Sudah beberapa hari
sejak saya kembali dari tempat itu. Tapi keindahannya masih saja menghantui.
Masih terekam jelas di retina mata saya jernihnya Ranu Kumbolo. Tubuh ini tak
berhenti menggigil jika ingat sapaan hangat mentari di pagi itu. Kabut di
Kalimati. Bekunya Arcopodo. Dingin yang mengepung. Pasir yang bergulung. Hingga
akhirnya puncak dari segala puncak di tanah Jawa. Ya,,Mahameru laksana candu.
Bagi saya, Mahameru
adalah mimpi, impian, igauan, harapan, khayalan serta fantasi. Beberapa kali
tak berjodoh, Tuhan akhirnya mau berbaik hati memberikan kado terindah di bulan
jadi saya ke-22. Tak tanggung-tanggung,
cuaca cerah mengiringi perjalanan kami menuju 3676 mdpl.
Nyatanya, perjuangan
untuk mencapai Puncak Mahameru harus di mulai sejak dari rencana. Beberapa
kawan harus merelakan diri mengantri semalaman di Stasiun Senen demi mendapat
tiket Matarmaja. Salut & terimakasih buat kawan-kawan yang sudah mengantri,
meski pada akhirnya untuk tiket pulang harus melalui tangan calo.
16 Mei 2012. Siang itu
Stasiun Senen dipenuhi beragam jenis manusia. Di berbagai sudut, para pendaki
dengan ransel besar khasnya saling bercengkrama di tengah riuh rendah lautan
manusia. Saya yang agak terlambat datang sempat kebingungan mencari rombongan.
Libur panjang ini rupanya membuat setiap orang mempunyai hajat keluar dari
tempat persembunyianya yang nyaman.
Sekitar pukul 14.00,
kereta Matarmaja yang kami tumpangi mulai berjalan. Ransel-ransel besar
terlihat memenuhi kereta. Rasanya, puncak-puncak gunung di Jawa akan kedatangan
tamu berlimpah akhir pekan ini.
Perjalanan ini
sebenarnya bermula dari ajakan mbak Anggi Kartikawati, sesepuh di grup
Komunitas Pecinta Alam Warna-Warni (KPAWW). Sebagai seorang nubie sejati, saya
pun memberanikan diri bergabung dengan para sesepuh demi mencumbu debu
Mahameru.
Singkat cerita, kami
tiba di Malang keesokan harinya. Tim bergerak dalam rombongan besar setelah
bergabung dengan para pendaki yang mempunyai minat sama. Tak kurang dari 40
orang bergerak di bawah komando mbak Anggi dkk.
Matahari tepat di atas
kepala saat kami tiba di Pasar Tumpang. Di Tumpang, kami menunggu Jeep dengan
bosan. Ramainya pendaki membuat mobil 4WD ini menjadi barang langka. Beruntung,
saya mendapat kesempatan naik Jeep pertama ke Ranu Pani.
Tumpang
– Ranu Pani
Perjalanan Tumpang-Ranu
Pani menjadi daya tarik tersendiri di areal Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
(TNBTS). Betapa tidak, sepanjang perjalanan kita disuguhi bentang alam yang
menakjubkan. Kelokan tajam dipadu dengan dengan hijaunya flora di kiri dan
kanan jalan membuat perjalanan 2 jam terasa menyenangkan. Meski kaki harus
menahan beban dan perut serasa di kocok, jernihnya udara tak akan pernah bisa
terlupakan.
Di Penanjakan, kami
berhenti sejenak. Di bawah sana, bukit Teletubbies yang merupakan jalur ke
Gunung Bromo terhampar luas. Sulit menggambarkannya dengan kata-kata. Hijaunya
rerumputan laksana permadani yang dihamparkan begitu saja. Ingin rasanya turun
dan berlari menikmari lembutnya desau angin serta gemulainya rumput yang
bergoyang.
Sekitar pukul 15.00,
kami tiba di Ranu Pani. Ini merupakan desa terakhir sekaligus base camp
pendakian Semeru. Sambil menunggu rombongan yang belum datang, saya
menyempatkan berkeliling menikmati suasana danau di ketinggian 2200 mdpl. Dan
inilah hasilnya,,
Ranu
Pani-Ranu Kumbolo
Dengan jumlah rombongan
yang cukup besar serta ramainya pendakian Semeru, maka diputuskan harus ada tim
kebut untuk mengkavling lapak di Ranu Kumbolo. Kebetulan saya masuk tim pertama
yang berjumlah 7 orang tersebut. Kami berangkat sekitar pukul 17.30 WIB.
Medan awal menuju Ranu
Kumbolo kita harus menyusuri jalan aspal lalu berbelok ke arah perladangan
penduduk. Lembayung senja mengiringi langkah kami menuju areal hutan. Mahameru
sempat menampakkan kepala pasirnya sebelum akhirnya tertutup kabut.
Trek awal sebenarnya
tidak terlalu sulit. Jalurnya tergolong landai untuk ukuran sebuah gunung.
Tanjakannya pun tidak terlalu ekstrim jika dibandingkan dengan gunung-gunung di
Jawa Barat. Dengan langkah pasti, tim kami terus berjalan tanpa kenal lelah.
Saya yang di belakang hanya bisa mengekor langkah-langkah cepat para pemilik
dengkul racing di depan.
Di pos I kami baru
mengambil nafas. Sejauh ini perjalanan kami tergolong lancar jaya. Tak ingin di
sergap dingin, kami langsung mengambil langkah seribu. Perjalanan kali ini
memang luar biasa. Komandan di depan sepertinya sangat terobsesi ngopi di Ranu
Kumbolo hingga mengabaikan waktu istirahat lama-lama. Tak heran, dalam waktu 3
jam kami sudah tiba di Ranu Kumbolo.
Malam itu Ranu Kumbolo
terlihat seperti barak pengungsian. Jangankan di sisi barat yang merupakan spot
favorit mendirikan tenda. Di sisi utara pun puluhan tenda warna-warni sudah
berdiri. Untung saja kami tidak terlalu kesulitan menemukan lapak untuk
mendirikan tenda.
Kopi menjadi prioritas
kami. Danau di ketinggian 2400 mdpl ini memberikan udara yang dingin menusuk
tulang. Sambil menunggu rombongan yang lain, kami mendirikan tenda sambil
memasak. Satu persatu rombongan berdatangan. Mata yang sudah tinggal 5 watt
ditambah hawa dingin menggoda kami untuk segera membenamkan diri dalam
hangatnya tenda. Namun, rombongan akhwat-akhwat yang dibelakang belum jua
datang. Dengan rasa kantuk yang mendera, kami pun menghabiskan waktu dengan
memasak guna memastikan saat tim belakang tiba, makanan sudah siap sedia.
Sekitar pukul 01.00,
rombongan akhwat-akhwat akhirnya tiba juga. Dengan kelelahan, mereka segera
menyantap masakan seadanya yang kami buat. Kami yang sejak jam 20.30 sudah
dihantam angin dingin ranu rasanya tak tahan lagi. Sekitar pukul 01.30 saya pun
merangsek ke tenda. Merapatkan jaket, masuk ke sleeping bag dan akhirnya di
buai mimpi ke peraduan.


mantap komandan.....
BalasHapusnama sayah disebat sebut ama komandan reza
BalasHapus