Kamis, 24 Mei 2012

Candu Mahameru (Bagian I)



Sudah beberapa hari sejak saya kembali dari tempat itu. Tapi keindahannya masih saja menghantui. Masih terekam jelas di retina mata saya jernihnya Ranu Kumbolo. Tubuh ini tak berhenti menggigil jika ingat sapaan hangat mentari di pagi itu. Kabut di Kalimati. Bekunya Arcopodo. Dingin yang mengepung. Pasir yang bergulung. Hingga akhirnya puncak dari segala puncak di tanah Jawa. Ya,,Mahameru laksana candu.

Bagi saya, Mahameru adalah mimpi, impian, igauan, harapan, khayalan serta fantasi. Beberapa kali tak berjodoh, Tuhan akhirnya mau berbaik hati memberikan kado terindah di bulan jadi saya ke-22.  Tak tanggung-tanggung, cuaca cerah mengiringi perjalanan kami menuju 3676 mdpl.

Nyatanya, perjuangan untuk mencapai Puncak Mahameru harus di mulai sejak dari rencana. Beberapa kawan harus merelakan diri mengantri semalaman di Stasiun Senen demi mendapat tiket Matarmaja. Salut & terimakasih buat kawan-kawan yang sudah mengantri, meski pada akhirnya untuk tiket pulang harus melalui tangan calo.

16 Mei 2012. Siang itu Stasiun Senen dipenuhi beragam jenis manusia. Di berbagai sudut, para pendaki dengan ransel besar khasnya saling bercengkrama di tengah riuh rendah lautan manusia. Saya yang agak terlambat datang sempat kebingungan mencari rombongan. Libur panjang ini rupanya membuat setiap orang mempunyai hajat keluar dari tempat persembunyianya yang nyaman.

Sekitar pukul 14.00, kereta Matarmaja yang kami tumpangi mulai berjalan. Ransel-ransel besar terlihat memenuhi kereta. Rasanya, puncak-puncak gunung di Jawa akan kedatangan tamu berlimpah akhir pekan ini.

Perjalanan ini sebenarnya bermula dari ajakan mbak Anggi Kartikawati, sesepuh di grup Komunitas Pecinta Alam Warna-Warni (KPAWW). Sebagai seorang nubie sejati, saya pun memberanikan diri bergabung dengan para sesepuh demi mencumbu debu Mahameru.

Singkat cerita, kami tiba di Malang keesokan harinya. Tim bergerak dalam rombongan besar setelah bergabung dengan para pendaki yang mempunyai minat sama. Tak kurang dari 40 orang bergerak di bawah komando mbak Anggi dkk.

Matahari tepat di atas kepala saat kami tiba di Pasar Tumpang. Di Tumpang, kami menunggu Jeep dengan bosan. Ramainya pendaki membuat mobil 4WD ini menjadi barang langka. Beruntung, saya mendapat kesempatan naik Jeep pertama ke Ranu Pani.

Tumpang – Ranu Pani



Perjalanan Tumpang-Ranu Pani menjadi daya tarik tersendiri di areal Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Betapa tidak, sepanjang perjalanan kita disuguhi bentang alam yang menakjubkan. Kelokan tajam dipadu dengan dengan hijaunya flora di kiri dan kanan jalan membuat perjalanan 2 jam terasa menyenangkan. Meski kaki harus menahan beban dan perut serasa di kocok, jernihnya udara tak akan pernah bisa terlupakan.

Di Penanjakan, kami berhenti sejenak. Di bawah sana, bukit Teletubbies yang merupakan jalur ke Gunung Bromo terhampar luas. Sulit menggambarkannya dengan kata-kata. Hijaunya rerumputan laksana permadani yang dihamparkan begitu saja. Ingin rasanya turun dan berlari menikmari lembutnya desau angin serta gemulainya rumput yang bergoyang.




Sekitar pukul 15.00, kami tiba di Ranu Pani. Ini merupakan desa terakhir sekaligus base camp pendakian Semeru. Sambil menunggu rombongan yang belum datang, saya menyempatkan berkeliling menikmati suasana danau di ketinggian 2200 mdpl. Dan inilah hasilnya,,




Ranu Pani-Ranu Kumbolo

Dengan jumlah rombongan yang cukup besar serta ramainya pendakian Semeru, maka diputuskan harus ada tim kebut untuk mengkavling lapak di Ranu Kumbolo. Kebetulan saya masuk tim pertama yang berjumlah 7 orang tersebut. Kami berangkat sekitar pukul 17.30 WIB.

Medan awal menuju Ranu Kumbolo kita harus menyusuri jalan aspal lalu berbelok ke arah perladangan penduduk. Lembayung senja mengiringi langkah kami menuju areal hutan. Mahameru sempat menampakkan kepala pasirnya sebelum akhirnya tertutup kabut.

Trek awal sebenarnya tidak terlalu sulit. Jalurnya tergolong landai untuk ukuran sebuah gunung. Tanjakannya pun tidak terlalu ekstrim jika dibandingkan dengan gunung-gunung di Jawa Barat. Dengan langkah pasti, tim kami terus berjalan tanpa kenal lelah. Saya yang di belakang hanya bisa mengekor langkah-langkah cepat para pemilik dengkul racing di depan.

Di pos I kami baru mengambil nafas. Sejauh ini perjalanan kami tergolong lancar jaya. Tak ingin di sergap dingin, kami langsung mengambil langkah seribu. Perjalanan kali ini memang luar biasa. Komandan di depan sepertinya sangat terobsesi ngopi di Ranu Kumbolo hingga mengabaikan waktu istirahat lama-lama. Tak heran, dalam waktu 3 jam kami sudah tiba di Ranu Kumbolo.



Malam itu Ranu Kumbolo terlihat seperti barak pengungsian. Jangankan di sisi barat yang merupakan spot favorit mendirikan tenda. Di sisi utara pun puluhan tenda warna-warni sudah berdiri. Untung saja kami tidak terlalu kesulitan menemukan lapak untuk mendirikan tenda.

Kopi menjadi prioritas kami. Danau di ketinggian 2400 mdpl ini memberikan udara yang dingin menusuk tulang. Sambil menunggu rombongan yang lain, kami mendirikan tenda sambil memasak. Satu persatu rombongan berdatangan. Mata yang sudah tinggal 5 watt ditambah hawa dingin menggoda kami untuk segera membenamkan diri dalam hangatnya tenda. Namun, rombongan akhwat-akhwat yang dibelakang belum jua datang. Dengan rasa kantuk yang mendera, kami pun menghabiskan waktu dengan memasak guna memastikan saat tim belakang tiba, makanan sudah siap sedia.

Sekitar pukul 01.00, rombongan akhwat-akhwat akhirnya tiba juga. Dengan kelelahan, mereka segera menyantap masakan seadanya yang kami buat. Kami yang sejak jam 20.30 sudah dihantam angin dingin ranu rasanya tak tahan lagi. Sekitar pukul 01.30 saya pun merangsek ke tenda. Merapatkan jaket, masuk ke sleeping bag dan akhirnya di buai mimpi ke peraduan.

2 komentar: