![]() |
| Sumber: Google |
Menulis terkadang bisa menjadi pelarian. Dengan menulis, kita akan mengalami apa yang saya sebut sebagai “orgasme intelektual”. Saya percaya, dengan menulis kita akan mengenal diri kita sendiri.
Nah,,kali ini saya ingin bercerita tentang para penulis yang mampu menjadikan tulisannya sebagai senjata. “Word is our weapon”. Begitulah yang diteriakkan oleh Subcomandante Marcos, seorang penulis sekaligus pemimpin gerakan Zapatista di Latin Amerika.
Maka,,jika anda punya sedikit waktu luang, tak ada salahnya jika anda meneruskan membaca tulisan ini untuk mengetahui siapa para penulis itu yang telah berhasil membius para pembaca termasuk saya pada khususnya. Sengaja pada kiranya saya merangkum para penulis lokal kali ini, jika ada kesempatan tentu saya akan berbagi cerita tentang para penulis dari luar negri. Semoga saja.
1. Gola Gong
Gola Gong adalah sosok yang paling banyak memberikan inspirasi bagi saya. Ia tidak hanya mengagetkan saya dengan gaya berceritanya yang khas, tapi juga mengajarkan bagaimana kita menjalani hidup. Saya pertama kali membaca karyanya yang berjudul Balada Si Roy (BSR) sejak duduk di bangku SMP. Sejak saat itulah, sosok Roy yang fenomenal begitu merasuk hingga ke sukma. Gola Gong dan Roy adalah candu.
Gola Gong telah menelurkan puluhan karya. Namun yang menjadi legenda tentu saja BSR. Jika tidak percaya, segeralah pergi ke toko buku dan masukan novel tersebut kedalam keranjang belanjaan anda. Atau jika kalian sedang tidak punya uang, rasanya saya cukup berbaik hati untuk meminjamkannya.
2. Pramoedya Ananta Toer
“Anak muda yang paling merugi, adalah mereka yang tidak pernah membaca karya-karya Pram”. Saya menulis kalimat tersebut beberapa waktu lalu sebagai status facebook. Rasanya ungkapan tersebut sangat tepat. Membaca karya-karya Pram rasanya seperti merujak di siang bolong. Panas dan menggelora. Anda akan merasakan efek yang sangat berbeda ketika anda membaca karya penulis lainnya.
Wajar saja, Pram memang maestro sastra Indonesia. Satu-satunya pengarang pribumi yang berkali-kali menjadi nominator peraih hadiah nobel. Lewat karya-karyanya yang fenomenal seperti tetralogi buru, Pram menjadi sosok yang wajib diperbincangkan dalam kajian-kajian sastra.
3. ES. ITO
Es ITO pertama kali menggebrak jagat sastra nusantara pada tahun 2005 setelah menerbitkan sebuah novel thriller berjudul Negara Kelima. Tiga tahun kemudian, ia kembali hadir dengan novel yang tak kalah seru berjudul Rahasia Meede.
Membaca kedua karyanya tersebut, saya seperti membaca karya-karya Dan Brown pengarang novel Da Vinci Code itu, dalam versi Indonesia. Gaya berceritanya hampir mirip. Es Ito juga menghadirkan kejutan-kejutan tak terduga dalam setiap lembarnya.
Nah,,jika anda penggemar cerita-cerita intrik politik disertai ulasan-ulasan sejarah yang tidak biasa seperti novel-novel Dan Brown, rasanya kedua novel Es Ito akan mampu memuaskan anda.
4. Ayu Utami
Ayu Utami adalah pelopor sastra wangi yang kontroversial. Jika anda pernah membaca satu saja dari karya-karyanya, maka anda akan mafhum seperti apa jenis bacaan yang ditawarkan Ayu Utami.
Saman, Larung ataupun juga Bilangan Fu bagi saya merupakan bentuk alter ego Ayu Utami yang mencoba mendobrak pakem-pakem penulisan sastra. Ia datang dengan bahasa yang tidak biasa. Terkadang ia seperti sengaja menyerempet norma-norma namun lain waktu ia akan memasukkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan. Membaca Ayu Utami seperti menyaksikan remaja tanggung yang memasuki masa-masa puberitas. Penuh gejolak dan gairah yang menggelora.
5. Andrea Hirata
Sudahlah,,siapa tak kenal Andrea Hirata. Penulis kondang ini berhasil membuktikan bahwa meskipun pendatang baru, ia mampu menyihir masyarakat Indonesia untuk melahap habis karya-karyanya.



0 komentar:
Posting Komentar