Minggu, 03 Februari 2013

Mencumbu Kabut Merbabu (Bagian II : Habis)

si kembar Sindoro-Sumbing dari Pos II..

Summit Attack

Pagi menjelang. Di sebelah barat tampak si kembar Sindoro-Sumbing dengan gagahnya. Pagi di gunung memang selalu menyenangkan, meski selalu dilalui dengan rutinitas yang hampir sama. Ngopi, bikin sarapan, foto-foto narsis sambil membicarakan angin kencang semalam. Saya seperti biasa, sangat menyukai memasak di pagi hari. Meskipun hanya sekedar menggoreng roti ataupun membuat teh dan kopi.

Foto keluarga di Pos II...

Pagi itu kami masih bingung dengan rencana selanjutnya. Apakah tetap dengan rencana awal: muncak membawa segenap perabotan lenong lantas turun lewat Selo, atau ada opsi lain. Sementara kawan-kawan mempercayakan keputusan kepada saya, maka saya pun silaturahmi kepada para tetangga sebelum mengambil keputusan.

Soulmate Misbah & Uchup...

Dari hasil obrolan dengan para pendaki lain, saya dapat kesimpulan tidak ada satupun pendaki yang berani lewat Selo saat ini. Cuaca yang cukup ekstrem membuat para pendaki harus membuat keputusan cerdas. Saat itu, cuaca di Merbabu memang sedikit banyak dapat diprediksi. Cerah dari pagi hingga jam 13.00, lalu kemudian hujan akan terus turun dan berpotensi menjadi badai semakin malam. Turun lewat Selo dengan jalur savana yang terbuka di sore hari sangat berpotensi dicumbu badai.

Jalur pendakian menuju Pos III
Sebelum Pos III

Pada akhirnya, kami pun memutuskan untuk summit attack dan turun kembali lewat Wekas. Persiapan segera dilakukan. Kami hanya membawa bekal berupa roti dan biskuit, air secukupnya, serta trangia untuk jaga-jaga jika diperjalanan tiba-tiba ngidam kopi.

Bayu, dengan kondisinya yang tidak memungkinkan untuk summit attack memutuskan untuk menunggu di tenda. Sekitar pukul 07.30, saya, Misbah dan Uchup pun melangkahkan kaki menuju puncak. Kami rombongan ke-2 yang summit attack hari itu. Sementara rombongan pertama sudah berangkat sejak dini hari demi mengejar lahirnya sang mentari.

Perjalanan awal kami lalui dengan lancar. Jalurnya tidak terlalu terjal tapi juga tidak terlalu landai. Perjalanan sempat break sejenak demi menunggu Uchup melaksanakan hajatnya di pagi hari. Sekitar 1 jam lebih kami berjalan, akhirnya kami tiba di Pos III. Disini ada aliran air yang cukup jernih. Padahal biasanya air hanya bisa ditemukan di Pos II. Kami pun segera mengganti air perbekalan kami dengan air di Pos III ini. Maklum, air di Pos II rasanya sudah tercampur belerang sehingga sangat tidak enak diminum langsung.


Pertigaan Pemancar-Puncak


Di pertigaan antara ke puncak dan pemancar kami berhenti cukup lama untuk bernarsis ria. Pada awalnya kami mengira sudah cukup dekat dengan puncak. Rupanya setelah berjalan agak jauh, saya menemukan plang yang bertuliskan:
Puncak Kentheng Songo à 1,6 KM
Pos Helipad à 0,2 KM


Masih jauh ciiiinggg....

Melihat hal itu, saya segera berteriak kepada Uchup dan Misbah untuk bergegas. Jika tidak ingin berhujan-hujan ria, kami harus sudah sampai kembali di Pos II sebelum jam 13.00. Sebelum mencapai pos Helipad, kami dihadapkan pada tanjakan yang cukup terjal. Entah apa rasanya jika bawa keril melewati jalur ini. Di Pos Helipad inilah kami mulai membuka perbekalan kami. Roti tawar berselimut susu coklat. Lumayan mengganjal perut.


Asik kali ya guling2 disitu...


Bukan gw-nya kok yang keren..tapi pemandangannya..hehe

Lepas dari Helipad, jalur mulai sering dikunjungi kabut. Perjalanan ke puncak ini seringkali menipu. Jalurnya naik turun. Beberapa kami kami tertipu karena memperkirakan sebuah spot sebagai puncak, nyatanya hanyalah bukit.


Melipiiiirrr.....

Tak jauh dari pertigaan Puncak Syarif-Puncak Kentheng Songo, kami bertemu dengan para pendaki lain yang hendak turun. Atas saran dari mereka, kami harus sudah turun dari puncak sebelum jam 12, jika tidak ingin diguyur hujan atau bahkan badai. Dengan keputusan bersama, akhirnya kami pun memilih untuk mengunjungi Puncak Kentheng Songo saja.

Merbabu yang memiliki 3 puncak—Syarif, Kentheng Songo dan Triangulasi—memang benar-benar luar biasa. Jalan setapak yang terkadang berselimut kabut dengan dominasi warna hijau di sekeliling menimbulkan sensasi tersendiri. Perpaduan antara putihnya kabut, hijaunya dedaunan, birunya langit serta coklatnya pohon dan tanah membuat perjalanan kami sangat menyenangkan.

Setelah melahap tanjakan yang cukup menguras tenaga, akhirnya puncak Kentheng Songo berhasil kami rengkuh. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 10.30 saat itu. Plang penanda puncak sekaligus batu-batu berlubang tak ayal menjadi objek nasis kami. Saat itu, kami adalah satu-satu rombongan yang ada di puncak.


Puncak yang dikepung kabut

Tak lebih dari 20 menit, kami segera turun. Seluruh penjuru mata angin sudah dikepung warna putih. Sayang memang. Saat mengedarkan pandangan ke sekeliling keindahan alam Merbabu terhalang oleh kabut.

Perjalanan turun jelas lebih menyenangkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Di sebelah sana awan hitam mulai berkumpul siap untuk bekerja. Kami semakin bergegas. Tak jauh dari pertigaan puncak ke puncak Syarif, kami bertemu dengan rombongan besar yang baru akan menuju puncak. Tak kurang dari 23 orang yang tergabung. Kami berani memprediksi, mereka pasti akan kehujanan saat turun.

Sebelum mencapai pos Helipad, kami tergoda untuk ngopi sejenak. Jadilah trangia dan spirtus keluar dari persembunyiannya. Ditemani gulungan Samsoe dan segelas kopi, kamipun bercanda ditengah hawa dingin yang mengepung. Saat sedang asyik menggilir segelas kopi, 3 orang pendaki melewati kami lengkap dengan keril besar mereka.

“Mau turun lewat Selo mas?,” iseng saya bertanya.
“Enggak, lewat Wekas juga,” jawab salah seorang dari mereka pendek.

Seperti diburu waktu mereka pun bergegas melanjutkan perjalanan. Tinggallah kami yang geleng-geleng kepala keheranan. Mau turun lewat Wekas juga tapi tetap membawa segenap perabotan lenong ke puncak? Hanya orang saktilah yang mampu melakukannya.

Sekitar pukul 13.00 kami pun tiba kembali di tenda kami yang nyaman. Dan benar saja. Tak lama kemudian hujan mengguyur dengan derasnya. Entah bagaimana nasib para pendaki yang tadi kami temui saat turun. Yang pasti hujan akan mengguyur mereka dengan dahsyatnya.

Perjalanan dari puncak tadi membuat kami kelaparan. Uchup yang dalam perjalanan kali ini kami daulat sebagai koki utama segera melakukan eksperimennya. Dan hasilnya, berupa nasi goreng kornet dengan sosis dan bakso goreng. Yang lebih istimewa, nasi goreng ini pedasnya luar biasa. Tak ayal sempat memakan beberapa orang korban yang langsung sibuk mencari semak-semak pasca menyantap nasi goreng ini.

Kami menunggu dengan bosan. Hujan tak kunjung reda, sementara kami harus segera turun. Demi membunuh waktu saya dan Misbah yang memang satu tenda memutuskan untuk bermain kartu. Lantunan suara merdu dari Bossanova menambah syahdu siang itu. Hujan, di dalam tenda, alunan jazz romantis, aaaahhh….bisakah si Misbah ini dituker aja dengan seorang wanitaaa??

Sekitar pukul 15.00 rombongan dari puncak turun. Tubuh mereka basah kuyup tanpa menyisakan satu celahpun yang kering. Saya segera berinisiatif membuatkan kopi. Disinilah bencana terjadi. Kondisi gerimis memang memaksa kami untuk masak di vestibulate tenda. Kalian tahu sendiri, vestibulate si oranye lafuma kecil sekali. Perpaduan antara besarnya api dari trangia serta sempitnya vestibulate Lafuma akhirnya membakar tenda kami. Jilatan api itu berhasil melubangi tenda dengan diameter sekitar 2 cm. Ya sudahlah terima nasib saja. Hikss…!

Waktu semakin sore tapi hujan justru semakin deras. Akhirnya kami memutuskan untuk packing ditengaj hujan. Tenda jelas menjadi kendala utama dalam packing seperti ini. Karena sayalah yang bertugas membawa 2 tenda ini, saya menjadi orang terakhir yang packing. Jika sebelumnya di Manglayang saya harus merasakan nikmatnya mendirikan tenda ditengah hujan, kini saya harus merasakan membongkar sekaligus packing tenda ditemani rintik air hujan.

Sulit juga ternyata. Packing menjadi tidak maksimal hingga memakan banyak ruang. Keril saya sudah sangat tidak seimbang. Bahkan fly sheet tenda justru tidak muat akibat packing asal-asalan. Karena malas membongkar lagi ditengah hujan begini, fly sheet ini pun akhirnya saya tenteng saja.

Perjalanan turun tak juga membuat hujan semakin ramah. Bahkan semakin menjadi. Angin menderu-deru. Suaranya yang menghantam ranting dan dedaunan membuat merinding juga. Sekitar 1,5 jam turun kami harus berjuang dengan guyuran hujan, jalur yang licin dan bahkan menjadi aliran air serta angin yang bertiup kencang.

Akhirnya perjuangan kami usai sudah. Malam menjelang saat kami tiba kembali di basecame Wekas. Disinilah kami membersihkan badan dan numpang bermalam. Disini pulalah kami disuguhi nasi, sayur dan telur dadar yang rasanya sumpah nikmat alhamdulillah. Saya bahkan sampai nambah beberapa kali. Setelah perut kenyang dan membersihkan badan. Kami pun terlelap. Namun petualangan kami tak hanya berhenti sampai sini. Esok kami akan bertransformasi dari seorang hiker menjadi traveller. See you Jogjaaaa.


Pulaaaannggg
Credit foto : Uchup & Misbah

Sabtu, 02 Februari 2013

Mencumbu Kabut Merbabu (Bagian I)

Musim hujan begini naik gunung? Kurang kerjaan memang. Selain jelas lebih beresiko, kabut dan rintik hujan juga akan menghalangi pemandangan. Tapi apa daya. Tiket sudah terlanjur dibeli. Keinginan untuk menikmati hutan belantara Merbabu juga sudah luber kemana-mana.

Keputusan harus tetap diambil. Apalagi perjalanan kali ini saya akan ditemani kawan-kawan karib yang sudah lama tidak jalan-jalan bareng. Salahudin Yusuf alias Uchup Onta terakhir kali jalan bareng 5 tahun lalu saat pendakian massal ke Gunung Gede. Begitupula Misbah yang sudah 3 tahun tidak mendaki bersama.

Ujian untuk piknik ceria kali ini memang bukan hanya soal cuaca. Sampai hari H keberangkatan, Uchup si Onta sialan itu masih juga ragu jadi berangkat atau tidak. Padahal dia bawa satu orang temen dalam pendakian ini. Tapi bagaimanapun saya toh memutuskan tetap berangkat juga ke meeting point di Stasiun Jakarta Kota.

Dari kantor saya di bilangan Senopati Jakarta Selatan, saya pun numpang Trans Jakarta (TJ) sekitar pukul 17.30 WIB. Ramainya penumpang saat jam pulang kantor, memaksa kami—saya pulang bareng temen kantor—untuk berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Jujur saja, saya jarang banget naik TJ. Jadi agak norak juga waktu sampai di halte busway Jakarta Kota (sumpah saya baru tahu kalo di sana ada terowongan gitu.. LOL).

Matahari sudah tergelincir jauh saat saya tiba disana. Uchup akhirnya memutuskan jadi berangkat hanya 2,5 jam sebelum kereta berangkat. Sementara Misbah si pemegang tiket belum juga datang. Demi membunuh waktu, saya pun memutuskan lesehan di peron sambil melahap Miracle of The Andes-nya Nando Parrodo.
Tak lama menunggu, Uchup akhirnya datang juga. Perut yang sudah keroncongan memaksa kami untuk menyantap nasi goreng depan stasiun. Lagi-lagi, Uchup menunjukkan kebiasaan lamanya. Dia yang memang gak doyan bawang goreng itu mengawasi abang tukang nasi goreng biar gak masukin bawang. Gak percayaan amat sih Cup…!

Selesai makan, giliran Misbah dan Bayu—temennya Uchup—tiba di stasiun. Saat itu masih pukul 20.00 WIB. Karena di jadwal kereta masih setengah jam lagi berangkat, kami pun memutuskan untuk beli logistik di minimarket dalam stasiun. Keasikan belanja membuat kami mengindahkan pengumuman penting. Rupanya kereta Serayu yang kami tumpangi tidak berangkat lewat Stasiun Kota, tapi lewat Stasiun Senen..!

Waktu keberangkatan yang semakin mepet membuat kami panik juga. Setelah cari-cari informasi, akhirnya kami memutuskan untuk naik kereta terakhir ke Bekasi lalu turun di Jatinegara. Berulang kali saya melirik angka di jam tangan yang terus merangkak naik, sementara kereta yang ditunggu tak kunjung muncul.

Si ular besi itu akhirnya tiba juga menjemput kami. Ia mengantar rombongan penumpang bingung kereta Serayu dan Tawang Jaya ke Stasiun Jatinegara. Untung saja kami masih berjodoh dengan si Serayu tujuan Kroya itu. Sisa malam kami habiskan dengan main kartu, ngobrol tak penting dan tentu saja merajut mimpi-mimpi kosong.

Kota kecil Kroya menyambut kami dengan segala keramahannya. Mendoan tak henti-hentinya dijajakan saat kereta memasuki kawasan Banyumas. Aura yang berbeda saya dapatkan disini. Logatnya, suasananya, kulturnya, semuanya.

Di Stasiun Kroya

Sekitar pukul 08.00 kami keluar dari Stasiun Kroya. Dari sini kami meneruskan perjalanan menggunakan bis ¾ menuju perempatan Buntu. Tak seperti namanya, Buntu merupakan kawasan ramai yang mempertemukan antara jalur Jogja, Purwokerto, Banjar dan Kroya.

Tanpa berlama-lama, kami segera meneruskan perjalanan menuju Magelang. Dengan ongkos sebesar Rp25.000, bus bobrok ini mengangkut kami selama 5 jam sampai terminal Tidar. Rasa lapar segera menyergap akibat tak sempat sarapan. Tak pelak, arem-arem dan tahu lezat nan gurih pun kami daulat sebagai pengganjal perut.

Matahari tepat diatas kepala saat kami memasuki kawasan Terminal Tidar Magelang. Setelah packing sejenak, sarapan siang yang tertunda serta menunaikan ibadah sholat dzuhur, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Tak kurang dari 1 jam kami habiskan untuk mengarungi jalan Magelang-Wekas yang dikepung hujan.

Gerimis masih menyambut kami saat mendarat di gerbang desa Wekas. Angka di jam digital saya sudah menunjukkan pukul 14.00. Setelah melengkapi logistik yang kurang, kami segera beranjak menuju basecame pendakian. Awalnya, kami berencana naik ojeg yang saat itu banyak nongkrong di depan warung. Namun, pertemuan saya dengan mas Anto saat belanja logistik membuat kami akhirnya memutuskan untuk mencarter L300 mas Anto yang jika dihitung biayanya lebih murah daripada naik ojeg.

Hari semakin sore, tapi hujan juga semakin deras. Basecame Wekas menyambut kami dengan ramah. Sekitar 30 menit kami habiskan disini untuk registrasi, packing ulang serta mempersiapkan peralatan tempur. Jas hujan menjadi hal wajib demi melindungi tubuh ini dari terjangan air yang jatuh dari langit.

Narsis di Basecame Wekas

Mulai Pendakian

Jalur awal pendakian kita akan melewati jalan yang sudah di pavingblock. Hujan masih setia mengiringi. Sementara celana jas hujan yang saya kenakan sudah sobek disana-sini. Semakin lama robekan celana ini makin lebar. Dengan sangat terpaksa, saya memutuskan untuk melepas celana jas hujan ini dan men-downgrade-nya menjadi sampah.

Peta Jalur

Awal perjalanan sebenarnya tidak terlalu menguras tenaga. Kami justru sering berhenti karena Bayu, salah satu personel kami yang terlihat keteteran. Ini memang pendakian pertamanya. Kami jadi sering sekali berhenti dalam waktu yang cukup lama. Sementara hujan tak juga berhenti, hawa dingin semakin mengepung kami.

Sekitar 30 menit menyusuri jalan ber-pavingblock, kami pun tiba di sebuah shelter yang ternyata adalah makam. Setelah itu, jalan mulai berubah menjadi jalan tanah yang cukup licin. Tak lama berselang kami melewati sebuah sungai kecil. Seperti biasa, saya selalu melakukan ritual yang selalu saya lakukan dalam setiap perjalanan. Minum dan membasuh muka dari sumber air pertama yang saya temui dalam sebuah pendakian.

Tanjakan terjal akhirnya kami temui setelah melewati sungai kecil tersebut. Jalur yang licin membuat kami harus sangat berhati-hati. Ranting dan akar-akar pohon sangat membantu sebagai pegangan.

Di sini kami sempat ragu sejenak. Salah satu personel kami sudah terlihat hampir menyerah. Beberapa kali ia mengeluhkan dengkulnya yang bermasalah. Jadilah saya dan Uchup bergantian membawakan kerilnya. Karena seringkali berhenti, hawa dingin akhirnya menyergap saya. Jari-jari tangan saya sudah terlihat mengkerut akibat terlalu lama berdiam diri. Sementara Pos II masih 2 jam perjalanan lagi.

Kami semakin bimbang saat kawan kami itu enggan meneruskan perjalanan, tapi juga segan untuk kembali turun. Awalnya, kami berencana untuk nge-camp di Pos III karena berencana turun lewat Selo. Tapi rencana tinggal rencana. Dengan kondisi seperti ini, saya pesimis bisa mencapai Pos III.

Setelah berdiskusi sejenak dengan Uchup, saya akhirnya memutuskan untuk nge-camp di Pos II. Sementara Uchup dan Misbah menemani Bayu, saya tancap gas menuju Pos II. Menurut rencana, saya akan mendirikan tenda dulu di Pos II untuk kemudian menjemput mereka.

Ternyata Uchup dan Misbah tak tahan juga berdiam diri lama-lama. Mereka mengejar saya untuk bisa sama-sama mencapai Pos II. Sementara Bayu berjalan bersama 2 orang rombongan dari Bekasi yang juga tertinggal dari rombongannya.

Jalur menuju Pos II cukup jelas. Kita tinggal mengikuti pipa air yang terdapat di sepanjang jalur pendakian. Matahari sudah menghilang sementara belum juga terlihat rimbanya. Saya terus memacu kaki untuk terus melangkah. Untung saja hujan sudah tidak seganas tadi. Jalur yang semakin landai menandakan Pos II sudah di depan mata.

Jalur pipa ke Pos II

Sekitar pukul 18.30 akhirnya kami tiba di Pos II. Kawasan ini rupanya sudah ramai dipenuhi pendaki. Belasan tenda terlihat hampir di setiap sudut. Dari survey yang saya lakukan, semua yang mendaki hari itu akhirnya memutuskan untuk nge-camp di Pos II. Badai yang diperkirakan akan menghantam Pos II malam ini membuat tidak ada satupun pendaki yang nekat kesana.

Kami pun akhirnya menemukan lapak tak jauh dari sumber air. Tak lama setelah meletakkan keril, Misbah dan Uchup memutuskan untuk turun kembali menjemput Bayu yang masih tertinggal. Sementara saya bertugas mendirikan 2 tenda seorang diri. Hujan yang sedari tadi menjadi sahabat perjalanan kini berganti menjadi angin kencang.

Beberapa kali angin menghempaskan tenda yang belum sempat saya pasak. Agak kesulitan juga mendirikan tenda seorang diri ditengah kepungan angin begini. Setelah bersusah payah, akhirnya 2 tenda kami berhasil tegak berdiri. Saya pun kemudian memasak air demi menghangat tubuh yang sudah mulai menggigil.

Rumah-rumahan kami...

Tak lama berselang, Misbah, Uchup dan Bayu pun tiba. Kami pun segera memasak makan malam yang sudah sangat dinantikan. Menunya cukup menggugah selera. Nasi, sayur sop yang isinya cuma sosis dan bakso, telur dadar serta sambel terasi yang pedasnya naudzubillah. Sebenarnya saya ingin membuat agar-agar untuk bekal esok hari. Sayang seribu sayang, kami tidak bisa menemukan bekal gula kami yang entah terselip dimana.

Malam itu, hujan kembali turun. Perut yang sudah kenyang terisi membuat kami mulai mengantuk. Angin tak juga berhenti menggoda. Beberapa kali saya dibangunkan oleh suara tenda yang cukup kencang tertiup angin. Tak lelap memang, tapi cukup untuk mengistirahatkan tubuh yang lelah berhujan ria seharian ini.



Credit foto : Salahudin Yusuf, Misbahudin Wahid, Rezza Aji Pratama

Kamis, 25 Oktober 2012

Band atau Boyband??...


Pernahkah kamu menghitung berapa jumlah boyband/girlband yang ada di Indonesia? Belum lagi boyband/girlband asal Korea atau pun Jepang yang turut mencari penggemar di Indonesia? Sudahlah tak perlu dijawab. Karena ini hanya pertanyaan retoris. Saya hanya ingin menegaskan bahwa demam boyband/girlband memang sedang nge-hits di kalangan remaja kita.

Tentu tak ada yang salah. Sebab setiap orang memiliki selera musik yang berbeda-beda. Sama seperti kita tidak bisa memaksa orang untuk memakan makanan yang tidak disukainya.

Pada awalnya, saya cuek saja dengan perkembangan ini. Tapi lama kelamaan saya terusik juga saat orang-orang terdekat saya juga tenggelam dalam euphoria ini. Dengan semangat ke-kepo-an yang tinggi, saya mulai mencari dan mendengarkan seperti apa sih selera boyband/girlband orang-orang terdekat saya. Terutama pasca konser Big Bang yang gaungnya masih saja terasa sampai sekarang.

Saya mulai bergerilya mendengarkan dan menonton video-video boyband yang katanya keren itu. Hasilnya,,saya tetap tak bisa menikmati musik dan aksi mereka. Saya juga merasa aneh, Karna saya bukan termasuk orang yang anti terhadap satu jenis musik. Anehnya, berkali-kali saya memaksakan menonton dan mendengarkan musik boyband/girlband itu, saya tetap tidak terbius sebagaimana kawan-kawan saya lainya.

Nah,,malam ini saya baru dapat jawaban saat saya bernostalgia mendengarkan lagu-lagu Gun n Roses. Ditengah lengkingan Axl Rose yang menyayat-nyayat, saat itulah saya menyadari bahwa sebuah boyband/girlband tetap tidak bisa menawarkan apa yang diberikan oleh band. Apa itu?... Buat saya, sebuah “band” lebih dinamis karna mereka sendiri lah yang mengaransemen musikalitas mereka. Mereka sendirilah yang “memberi nyawa” pada setiap petikan gitar & melodi. Mereka sendirilah yang “menghidupkan” musik lewat tabuhan drum. Ya..GnR besar bukan hanya karna suara si Axl Rose tapi juga petikan gitar Slash yang bahkan bisa membuat kita merinding.

Itulah yang menurut saya tidak bisa ditawarkan oleh boyband/girlband. Mereka datang dengan tampang, koreografi serta suara yang terkadang pas-pasan. Memang harus diakui, ada beberapa boyband yang memiliki kualitas suara cukup unik, tapi tetap musikalitas yang mereka tawarkan masih terasa hambar.

Silahkan tanya pada penggemar Dream Theather, seperti apa rasanya saat sang drummer Mike Portnoy memutuskan hengkang dari grup ini. Karna bagi penikmat musik, bukan hanya suara si vokalis yang bisa menyihir penggemar, tapi juga karakter gitaris, melodis, drummer atau bahkan keybordis yang memberikan warna tersendiri.

Jadi wajar saja, saat menyaksikan beberapa orang yang “hanya” bernyanyi dan berkoreografi dengan kostum serba glamour, tidak ada feel yang yang bisa saya rasakan.

Saya sendiri sebagai penggemar Avenged Sevenfold, bukan suara serak si Matt Shadow yang pertama kali membius saya. Tapi justru lengkingan gitar Synyster Gates dan pukulan drum The Rev lah yang pertamakali membuat saya terpincut.

Syns,,,salah satu gitaris paporit sayah..

Nah,,,bagaimana selera musik kamu? Apakah kamu termasuk penikmat musik seperti saya yang lebih menikmati musik secara komprehensif? Atau seperti mereka yang lebih menikmati wajah, koreografi serta fashion boyband semata?

Tidak ada yang salah karena musik adalah soal selera bukan hitungan matematis. Semua benar karena musik ada di telinga dan kepala yang terkadang tidak bisa hanya memakai logika..!




Minggu, 23 September 2012

Roma Dalam Rentang 1000 Tahun




Saya baru aja khatam baca baku yang awalnya males banget untuk mulai membuka covernya. 700 halaman cing. Sementara kerjaan lainya lagi numpuk banget. Tapi akhirnya dengan keteguhan hati, (ini serius ya..) saya akhirnya memberanikan diri untuk mulai membaca halaman demi halaman dari itu buku.

Emang buku apaan sih? Kok sampe segitunya. Sebenarnya ini buku lumayan menarik kalo dari cover dan judulnya. “Roma : Kisah Epik Dari Zaman Romawi Kuno” karanganya Steven Saylor. Siapa sih yang gak tau Roma? Bukan Roma si raja dangdut ya. Tapi Roma sebagai negara republik abad sebelum masehi.

Mungkin nama-nama seperti Romus dan Romulus si kembar pendiri Kota Roma, ataupun Julius Ceasar dan anak angkatnya Ceasar Augustus si pendiri kekaisaran Romawi udah sering kita dengar. Tapi di buku luar biasa ini, Steven Saylor datang bercerita dengan nama-nama baru yang asing tapi memegang peranan penting.

Yang saya suka dari buku ini, bukan cuma isinya yang berbobot abis tapi juga teknik penulisanya yang bikin geleng-geleng kepala. Bayangin aja, sejarah Romawi yang njlimet dengan berbagai intrik politik, tradisi pemujaan kuno, dewa-dewa sesembahan yang bejibun diramu jadi sebuah novel yang enak dibaca, nyenengin dan gak bikin pusing.hehe

Jadi itulah yang bikin saya nagih pas mulai baca lembar-lembar pertama novel ini. Kok seru ya? Kirain ini buku sejarah yang isinya berserakan tahun dan tanggal serta analisis musingin dari penulisnya. Tapi ternyata enggak. Boleh dibilang ini novel seutuhnya. Cara si Saylor meramu cerita yang saling terkait, bagaimana dia membangun emosi dan karakter tokohnya, pokoknya saya gak ragu untuk bilang WOW..!

Cara dia bercerita juga gak menggunakan sudut pandang tokoh utama dari Republik Roma. Dia pake sudut pandang masyarakat umum (meskipun masih terhitung bangsawan sih). Justru karena itulah cerita ini gak melulu soal kejayaan Roma. Tapi juga gimana arus gejolak di bawah, intrik politik yang beredar, perspektif masyarakat umum, Gitu,,.

Menjahit fakta-fakta sejarah Romawi kuno menjadi sebuah cerita jelas gak gampang. Bukan cuma terpaut jarak waktu yang udah lebih dari 3000 tahun, fakta-fakta ini kadang tertukar dengan legenda dan kepercayaan setempat. Kayak misalnya legenda kalau si kembar Romus dan Romulus katanya sempet diasuh sama srigala. Ternyata saya baru tahu kalo kata “srigala liar” itu kosakata yang dipake zaman dulu untuk mengibaratkan kata “pelacur”. Jadi ternyata si kembar itu diasuh oleh pelacur, bukan srigala.

Patung si kembar Romus & Romulus lagi disusuin srigala

Trus banyak juga yang bilang asal kata Roma itu dari nama si kembar Romus dan Romulus. Tapi ternyata, nama Roma berasal dari kontur wilayah awal saat itu. Dulu wilayah awal Roma ada di tepi sungai Tiber dengan komoditas utama adalah garam. Nah,,di tepi sungai itu ada 7 bukit yang disebut sevenhills. Karena wilayahnya perbukitan, orang-orang yang mendiami wilayah itu menyebutnya “Ruma” yang artinya payudara perempuan atau puting susu sapi. Iseng banget ya orang dulu menyamakan satu kontur bumi dengan bagian tubuh manusia. Hehe.. Itu sekitar tahun 850 Sebelum Masehi (SM) lho. Si kembar Romus dan Romulus mah belom lahir.

Oke,,teknik penulisanya yang berupa novel ini emang jurus yang sangat jitu. Trus apa yang bisa kita pelajari dari sejarah Romawi sendiri? Hmm,,,apa ya. Kayaknya kalo harus dipelajari disini banyak banget.hehehe,,jadi yang penting-penting aja deh.

Pertama dari segi kebudayaan dan religiusitas, bangsa Romawi ternyata bangsa yang majemuk dan terbuka. Dewa-dewa yang disembah kebanyakan impor dari Yunani dan Mesir. Maklum, cikal bakal bangsa Romawi yang mendiami jalur garam di tepi sungai Tiber, itu sekitar 1000 tahun SM. Tahun itu, Piramida Ghiza di Mesir umurnya udah lebih dari 1500 tahun. Penyerangan Yunani ke Troya (inget pilem Troy kan yang dibintangi Brad Pitt) udah 300 tahun lalu. Di Timur, bangsa Arya sedang mulai membangun kerajaan Media dan Parsa yang jadi cikal bakal kekaisaran Persia. Jadi,,bangsa Romawi emang termasuk bangsa muda saat itu. Ckckckc,,apa kabar Nusantara ya?

Dan menurut legenda, nenek moyang bangsa Romawi emang seorang pasukan Troy yang lari ke tepi sungai Tiber saat pengepungan itu. Makanya kalo dari sesembahan, bangsa Romawi banyak dipengaruhi kebudayaan dari bangsa-bangsa yang lebih tua. Dewa tertinggi di Roma misalnya, adalah Jupiter yang mitologinya nyomot dari Yunani. Trus altar persembahan pertama yang dibangun di Roma adalah Ara Maxima, buat menghormati penggembala kuat yang kebetulan lewat dan berhasil membunuh Cacus, seorang manusia yang penampakannya kayak monster. Cacus ini pada awalnya sangat meresahkan warga Roma karena suka makan daging ternak dan bahkan daging orang. Nah,,yang bisa ngalahin si Cacus ini cuma si penggembala.

Siapa sih si penggembala ini? Karena gak ada yang tau siapa si penggembala kuat ini. Akhirnya orang-orang Phoenician (ini gue gak tau dulu daerah mana), yang jadi mitra dagang orang Roma bilang kalo penggembala kuat ini pastilah Melkart. Orang-orang Yunani menyebutnya Heracles, keturunan manusia setengah dewa (kayak lagu bang Iwan yak). Nah,,si Heracles atau Hercules yang lebih dulu dikenal di Yunani itulah yang pertama disembah di Roma.

Tapi bukan berarti orang Roma gak punya kepercayaan kuno sendiri sih. Soalnya, di novel ini diceritain kalo ada sesembahan paling tua yang disebut Fascinum. Fascinum ini bentuknya semacam kalung yang terbuat dari emas. Kalung yang dijadikan jimat ini diwariskan secara turun temurun selama 1000 tahun dalam satu silsilah keluarga paling kuno di Roma. Keluarga Potitii. Keluarga inilah keluarga yang dekat dengan sejarah Roma itu sendiri.

Trus kalo dari segi politik gimana? Nah ini yang ribet. Dalam masa 700 tahun sebelum si Ceasar Augustus jadi kaisar, Roma berbentuk republik. Kekuasaan negri ini dipegang oleh senat yang saling berebutan satu sama lain. Karena saling sama kuat, intrik-intrik politik sering terjadi. Tragedi Grachi bersaudara yang menurut saya paling tragis. Bayangin, mereka berdua mau mensejahterakan rakyat dengan melindungi para petani dari para tuan tanah dan lintah darat eh,,malah dikira mau jadi raja dan dibunuh dengan sadis. Padahal kalo mau ditelusuri, konsep awal reforma agrarian yang digagas Bung Karno dan Aidit mulai dirintis sama si grachi bersaudara. Tahun 150-an SM udah mikirin reforma agraria,,ajib gak tuh.!!

Wah,,kalo diceritain semua sih kayaknya bisa bikin buku lagi nih.hehe. Intinya mah,,Roma tetep jadi imperium yang sarat banget ilmu. Kita bisa belajar banyak dari buku ini. Well,,kalo kata The New York Time, “Saylor memberikan begitu banyak detail dan kehidupan yang bergolak ke dalam adegan-adegannya sehingga sensasi bersentuhan dengan kekunoaan menjadi luar biasa”. Absloutely right..!!