebuah ironi dimana 70% luas wilayah Indonesia adalah lautan justru harus mengimpor garam dari negri tetangga.
Dengan potensi perdagangan bebas yang semakin besar, kita pantas khawatir dengan kinerja industri dalam negri kita yang agak terseok-seok. Ketidakpastian krisis Eropa harus diantisipasi dengan memperkuat industri dalam negeri. Sebab, produk China dan AS akan menggilas pasar dalam negri jika hanya terpaku pada data-data fundamental ekonomi.