Rabu, 25 Maret 2015

Menakar Masa Depan Mobile Money Indonesia

Sumber: www.thepioneeronline.com


Pelaku industri finansial di seantero Asia memenuhi Convention Expo Marina Bay Sands, Singapura, pada pekan lalu. Dalam perhelatan yang digelar selama dua hari tersebut, mobilepayment menjadi isu yang paling banyak diperbincangkan.

Dibandingkan dengan Amerika Utara dan Eropa, kawasan Asia memang cukup tertinggal dalam mengimplementasikan tren ini. International Data Corporation Financial Insight yang menjadi tuan rumah acara tersebut menjabarkan beberapa hambatan.

Dari sisi populasi, Asia boleh jadi yang paling besar di muka bumi. Namun, penetrasi perbankan di kawasan ini juga relatif rendah. Jumlah penduduk yang tidak memiliki akun bank juga tidak sedikit. Dengan kata lain, masyarakat lebih tertarik menggunakan uang cash untuk transaksi mereka sehari-hari.

Dari sisi teknologi, adopsinya juga belum terlalu signifikan. Berbicara soal ponsel yang dilengkapi dengan fitur near field communication (NFC) misalnya, berapa banyak orang di Indonesia yang memilikinya? Bahkan bagi beberapa orang teknologi NFC masih terdengar asing. Padahal, adopsi NFC di banyak negara maju sudah menjadi hal yang lumrah.

Bagi negara-negara berkembang, dimana penetrasi smartphone NFC relatif rendah, solusimobile payment sebenarnya bisa memanfaatkan QR code. Teknologi ini relatif sudah dikenal di berbagai belahan dunia ketimbang NFC yang lebih canggih. Sayangnya, QR code selama ini diimplementasikan terpisah dengan sistem mobile payment.

Michael Araneta, Research Director IDC Financial Insight, mengatakan untuk mengimplementasikan NFC memang membutuhkan sistem dan kesiapan teknologi yang lebih rumit. Di Indonesia, pebisnis yang hendak menjajal sistem mobile payment menggunakan NFC juga terkendala hal tersebut. Relakah pelaku usaha menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk membangun ekosistem mobile payment?

Araneta menuturkan, jawaban pertanyaan tersebut seperti teka-teki telur dan ayam. Tren dunia sedang menuju ke arah tata cara pembayaran yang serba mobile. Mau tidak mau pelaku industri finansial harus mengakomodir tren tersebut.

Lantas bagaimana dengan Indonesia? Di antara negara-negara Asia, mobile payment di Tanah Air memang belum diminati. Kendati demikian, jalan kea rah tersebut sudah mulai dirintis oleh sejumlah operator di Indonesia dengan meluncurkan platform mobile money. Data IDC menunjukkan penetrasi mobile money di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan India.

Michael Yeo Sek Pheng, Senior Market Analyst  Asia Pasific Financial Services IDC Financial Insight, mengatakan mobile payment di Indonesia memiliki peluang besar untuk terus tumbuh. Hal ini didukung oleh penetrasi kartu kredit yang relatif rendah. Di beberapa negara seperti Singapura, penetrasi kartu kredit yang terlalu tinggi memang menyulitkan adopsi mobile payment yang lebih masif.

“Kalau orang sudah nyaman pakai credit card, ngapain lagi pakai mobile payment?,” ujarnya, pekan lalu.
Yeo mengatakan penetrasi mobile payment di Indonesia akan lebih berkembang jika dimulai dengan platform SMS. Hal ini berangkat dari fakta bahwa penetrasi ponsel yang sangat tinggi, hingga di atas 100%, tetapi penggunaan smartphone masih relatif rendah. Dengan memanfaatkan platform berbasis SMS, mobile payment akan diadopsi secara luas oleh masyarakat.

Di banyak negara berkembang, finansial dan teknologi informasi merupakan sektor yang tidak dapat dipisahkan. Khusus untuk isu mobile payment, kolaborasi antara perbankan dan operator telekomunikasi dinilai menjadi kunci penting pertumbuhan.

Yeo mengatakan operator telekomunikasi dan perbankan harus menjalin kerja sama intensif untuk mengembangkan platform tersebut. Tidak hanya terbatas pada mobile payment tetapi juga instrumen finansial lainnya.

Potensi besar dari penduduk yang belum memiliki rekening bank bisa digarap oleh operator telekomunikasi. Di banyak negara, menjadikan nomor telepon sekaligus menjadi rekening bank. Kerja sama ini akan menguntungkan dua belah pihak.

Khusus untuk kondisi di Indonesia, Yeo menilai perbankan yang harus mengambil inisiatif untuk menggandeng operator telekomunikasi. Pasalnya, perbankan dinilai punya akses dana yang lebih besar untuk menciptakan ekosistem.

Bagi masyarakat Indonesia, mobile payment mungkin belum jadi isu yang benar-benar dianggap penting. Namun, fenomena kedekatan masyarakat dengan perangkat mobile mereka rasanya akan membuat penetrasi platform ini semakin tinggi.

Reksa Dana Belum Sampai di Pelosok Negeri



Hingar bingar industri reksa dana di Ibukota nampaknya tak sampai menjangkau pelosok negeri. Di Langsa, kota kecil yang berjarak 400 kilo meter dari Banda Aceh, kemudahan berinvestasi justru menjadi barang langka.

Hal itulah yang dirasakan oleh Echa Putri Nesia. Gadis 24 tahun yang tinggal di kota kecil tersebut sejatinya telah lama menggeluti dunia investasi. Sejak masih berstatus mahasiswa di Universitas Syiah Kuala, Echa sudah menjajal deposito. Namun, bunga yang relatif kecil membuatnya tertarik menjajal instrumen investasi lain yang menawarkan return lebih tinggi, reksa dana.

Beberapa hari lalu, Echa lantas mendatangi kantor cabang Bank Mandiri yang terdapat di Kota Langsa untuk membeli reksa dana. Tapi apa daya, niatan tersebut menemui jalan buntu. Kepada Echa, customer service bank pelat merah tersebut menjelaskan bahwa mereka belum melayani pembelian reksa dana. “Katanya mereka enggak pernah melayani nasabah yang mau beli reksa dana sebelumnya. Mereka menyarankan untuk langsung ke Medan,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (1/1).

Apa yang dialami oleh Echa menggambarkan ketimpangan infrastruktur dan informasi instrumen investasi di kota besar dengan daerah. Bahkan menurut Echa, untuk meminta informasi tentang reksa dana di bank tersebut juga tak membuahkan hasil.

Tak hilang akal, perempuan yang baru menjadi sarjana ini lantas menghubungi rekan sejawatnya yang bekerja di sektor perbankan. Hasilnya pun mengecewakan. Tak banyak informasi soal reksa dana yang bisa dikoreknya dari rekan-rekannya tersebut. “Bahkan orang bank sendiri banyak yang belum ngerti soal reksa dana,” tambahnya.

Bagi Echa, pergi ke Medan untuk membeli reksa dana bukan persoalan yang mudah. Untuk menuju ke ibukota Sumatra Utara tersebut membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Ini tentu menjadi hal yang tidak mengenakkan bagi orang sepertinya.

Echa bisa jadi bukan satu-satunya calon investor yang kesulitan mengakses instrumen investasi. Di Indonesia, ada banyak sekali Echa-Echa lainnya yang mengalami nasib serupa. Ingin berinvestasi, tapi apa daya infrastruktur di kota tempat tinggalnya  belum memadai.

Beberapa manajer investasi memang sudah memberikan solusi berupa reksa dana yang bisa diakses secara online. PT Indo Premier Securities misalnya, telah meluncurkan portal supermarket reksa dana bagi para pelanggan. Platform yang diberi nama Ipot Fund ini merupakan kumpulan produk-produk reksa dana dari beragam MI yang bisa dibeli lewat transaksi di dunia maya.

Namun, bagi investor pemula seperti Echa, platform online semacam ini belum bisa menjadi solusi. “Informasi soal reksa dana yang biasa saja sulit didapat. Apalagi yang online. Rasanya masih belum percaya,” katanya.

Otoritas Jasa Keuangan selaku wasit di industri ini memang bukan tanpa upaya. Sejak beberapa waktu lalu, wacana untuk memperluas jaringan agen penjual reksa dana telah mengemuka. Rencananya, selain perbankan, produk investasi yang tengah naik daun ini juga akan dijajakan oleh perusahaan asuransi, dana pensiun, perusahaan multifinance, pegadaian, dan PT Pos Indonesia.

Pada 29 Desember 2014 lalu, rencana tersebut akhirnya terealisasi. Melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 39/POJK.04/2014 tentang Agen Penjual Efek Reksa Dana, distribusi reksa dana diperluas.

Direktur Direktorat Pengelolaan Investasi OJK Fahri Hilmi mengatakan aturan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah nasabah. Dia mengakui, selama ini calon investor reksa dana memang terbatas karena hanya mengandalkan manajer investasi dan perbankan. Padahal, tidak banyak MI yang membuka cabang di luar Jakarta.
“Ini merupakan upaya kami untuk meningkatkan pendalaman pasar,” katanya, Selasa (30/12).

Dengan membuka kesempatan bagi perusahaan asuransi, multifinance, dan PT Pos Indonesia untuk menjual reksa dana, OJK berharap bisa menjaring calon investor yang tidak terjangkau MI maupun perbankan. Ini tentu menjadi angin segar bagi orang-orang seperti Echa.

Menilik data OJK, tingkat kepercayaan investor terhadap industri reksa dana sebenarnya semakin meningkat. Ini terlihat dari jumlah unit penyertaan yang terus menunjukkan perkembangan positif. Pada Januari 2014, jumlah unit penyertaan yang beredar sebanyak 120,64 miliar yang kemudian membengkak 18,70% menjadi 143,20 miliar pada 24 Desember 2014.

Sementara itu, dari sisi jumlah reksa dana, sampai 29 Desember 2014 mencapai 890 produk, di mana 202 diantaranya aktif sepanjang tahun ini. Keseluruhan reksa dana tersebut dikelola oleh 77 manajer investasi melalui 17 bank kustodian.

Menanggapi aturan baru tersebut, Wakil Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Prihatmo Hari Mulyanto mengatakan langkah OJK ini akan membawa dampak positif bagi industri terutama untuk menmbah jumlah investor.

“Semakin banyak institusi yang menyuarakan reksa dana akan semakin bagus untuk meningkatkan product awareness yang saat ini masih rendah,” katanya melalui pesan singkat kepada Bisnis, Selasa (30/12).

Kendati demikian, Prihatmo yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Danareksa Investment Management ini meminta OJK untuk mempertahankan prinsip kehati-hatian untuk semua institusi penjual reksa dana.

Kendati menjadi angin segar bagi calon investor potensial di seantero negeri, aturan ini patut diperhatikan lebih lanjut. Apakah perusahaan asuransi dan multifinance tertarik menjajakan reksa dana? Bagaimana juga menerapkan prinsip kehati-hatiannya? Di balik itu, Echa-Echa lainnya di Indonesia bisa sedikit bernafas lega. Jika kantor pos saja sudah bisa menjual reksa dana, sekelas Bank Mandiri di kota kecil seharusnya jauh lebih agresif.

Bursa, Ikan Kaleng & Infrastruktur

Sumber: www.marketplus.co.id


Saat menutup perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di hari terakhir 2014, Wakil Presiden Jusuf Kalla membeberkan cerita soal ikankaleng busuk.

“Di pasar modal ini ada cerita orang jual ikan kaleng dengan harga tinggi. Lalu dijual lagi dengan harga yang lebih tinggi lagi. Begitu dibuka ternyata ikannya busuk,” ujar Jusuf dalam pidatonya, Rabu (30/12). “Lalu ada yang bilang ini kan memang bukan untuk dimakan tetapi untuk diperjualbelikan,” tambahnya.

Di hadapan pelaku pasar modal itulah Wapres menyindir kinerja bursasaham. Memang, performa IHSG menjadi salah satu yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi di Asia.  Secara year to date bursa saham kita tumbuh 22%, hanya kalah dari Filipina. Ini jelas kabar menggembirakan di tengah terpaan sentimen global. Tapi rupanya hal itu belum memuaskan orang nomor dua di Republik Indonesia tersebut.

JK mengibaratkan ikan busuk seperti saham emiten. Diperjualbelikan dengan harga tinggi tapi buruk secara fundamental. Kondisi seperti itulah yang harus dihindari oleh pelaku pasar modal di Tanah Air. Jika terjadi, inilah sinyal pertumbuhan yang serba timpang. Investor besar berpesta tetapi masyarakat merana. Ini juga tercermin dari data pertumbuhan indeks yang sangat timpang dengan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,2%.

Untuk menghindari hal tersebut, emiten diminta menggenjot produksi. Mengalokasikan dana yang didapat dari pasar modal untuk kembali berekspansi. Dengan demikian ekonomi akan terangsang. Konsumsi melonjak. Pertumbuhan ekonomi 7% menjadi bukan sebatas mimpi. Di kondisi inilah harga saham merepresentasikan performa fundamental perusahaan. Bukan seperti ikan busuk yang diceritakan Jusuf Kalla.

Jusuf boleh jadi benar. Selama ini orang kebakaran jenggot jika IHSG merosot. Padahal, itu bukan patokan utama. “Pasar modal memang penting. Tapi perhatikan juga Pasar Tanah Abang, Pasar Klewer, dan pasar-pasar lainnya,” begitu katanya.

Apa yang diungkapkan JK seperti membuka mata kita. Pasar-pasar yang dianggap konvensional itulah yang menggerakkan ekonomi. Permintaan dan penawaran bertemu. Transaksi dilakukan atas dasar kebutuhan hidup. Di pasar-pasar itulah masyarakat kecil, bukan pemilik modal kelas kakap, menggantungkan hidup.

Cerita ikan kaleng busuk dari JK ini kembali dipertegas oleh Presiden Joko Widodo 3 hari kemudian. Dalam pidato pembukaan debut IHSG di 2015, Jokowi memancarkan sinyal optimisme. Ruang fiskal yang kian lebar membuat komitmen percepatan infrastruktur bukan isapan jempol.

“Pengalihan subsidi BBM membuat ruang fiskal kita semakin lebar. Saat ini ada sekitar Rp240 triliun yang bisa dipakai untuk membangun infrastruktur seperti waduk, irigasi, jalan tol, jalur kereta api, pelabuhan, dan airport,” kata Presiden, Jumat (2/1).

Dana segar Rp240 triliun memang terlihat besar, tetapi apakah cukup untuk menyediakan seluruh infrastruktur yang dibutuhkan? Rasanya tidak. Untuk itulah dibutuhkan sumber pendanaan lain yang relatif mudah diakses. Di sinilah pasar modal mengambil peran. Menyediakan akses bagi korporasi mendanai proyek mereka.

Jokowi memang tidak seperti JK yang langsung menunjuk hidung para pelaku pasar modal. Tapi pesan yang disampaikan Presiden gamblang menggambarkan. Bursa harus bisa mendorong pembangunan infrastruktur. Jika hal itu bisa dilakukan, cerita ikan kaleng busuk dari JK tentu akan jadi sebatas cerita.

Presiden memang tidak menyangkal, tantangan ke depan tidak mudah. Sentimen global cenderung sulit dikalkulasi. Namun, kolaborasi antara efektifitas pasar modal dan percepatan infrastruktur dipercaya akan membuat ekonomi makin kokoh. Tak lekang meski amukan tren negatif global menghadang.

Guna mendukung percepatan investasi, Presiden juga menjanjikan satu hal yang selama ini menjadi barang langka. Kemudahan perizinan. Inilah yang selama ini menjadi benalu investasi. “Bagaimana bisa untuk izin mau bangun pembangkit listrik saja memakan waktu bertahun-tahun. Padahal kita krisis listrik,” ujar Jokowi.

Perizinan yang tidak berbelit-belit memang jadi modal utama menggenjot ekonomi. Siapa investor yang tidak lari jika baru niat saja sudah dipersulit? Maka, ketika Jokowi mengancam akan memecat pejabat yang mempersulit perizinan, tepuk tangan hadirin bergemuruh. Tentu sambil berharap apa yang diucapkan Presiden bukan lip service semata.

Obligasi Infrastruktur

Tentu tidak adil rasanya jika tidak menyebut rencana Bursa Efek Indonesia guna mendukung ambisi pemerintah. Sebagai wasit di pasar modal, otoritasbursa jelas punya peran yang tidak kecil. Ito Warsito, Direktur Utama BEI, mengatakan pembiayaan infrastruktur memang menjadi salah satu fokus utama BEI.

Ito menuturkan pihaknya juga tengah menggodok ketentuan yang mempermudah perusahaan mendapatkan dana segar untuk membangun infrastruktur. Meskipun belum beroperasi, perusahaan-perusahaan ini bisa tetap menerbitkan obligasi, asal sudah punya penjamin yang akan menanggung kupon jika perusahaan tersebut tidak bisa memenuhi kewajibannya.

Memang tidak semua proyek bisa mendapatkan fasilitas ini. BEI akan melakukan penilaian komprehensif dari sisi kelayakan proyek, kebutuhan, kronologi, dan pihak-pihak yang terlibat. “Kalau yang terlibat ternyata bermasalah yang tidak bisa,” katanya.
Emiten yang produktif, harga saham yang melonjak, dan akses pembiayaan infrastruktur yang serba mudah dari pasar modal tentu akan menggairahkan ekonomi. Semoga saja ikan kaleng busuk memang sebatas cerita dari Pak JK.

Wantina, Motor Butut & Perlawanan

Spanduk perlawanan petani Ogan Ilir

Suatu malam, Juni 2010, puluhan orang berkumpul membentuk lingkaran di satu rumah panggung milik Abdul Muin. Ruangan selebar setengah lapangan badminton itu, panas oleh debat.

Suasana makin tak terkendali. Belum selesai orang berbicara, lainnya sudah menimpali.
Sebagian besar adalah penduduk Dusun Lubuk Bandung, Payaraman, Kabupaten Ogan Ilir,
Sumatra Selatan. Saat suara makin meninggi, seorang pria dengan kain sarung dan kaus oblong memasuki ruangan. Tubuhnya kurus dan berkulit sawo matang. Wajahnya tirus. Dia duduk di antara orang-orang yang berdebat. Tangannya kemudian teracung mencoba menengahi debat yang tak berkesudahan. “Motor sudah ku jual,” ujarnya singkat.

Kalimat singkat itu berhasil membuat puluhan pasang mata mengarah padanya. Pria bersarung itu berhasil menguasai suasana dalam waktu singkat. Senyap tibatiba menjalar. Orang itu sering dipanggil Wantina. Wantina bukan nama sebenarya. Dalam kartu identitas, namanya tertulis
Sriwansyah. Sapaan Wantina didapatnya setelah menikahi bernama Khotina, istri tercintanya.

Entah siapa yang memulai, tetapi nama itu terlanjur melekat menjadi panggilan sehari-hari. Umurnya baru di awal 30-an. Namun, malam itu, dia menjadi penengah di antara orang-orang yang jauh lebih tua. Wantina adalah salah satu petani Lubuk Bandung yang berkonflik dengan PT Perkebunan Nusantara VII (PTPN VII) Unit Usaha Cinta Manis.

Embrio perseteruan dimulai pada 1980-an saat perusahaan pelat merah ini membuka lahan tebu seluas 20.000 hektar di enam rayon. Ini meliputi Kecamatan Inderalaya, Lubuk Keliat, Muara Kuang, Payaraman, Rantau Alai, Tanjang Raja dan Tanjung Batu.

Dusun Lubuk Bandung yang ditinggali Wantina termasuk rayon 6 bersama Dusun Rengas dan Dusun Betung. Masyarakat mengklaim hanya 375 hektare yang baru diganti rugi dari total 1.495 hektare. Alhasil, Wantina dan warga lainnya menuntut PTPN VII untuk mengembalikan 1.020 hektare tanah yang saat ini ditanami tebu.

PTPN VII adalah perusahaan milik negara yang dibentuk pada 1996, serta memfokuskan bisnisnya di sektor perkebunan kelapa sawit, karet, tebu dan teh. Berdasarkan situs resminya, cakupan wilayah korporasi itu terdiri dari Provinsi Lampung, Provinsi Sumatra Selatan dan Provinsi Bengkulu.

Masing-masing memiliki sepuluh unit usaha, 14 unit usaha serta tiga usaha. PTPN VII juga adalah hasil penggabungan empat PTPN, dan salah satunya merupakan milik Belanda yang dinasionalisasi pada 1957. Pada Oktober 2008, konflik memanas. Ini adalah saat PTPN VII memaksa penduduk untuk mengosongkan kawasan sekitar payau atau area rawa yang selama ini dimanfaatkan untuk berkebun. Wantina juga berkebun di wilayah itu.

Dia mulai mengorganisirwarga untuk mempertahankan hak mereka. Eskalasi semakin memanas hingga tahun berikutnya. Tak hanya dari Lubuk Bandung, ratusan petani dari Dusun Rengas dan Dusun Betung pun bergabung. Operasi perusahaan terganggu karena warga menutup akses ke perkebunan. Pada Januari 2009, Bupati Ogan Ilir Mawardi Yahya memerintahkan perusahaan untuk mengembalikan tanah di sekitar payau Mungkin saja, ini adalah satu kemenangan kecil. Aksi pun berlanjut.

Mereka bergerilya melakukan sabotase terhadap aktivitas perusahaan. Akses jalan ditutup. Truk pengangkut tebu dihentikan. Praktis pada masa-masa itu Wantina banyak menghabiskan waktunya untuk melawan. Ditemani sepeda motor bututnya, Wantina bertemu dengan banyak petani lainnya. Ini pun ada hasilnya.

Pada 29 Desember 2009, Badan Pertanahan Nasional Sumatra Selatan mengeluarkan surat penting. PTPN VII Cinta Manis diumumkan hanya memiliki lahan beralaskan hak guna usaha (HGU) sebesar 6.500 hektare dari total sekitar 20.000 hektare.

Berbekal dari surat BPN, warga mulai melakukan pendudukan di atas lahan yang diklaim. Mereka menebas tebu. Pondok-pondok didirikan. Kelompok-kelompok kecil mulai dibentuk. Setiap Jumat, puluhan petani Lubuk Bandung berbondong-bondong memasuki lahan tebu. Aksi tersebut, tetap dilakukan walaupun perusahaan sudah memberikan peringatan. Wantina menjadi motor dari gerakan itu.

Setelah berjalan beberapa minggu, tantangan demi tantangan lainnya berdatangan. Kepolisian Resor Payaraman akhirnyamengeluarkan surat perintah penangkapan kepada 12 petani Lubuk Bandung dengan tuduhan perusakan lahan tebu. Surat itu sedikit banyak mempengaruhi perlawanan warga. Tidak sedikit yang memilih mundur karena takut ditangkap. Namun,tak sedikit pula yang masih melawan.

Pada 23 Maret 2010, belasan polisi memasuki dusun pada malam hari untuk menangkap ke-12 buronan tersebut. Dua tokoh pimpinan, Busrah dan Djamaludin berhasil diciduk malam itu.

***
Wantina adalah sosok yang periang. Dia suka berkelakar meski terkadang agak keterlaluan. Wantina juga memiliki reputasi buruk pada masa lalu. Dia identik dengan judi, minuman keras, dan berbagai tindak kriminal. Mencuri hewan ternak seperti ayam, bebek, dan sapi sudah menjadi hal yang biasa. Saat masih bekerja sebagai satuan pengaman PTPN VII, dia juga rajin menggasak berkarung-karung pupuk yang disimpan di gudang perusahaan.

Namun,sejak melawan, dia menjadi primadona. Keberaniannya menonjol di antara petani lainnya. Meski tidak secara formal, Wantina dianggap sebagai salah satu pemimpin. Dengan pengalamannya bertahun-tahun di dunia kriminal, Wantina punya banyak kawan.

Hobinya menjelajah dari satu dusun ke dusun lain dengan sepeda motor butut kebanggaannya. Sepeda motor Suzuki Smash pada 2004 itu sudah tidak memiliki badan utuh. Rangka badannya macam tengkorak. Rem pun diganti dengan kaki. Jika bepergian pada malam hari, dia harus membawa senter karena lampu si butut tak berfungsi.

Malam itu, di pertengahan Juni 2010, Wantina tidak terlihat seperti biasanya. Wajahnya kuyu tampak kurang gairah. Kali ini, dia datang bukan dengan celetukan iseng dan bikin orang terpingkal-pingkal. Namun, di antara orang-orang yang berdebat, dia justru lebih realistis.

Pangkal persoalan ini sebenarnya pada soal uang. Kedua pimpinan yang ditangkap, Busrah dan Djamaludin saat ini sedang mendekam di rumah tahanan Merdeka, Palembang. Persidangan demi persidangan sudah tiap minggu dilakukan.

Setiap minggu pula warga berbondong-bondong mendatangi lokasi persidangan menggunakan truk mendukung kedua pesakitan tersebut. Masa-masa ini adalah masa yang sulit bagi warga Lubuk Bandung. Keduanya dihukum 15 bulan. Dana untuk perlawanan terus membengkak.

Selain membiayai ongkos persidangan, warga juga menanggung hidup keluarga Busrah dan Djamaludin. Kini, mereka baru saja mendapatkan kabar harus menyediakan uang beberapa juta rupiah dalam waktu satu minggu. Bagi warga Lubuk Bandung yang hanya berpenghasilan
Rp500 ribu—Rp800 ribu per bulan, biaya itu menambah beban.

Di tengah kebingungan itulah Wantina mengabarkan telah menjual sepeda motor bututnya seharga Rp1 juta. Si butut yang selama ini menemaninya menggalang perlawanan. Si butut itu pula yang dipakai istrinya, Tina, untuk memanen getah karet. Sang istri hanya bisa pasrah. Beberapa tahun terakhir, saat sang suami disibukkan pada aktivitas perjuangan, Tina yang menjadi tumpuan keluarga.

Setiap pagi dia harus menuju kebun karet sejauh 3 kilometer dan pulang menjelang siang. Kini dia harus berjalan kaki sejauh 6 kilometer. Walaupun kesal, dia menganggap ini adalah bentuk
dukungan kepada sang suami. “Ya begitulah kelakuan kakakmu itu,” ujarnya sambil tertawa.

Dan begitulah, Wantina yang saya kenal.



Selasa, 30 September 2014

Merintis Jalan di Bisnis Konten

Sumber: www.1twelfth.com


18 Oktober 2011 bisa jadi hari paling nahas dalam sejarah industri telekomunikasi Indonesia. Surat Edaran Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) yang dikeluarkan empat hari sebelumnya memaksa operator menghentikan bisnis konten value added service (VAS).

Ini terjadi setelah kasus pencurian pulsa oleh content provider merebak hingga menjadi isu nasional. Dalam waktu singkat, bisnis VAS operator langsung rontok seketika. Kelak, peristiwa itu seringkali disebut sebagai Black October.

Tiga tahun setelah kasus tersebut berlalu, lini bisnis VAS mulai bangkit. Kontribusi pendapatannya bahkan sudah melampaui masa-masa jaya sebelum Black October. Kisarannya antara 3%-5%. Beberapa operator juga sudah mulai menggenjot lini bisnis VAS tersebut.

PT XL Axiata Tbk. misalnya, agresif memperkenalkan lini bisnis digital service. Bentuknya pun macam-macam. Tidak hanya sebatas ring back tone (RBT) dan SMS premium, tetapi juga beragam aplikasi dan solusi sehari-hari. Di bawah lini bisnis ini, XL mengandalkan lima sektor yaitu digital entertainment, mobile finance, mobile advertising, machine to machine (M2M), komputasi awan, dan e-commerce.

Kinerjanya pun cukup memuaskan. Pada semester I/2014, lini bisnis VAS berkontribusi 4% terhadap total pendapatan seluler perusahaan. Angkanya mencapai Rp311 miliar, naik 20% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp259 miliar. Yessie D. Yosetya, VP Digital Service Delivery XL mengatakan pertumbuhan bisnis digital service memang menggembirakan.

Untuk hal ini, XL punya beberapa layanan andalan. Di sektor uang elektronik misalnya, operator ini mengandalkan layanan XL Tunai. Sementara di bidang e-comerce, XL rela menggelontorkan sekitar US$19 juta untuk membangun platform Elevenia bersama perusahaan asal Korea Selatan, SK Planet.
PT Indosat Tbk. dan Telkomsel pun tak mau ketinggalan. 

Presiden Direktur dan CEO Indosat Alexander Rusli mengatakan pihaknya mengandalkan layanan VAS untuk menggenjot average revenue per user (ARPU) pelanggan. Beberapa yang menjadi andalan sebut saja uang elektronik Dompetku dan mobile advertising. Pada Semester I 2014, ARPU anak usaha Ooredoo ini justru turun 2,7% menjadi Rp26.200 per bulan dari sebelumnya Rp26.900 year on year (YoY).

Startegi operator untuk menggenjot lini bisnis VAS memang masuk akal. Di tengah peningkatan trafik data dan beban investasi jaringan yang kian meningkat, operator harus pandai-pandai mencari sumber uang. Ini sekaligus sebagai strategi untuk menghadapi serbuan layanan over the top (OTT) yang menjadi masalah akut operator di seluruh dunia.

Bagaimana Menyikapi OTT?

Dalam beberapa kali kesempatan, Anggota BRTI Nonot Harsono melancarkan kritik tajam terhadap strategi operator yang dinilai abai menghadapi serbuan aplikasi OTT yang kian merajalela. Secara teknis, OTT merupakan aplikasi yang berjalan menggunakan jaringan milik operator. Facebook, Twitter, dan aplikasi populer lainnya termasuk dalam kategori ini.

OTT menjadi polemik karena menyedot banyak sekali trafik data. Ini tentu saja menjadi tugas operator selaku penyedia jaringan. Masalahnya, operator tidak bisa mengonversi pengguna OTT yang membludak dan membebani jaringan menjadi pundi-pundi rupiah. Sebanyak apapun pelanggan Facebook misalnya, pendapatan operator tetap akan bertumpu dari berapa banyak bandwidth yang dipakai.

Nonot pun mewanti-wanti kepada operator agar membenahi model bisnis yang selama ini digunakan. Apalagi saat ini teknologi 4G sudah siap hadir di depan mata. “Percuma kalau ada 4G tapi model bisnis masih kayak gini. Operator malah akan buntung,” katanya.

Kritik pedas Nonot memang bermaksud untuk melindungi investasi operator. Ketika pelaku usaha kehilangan kemampuan untuk membangun jaringan, kiamat telekomunikasi dipastikan nyaris terjadi. Apalagi untuk urusan infrastruktur telekomunikasi, pemerintah seperti enggan ikut campur. Beban itu selama ini memang ditanggung oleh operator.

Presiden Direktur Ericsson Indonesia Sam Saba beberapa waktu lalu mengatakan perlu ada koordinasi antara operator dan OTT untuk menjaga keseimbangan industri. Wacana soal pemberlakukan biaya bagi layanan tersebut juga bisa menjadi pilihan. Kendati demikian, dia menuturkan konsumsi data sebenarnya bisa menjadi lokomotif pertumbuhan operator telekomunikasi. 

Apa yang sedang dirintis operator telekomunikasi dengan menggenjot bisnis VAS dan membuat OTT sendiri seperti ingin menjawab kritik yang dilontarkan Nonot.

Kisruh Iklan Sisipan

Tapi masalah rupanya tidak berhenti hanya dengan menggenjot lini bisnis VAS. Jika tidak cermat, lini bisnis ini bisa menjadi boomerang dan menyerang balik operator. Salah satunya adalah bisnis mobile advertising yang kian menggeliat. 

Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) merilis angka Rp7 triliun sebagai nilai bisnis iklan digital di Indonesia tahun ini. Angka tersebut bahkan naik hampir dua kali lipat dari tahun lalu yang hanya Rp3,7 triliun.

Dengan potensi yang sedemikian besar, wajar jika operator ingin mencicipi kue bisnis tersebut. Tapi langkah ini justru membuat industri telekomunikasi agak memanas beberapa minggu terakhir. Pemicunya adalah protes beberapa asosiasi terkait dengan praktik iklan sisipan interstitial dan off deck ads  yang dilakukan oleh PT Telekomunikas Seluler (Telkomsel) dan PT XL Axiata Tbk.

Setelah hampir setahun diskusi dengan kedua operator tersebut menemui jalan buntu, Asosiasi e-Commerce Indonesia (Idea) dan Indonesian Digital Association (IDA) akhirnya angkat bicara. Bak bola salju, kisruh soal intrusive ads ini terus bergulir dan menyeret berbagai pihak. Tidak hanya Idea dan IDA, beberapa asosiasi lain seperti Pengelola Nama Domain Indonesia (Pandi), Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Asssociation of Asia Pasific Advertising Media (AAPAM), dan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) turut mengecam praktik tersebut.

Bagi para pengguna Internet, iklan sisipan memang kerap ditemui. Iklan berbentuk banner tersebut biasanya muncul saat pengunjung mengakses situs tertentu. Dalam hal ini, pengguna dipaksa untuk melihat iklan tersebut sebelum memasuki alamat situs yang dituju.

Ketua Umum IDA Edi Taslim mengatakan pratik pemasangan iklan tersebut merupakan bentuk penyalahgunaan kekuasaan (abuse power) yang dilakukan operator telekomunikasi terhadap pemilik situs. Apalagi tidak ada koordinasi antara operator dan pemilik situs terkait pemasangan iklan tersebut.

Polemik kian memanas ketika operator telekomunikasi enggan disalahkan. Asosiasi penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menegaskan praktik tersebut tidak melanggar hukum. Direktur Utama Telkomsel Alex J. Sinaga bahkan memastikan akan melanjutkan praktik tersebut selama belum ada keputusan final dari regulator.

Ini tentu mengecewakan bagi para pemrotes. Edi Taslim menegaskan pihaknya siap membawa kasus ini ke ranah hukum jika operator tetap ngotot dengan pendiriannya. Bagi industri, kondisi ini seperti jelas bukan sinyal yang baik. Ketika operator tengah merajut asa di bisnis VAS, kondisi seperti ini jelas harus diselesaikan dengan kepala dingin.

Sebagai pemilik jaringan, operator mungkin memang berhak menempatkan iklan tersebut. Tetapi pemilik situs tentu tidak mau “rumah” mereka terganggu. Belajar dari kasus Black October, kedua pihak harus bisa mencari kompromi.


Kamis, 25 September 2014

Sumber: www.indonesia.liverpoolfc.com


Seolah melanjutkan rekor buruk pada beberapa pertandingan terakhir, Liverpool harus menjalani drama melelahkan saat menghadapi Middlesbrough dalam pertandingan di Piala Liga, Rabu (24/9/2014).

Anak asuh Brendan Rodgers tersebut berhasil memetik kemenangan. Tapi setelah kedua tim berjibaku 90 menit di babak normal dan 30 menit sisanya pada babak tambahan. Tidak cukup sampai disitu, keduanya pun harus melakukan adu tendangan penalti yang bertele-tele. Alhasil, skor 14-13 pun tersaji di akhir laga.

Bagi tim sekelas Liverpool yang dibebani dengan target juara EPL musim ini, menghadapi Middlesbrough dengan cara seperti itu jelas bukan sinyal yang bagus. Turun dengan beberapa pemain anyar, pasukan The Reds gagal menunjukkan permainan atraktif.

Lazar Markovic yang diboyong seharga 20 juta poundsterling gagal memenuhi ekspektasi. Gelandang asal Serbia ini hanya mampu berputar-putar tanpa bisa menembuh jantung pertahanan Middlesbrough. Aksi drible yang ditunggu-tunggu fans juga tak kunjung keluar. Pemain muda itu seperti terbebani dengan banderol mahal yang ditanggungnya.

Pemain anyar lainnya, Adam Lallana, sedikit lebih baik. Pemain Inggris ini menunjukkan determinasi tinggi sepanjang pertandingan. Tapi tetap saja, untuk ukuran pemain seharga 25 juta poundsterling, Lallana seharusnya bisa lebih berguna. Tapi di pertandingan itu,, beberapa kali dia seperti kebingungan saat memegang bola.

Sementara itu, Mario Balotelli yang didatangkan dari AC Milan juga belum mampu bersinar. Gerakan “Super Mario” terlalu lambat. Driblenya mudah ditebak. Dia juga belum maksimal membuka ruang. Apalagi malam itu dia dipasangkan dengan Rickie Lambert yang juga malas bergerak. Alhasil, lini depan Liverpool seperti mati kutu.

Di balik permainan pemain depan yang miskin kreativitas, masalah utama Liverpool sebenarnya terletak di lini belakang. Setelah menghajar Tottenham Hotspur 3-0 beberapa pekan lalu, gawang Simon Mignolet telah dibobol tujuh kali. Satu saat melawan Aston Villa, 3 gol memalukan dari West Ham United, satu gol ketika menghadapi Ludgoretz di Liga Champion, dan dua gol dalam pertandingan dini hari tadi.

Ini memang menjadi masalah akut yang sudah dialami Liverpool beberapa tahun terakhir. Bongkar pasang lini belakang juga sudah kerap dilakukan. Duet Martin Skrtel-Daniel Agger sebenarnya cukup menjanjikan beberapa musim ke belakang. Sayang, Agger yang sering bolak balik meja operasi akibat cedera membuat performanya menurun. Ini jelas membuat lubang besar di pertahanan The Reds.

Mendatangkan pemain berpengalaman macam Kolo Toure tak banyak membantu. Kolo hanya bermain apik di beberapa pertandingan awal. Setelah itu, dia nyaris tenggelam. Kolo yang sudah berusia 33 tahun kalah adu cepat dengan para penyerang di Liga Inggris yang lebih muda.

Menambal celah di lini belakang rupanya juga tidak semudah dengan membeli pemain mahal macam Sakho dan Dejan Lovren. Pemain yang disebutkan terakhir hanya bersinar saat tur pramusim. Di beberapa pertandingan awal, Lovren tidak menunjukkan kapasitasnya sebagai pemain seharga 20 juta pounds.

Kelemahan Liverpool yang selalu kesulitan menghalau bola-bola diagonal masih kerap terjadi. Lovren memang pandai membaca arah bola. Tapi dia terlalu lambat. Momen paling kentara saat pemain ini gagal mengejar Sergio Aguero ketika Manchaster City melumat Liverpool 3-1. Dengan koordinasi yang buruk di antara pemain, celah yang bisa dieksploitasi pemain lawan sangat terbuka.

Dilema Gerard

Tak ada yang bisa membantah loyalitas dan kapasitas Steven Gerard sebagai roh permainan Liverpool. Lebih dari satu dekade, sang kapten tetap setia berkosum merah. Ini tentu menjadi poin plus baginya.

Tapi di usianya yang sudah tidak muda lagi, Gerard adalah buah simalakama. Gerard muda dengan determinasi tinggi, drible ciamik dan tendangan gledeknya tidak lagi terlihat. Gerard semakin lambat. Tendangan jarak jauhnya seringkali tak terarah. Determinasi? Jangan berharap banyak. Bisa bermain 90 menit saja sudah sebuah prestasi.

Lantas, jika Gerard sudah tidak lagi menunjukkan performa terbaik, mengapa sang kapten masih rajin mengisi starting eleven? Jawabannya mungkin pada soal kepemimpinan. Banyak pemain muda Liverpool yang mengidolakan Gerard di masa kecilnya. Bermain bersama sang idola tentu akan meningkatkan moral para pemain. Tapi disinilah repotnya. Gerard seperti revolver kosong tanpa amunisi. Tidak bisa digunakan tapi membawa rasa aman.  

Di masa kepelatihan Kenny Dalglish, upaya untuk mempertahankan Gerard dilakukan dengan menariknya sedikit ke belakang. Dia tidak lagi diberi tugas mengobrak-abrik pertahanan lawan seperti pakemnya selama ini. Sebagai gantinya, Gerard bertugas melindungi empat pemain belakang dalam formasi 4-4-2 berlian. Mirip seperti posisi yang ditempati Andrea Pirlo di Juventus.

Awalnya posisi baru ini cukup berhasil. Beberapa kali Gerard menunjukkan long pass kelas wahid bagi lini depan Liverpool. Ditemani Henderson, Joe Allen, atau Lucas Leiva, sang kapten menjalani tugas barunya dengan baik. Ini terlihat dari lini tengah Liverpool yang kian solid di musim lalu, sehingga bisa finish di posisi 2.

Tapi usia lagi-lagi tidak bisa menipu. Dalam beberapa pertandingan awal musim ini, posisi yang ditempati Gerard justru jadi masalah baru. Fisiknya tidak lagi prima untuk menjalani tugas  memotong alur serangan lawan sekaligus melindungi empat pemain belakang. Gerard kerap kedodoran sehingga sering telat menutup ruang. 

Kinerja buruk sang kapten diperparah dengan performa tidak bagus dari Lucas Leiva. Ini membuat double pivot Liverpool seperti loyo dan tak bertenaga. Determinasi tinggi dari Henderson juga tidak banyak membantu.

Jika masih mau bersaing, Brendan Rodgers harus segera mengevaluasi peran Gerard. Rodgers mungkin bisa meniru langkah Chelsea saat pelan-pelan menggeser Frank Lampard. Ini juga untuk mengurangi ketergantungan. Sehingga saat sang kapten pensiun, Liverpool sudah bisa move on.

Faktor Suarez

Menjalani musim 2014-2015 tanpa Luis Suarez seperti membuat Liverpool mengulang semuanya dari awal. Musim lalu, lini belakang The Reds yang rapuh terselamatkan aksi menawan pemain Uruguay ini. Jika tidak bisa menciptakan gol, Suarez bisa membuka ruang bagi rekan-rekannya. Inilah yang membuat Sturridge dan Sterling bersinar di musim lalu.


Situasi seperti inilah yang hilang dari serangan Liverpool. Balotelli jelas bukan Suarez yang bisa melewati satu dua pemain lawan dengan mudah. Bergerak kesana kemari sehingga membingungkan bek lawan. Sterling masih terlalu muda untuk mengemban tugas itu. Sementara ketika Sturridge bergerak membuka ruang, Liverpool tidak memiliki pemain dengan finishing touch seefisien Suarez.

Sabtu, 29 Maret 2014

Dilema Trafik Data



Tiara Dewanty (18) terlihat khusyuk menekuni smartphone di hadapannya. Beberapa aktivitas dilakukannya sekaligus. Mulai dari browsing sampai ngobrol via Whatsap. Mahasiswi di sebuah universitas swasta di Tangerang ini mengaku baru mengenal ponsel pintar sejak beberapa bulan lalu.

Sejak itu, dia rela menyisihkan uang minimal Rp50.000 setiap bulan untuk membeli paket data. Bagi Tiara, Intenet memang sudah seperti candu. Pernah suatu hari handphone gadis ini tertinggal di rumah saat berangkat ke kampus. “Rasanya gak tenang,” ujarnya, “Jadi saya pulang lagi ke rumah buat ambil handphone,”.

Meskipun tidak sama persis, hal serupa juga dialami oleh Fauzan Jamaludin (24). Tahun lalu, pria asal Tegal yang berprofesi sebagai wartawan ini hanya mengandalkan ponsel Blackberry untuk berkomunikasi. Semakin hari dia merasa perangkat itu saja tidak cukup. Kepada Bisnis, dia menunjukkan smartphone Android canggih yang baru dibelinya beberapa waktu lalu.

Apa yang dialami oleh Tiara dan Fauzan menggambarkan tren masyarakat modern yang kian akrab dengan gadget canggih dan koneksi Internet. Beberapa tahun lalu, kriteria ponsel canggih hanya dilihat dari spesifikasi kamera atau kemampuan memutar lagu.

Tapi masa itu kini telah lewat. Kecanggihan ponsel sekarang dilihat dari seberapa cepat dia bisa melakukan beberapa pekerjaan sekaligus (multitasking) dan jaringan generasi berapa yang diusungnya. Secanggih apapun sepesifikasi suatu gadget, jika dia hanya berjalan di teknologi 2G niscaya harga jualnya lebih murah.

Tuntutan masyarakat untuk mengakses Internet berkecepatan tinggi pada akhirnya membawa konsekuensi serius. Orang tak puas hanya dengan mengakses Facebook dan media sosial lainnya. Kini mereka mulai menggunakan layanan data untuk menonton video streaming yang membutuhkan trafik data tinggi. Tren ini rupanya juga melanda seluruh dunia.

Laporan terbaru dari Ericssson Mobility Report memprediksi pada 2019 smartphone akan digunakan oleh 7,2 miliar penduduk bumi atau sekitar 80% dari total populasi.  Angka ini jelas akan membuat trafik data melonjak tajam. Jika saat ini rata-rata pengguna smartphone hanya menghabiskan 600 megabyte per bulan, pada 2019 konsumsi tersebut akan melonjak hingga 2,5 gigabyte. Secara global, trafik data smartphone pada tahun itu akan mencapai 16 miliar gigabyte.

Hardyana Syntawati, Kepala Divisi Pemasaran dan Komunikasi Ericsson Indonesia, mengatakan peningkatan trafik data ini menjadi tantangan bagi operator telekomunikasi. Apalagi teknologi 4G yang membutuhkan lebih banyak trafik data juga akan segera diluncurkan. Menurutnya, peningkatan kebutuhan trafik data ini harus disikapi oleh operator telekomunikasi.

Di Indonesia, peningkatan konsumsi data ini tercermin dari kenaikan pelanggan data operator telekomunikasi. Dalam laporan perusahaan semester I 2014, rata-rata jumlah pelanggan data sudah mencapai setengah dari total pelanggan operator.

PT Telekomunikasi Seluler misalnya, kini memiliki jumlah pelanggan data sebanyak 63,4 juta. Sementara itu, PT XL Axiata berhasil menggaet 32,2 juta pelanggan data. Sedangkan PT Indosat Tbk. telah melayani 27,4 juta pelanggan data. Operator lain yang berbasis code division multiple access (CDMA), PT Smartfren Telecom Tbk. sendiri telah memiliki 6 juta pelanggan data.

Direktur Service Management PT XL Axiata Tbk. Ongki Kurniawan menuturkan setidaknya tiga hal yang memicu peningkatan trafik data di kalangan pengguna. Pertama, saat ini konsumen dimanjakan dengan beragam paket data yang ditawarkan operator. Strategi ini dinilai sangat efektif untuk merayu pelanggan agar menggunakan Internet.

Faktor kedua datang dari penetrasi smartphone yang semakin pesat. Data dari International Data Corporation (IDC) Indonesia menyebutkan pengapalan smartphone dan tablet pada 2013 masing-masing mencapai 14 juta dan 4 juta unit. Dari jumlah tersebut, 30% di antaranya merupakan ponsel pintar dengan banderol murah seharga US$50-US$150.

Ketiga, beragam aplikasi yang membutuhkan bandwitdh besar kini juga mulai tumbuh. Artinya, pelanggan tidak hanya sebatas menggunakan Internet untuk membuka e-mail atau chatting, tetapi juga membuka konten digital lainnya seperti video streaming.

Dilema Trafik Data

Peningkatan trafik layanan data rupanya juga menjadi pisau bermata dua bagi operator telekomunikasi. Pasalnya, ketika permintaan trafik dari pelanggan melonjak operator harus menggelontorkan dana untuk membangun infrastruktur jaringan. Ini seperti petani yang harus membuka lahan lebih luas ketika permintaan beras naik tajam.

Menariknya, selama ini operator sudah terlanjur nyaman dengan pendapatan yang diperoleh dari layanan suara dan SMS. Ketika Internet booming, pendapatan dari kedua layanan tersebut perlahan mulai merosot. Sementara pendapatan dari layanan data juga juga belum maksimal. Presiden Direktur dan CEO Indosat Alexander Rusli mengatakan permintaan trafik data ini membuat operator harus berfikir keras untuk memaksimalkan pundi-pundi dari lini bisnis itu.

Sialnya, mau tidak mau operator harus mengikuti tren tersebut dengan membangun infrastruktur guna menyediakan layanan data. Ini tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Belanja modal yang dikeluarkan masing-masing operator lapis satu—Indosat, Telkomsel, dan XL—setiap tahun hampir menyentuh angka Rp10 triliun. Belanja modal ini mayoritas digunakan untuk membangun  base transceiver receiver 3G dan perlengkapan jaringan lainnya.

“Operator memang harus bangun jaringan data. Karena kalau enggak begitu pasti ditinggalkan pelanggan,” ujarnya.

Hal ini membuat Alexander hanya bisa menggeleng saat ditanya target pendapatan data Indosat setelah menggelar modernisasi jaringan. Dia menilai hal tersebut sulit diprediksi karena operator masih menjajal formula bisnis yang tepat guna menggenjot pendapatan data.

Jika mengacu pada beberapa laporan, kinerja operator telekomunikasi di Indonesia sebenarnya tidak terlalu buruk. Riset terbaru dari Credit Suisse menyebutkan pada kuartal II 2014, pendapatan seluler di Indonesia naik 9,3% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini bahkan lebih besar dari China yang hanya tumbuh 4,8%.

Pendapatan dari trafik data justru masih tertinggal jika dibandingkan beberapa negara lain di Asia. Jika Taiwan, China, dan Thailand berhasil mencatatkan pertumbuhan di atas 20% pada kuartal II tahun ini, layanan data di Tanah Air hanya tumbuh 13%. Menariknya, pendapatan data sudah berkontribusi setengah terhadap terhadap total pendapatan operator telekomunikasi. Angka ini merupakan yang tertinggi dibandingkan negara lain yang disurvei Credit Suisse.

Sementara itu, PT XL Axiata Tbk. dalam laporan keuangan paruh pertama 2014 menyebutkan pendapatan dari layanan data dan VAS mencapai Rp2,9 triliun atau naik 42% dari periode yang sama tahun sebelumnya. Telkom sendiri berhasil meraup Rp12,44 triliun dari sektor data, Internet, dan IT services yang naik 16,06% year on year (YoY).

Penaikan Harga

Di tengah dilema trafik data yang dialami operator telekomunikasi, salah satu opsi yang mengemuka adalah menaikkan harga tarif layanan data. Hal ini juga telah diungkapkan Alexander Rusli. Dia beralasan harga layanan data saat ini terlalu murah karena hanya sekitar Rp0,06 per kilobyte . Padahal, di negara lain harga layanan serupa bisa mencapai Rp0,10-Rp0,15 per kilobyte.
“Untuk di Indonesia harga yang ideal mungkin Rp0,10 per kilobyte,” katanya.

Deputy CEO PT Smartfren Tbk. Djoko Tata Ibrahim juga mengamini soal rencana penaikkan tarif data tersebut. Menurutnya, banderol tarif data bisa naik 30% dari harga saat ini. Kendati demikian, langkah penaikan harga ini tidak bisa begitu saja dilakukan operator. Pasalnya, kualitas layanan yang ditawarkan saat ini juga belum maksimal. Alexander menuturkan operator harus meningkatkan infrastruktur jaringan sebelum menaikkan harga.

Rencana tersebut rupanya juga turut menjadi perhatian pemerintah. Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M. Ridwan Effendi menuturkan pihaknya tengah mengkaji penerbitan beleid soal formula tarif data. Jika rencana tersebut terealisasi, setiap operator akan memiliki acuan tarif batas bawah seperti yang selama ini diterapkan pada tarif SMS dan interkoneksi.

Menurut regulator, aturan ini akan mengakomodir kebutuhan konsumen terutama dari kalangan pemula. Selain itu, akan diatur juga formula untuk memberikan kenyamanan bagi pemakai Internet dengan kebutuhan tinggi. Selain itu, BRTI juga mulai memperhatikan ongkos produksi layanan data guna melindungi investasi.

“Ini masih tahap awal banget. Masih banyak alternatifnya,” katanya.

Bagaimana tanggapan operator? Alexander Rusli justru meminta pemerintah tidak ikut campur penentuan tarif layanan data. Kebijakan ini dinilai akan menyulitkan gerak operator. Tarif tersebut seharusnya dibiarkan berdasarkan mekanisme pasar.

“Dalam jangka pendek memang bagus untuk menjada profitabilitas. Tapi untuk jangka panjang justru akan merugikan industri,” paparnya.


Rabu, 13 November 2013

Mempertanyakan Kebenaran



Suatu petang di antara syahdunya suara gerimis, seorang kawan mengajukan pertanyaan yang memaksa saya memikirkan ulang soal kebenaran. Ia mengambil sebuah harian nasional dan menunjukkan sepenggal berita soal Ahmadiyah.

“Kalo dari kacamata teologi kamu, Ahmadiyah ini bener atau salah?” tanyanya lugas.

Saya menjawabnya dengan membakar sebatang rokok. Nampaknya pertanyaan singkat ini akan memancing diskusi panjang. Sampai hisapan ketiga saya masih bingung harus memulai dari mana. Memang saya hanya perlu menjawab “benar atau salah”. Tapi jelas tidak akan sesimpel itu.

“Oke..begini,” ujar saya sok bijaksana. “Kita gak bisa memandang ini dari satu sisi. Harus jelas dulu bagaimana sejarah Ahmadiyah,”.

Saya kemudian berargumen kesana-kemari soal sejarah Ahmadiyah. Sampai akhirnya kawan yang cerdik itu menyadari kalo saya lagi ngeles. “Jadi intinya benar atau salah?,” ia semakin memojokkan.
Sejujurnya saya gelagapan juga dicecar pertanyaan yang sama seperti itu. Saya hanya mengenal Ahmadiyah kulit luarnya saja, tidak mendalami isinya. Saya merasa tidak berkompeten untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Benar atau salah? Dari kacamata orang awam aja,” ia kembali mengulangi pertanyaan yang sama.
Saya mengambil nafas panjang. Mengerutkan dahi sambil duduk bersila ditemani asap rokok yang terus mengepul. Saya merasa ada yang ganjil.

“Kebenaran seperti apa yang kamu maksud?” saya balik bertanya.

Ia terdiam sejenak. Matanya menerawang tampak sedang memikirkan sesuatu. Suasana menjadi hening meski hujan di luar semakin deras. Kami saling tersenyum. Kalo ada yang melihat, mungkin akan menyangka kami sedang cinlok. Sepertinya kami harus clear dulu soal kebenaran yang dimaksud.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin kami mengukur sesuatu dengan “kebenaran” jika kebenaran itu sendiri sulit diukur? Maksud saya begini. Saat kita hendak mengukur berat daging yang dihasilkan dari seekor kambing misalnya, kita memiliki alat dan satuan ukur yang jelas. Ukuran berat itu disepakati semua pihak. Mulai dari ton, kwintal, kilogram sampai ons dan gram. Alat dan satuan ukur yang jelas itulah yang membantu kita bisa berteriak dengan lantang bahwa berat daging itu adalah 30 kilogram misalnya.

Lantas bagaimana caranya mengukur Ahmadiyah benar atau salah? Alat dan satuan ukur seperti apa yang akan kita pakai? Apakah “kebenaran” yang kita pakai untuk mengukur sudah “benar-benar” benar? Bagaimana “kebenaran” yang kita anggap benar untuk mengukur suatu “kebenaran” bisa menunjukkan “kebenaran”? Begitu kompleksnya soal kebenaran ini sampai membuat kami harus kembali meninjau ulang soal kebenaran.

Selama ini saya merasa kebenaran dimonopoli oleh sekelompok orang. Kebenaran dipahami sebagai sebuah kesepakatan bersama suatu tatanan masyarakat. Masa Orde Baru misalnya, orang-orang bertato dianggap identik dengan premanisme. Hal tersebut dianggap sebuah kebenaran yang disepakati oleh masyarakat. Persoalan tato dikonstruksi sedemikian rupa hingga menjadi “kebenaran” di tengah khalayak ramai.

Tapi hari ini kebenaran itu dilucuti. Tato tak lagi dianggap tabu. Masyarakat insaf bahwa yang selama ini dianggap sebuah kebenaran menjadi hal yang biasa saja. Buat saya, nilai-nilai kebenaran yang disepakati  bersama telah memudar. Kebenaran absolut itu hilang begitu saja.

Saya termasuk orang yang tidak percaya andagium “kebenaran pasti menang”. Karena faktanya, “pemenanglah yang menjadi kebenaran”. Jadi bagaimana kita bisa menggantungkan diri pada kebenaran yang tidak selamanya benar itu?

Hari ini, kebenaran sudah tidak bisa lagi dipatok, dimiliki dan dikuasai oleh sekelompok orang. Kebenaran sudah seperti rasa. Hadir di setiap pribadi. Menjelma lewat argumentasi. Kebenaran menjadi bias dan masuk ke setiap relung sanubari. Lantas, untuk apa lagi kita mempertanyakan kebenaran?

Dalam konteks inilah pertanyaan kawan saya soal benar dan tidaknya Ahmadiyah menjadi tidak relevan. Kami tidak bisa menemukan alat dan satuan ukur yang tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Maka, masih relevankah kita mempertanyakan kebenaran, jika kebenaran saja sudah menjadi ranah privasi orang per orang?


Rabu, 22 Mei 2013

Usai Newsweek Siapa Lagi?...



Seperti daun yang rontok di musim gugur, satu per satu media cetak tersungkur. Era digital memaksa mereka untuk bertransformasi atau mati.

#LastPrintIssue. Tulisan itu terpampang cukup besar pada halaman depan majalah berita mingguan Newsweek edisi Desember tahun lalu. Gedung kantor lama Newsweek di Manhattan New York yang menjadi latar belakang dicetak buram, seakan menggambarkan betapa nelangsanya majalah yang didirikan oleh Thomas J.C Martin ini beberapa tahun terakhir. 

Setelah 80 tahun tanpa henti mewartakan berita dalam 12 bahasa, riwayat Newsweek harus terhenti setelah berusaha bertahan menghadapi serbuan digital. Newsweek memang tidak mati. Newsweek hanya bertransformasi menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan tuntutan bisnis. Mulai awal 2013, majalah ini akan beralih ke format digital dan online. Versi digital majalah ini akan dijual sama dengan harga cetaknya (sekitar US$4,99).  

Langkah drastis ini memang mau tidak mau harus diambil oleh pihak manajemen. Pasalnya, sejak tahun 2005 sirkulasi Newsweek merosot 50% hingga menjadi 1,5 juta eksemplar saja. Sementara pengiklan juga anjlok hampir 80%. Tak pelak, Newsweek juga harus kehilangan potensi keuntungan hingga US$40 juta per tahun.
Gonjang-ganjing Newsweek mulai sangat terasa saat Washington Post Co.—pemilik Newsweek sejak 1961—menjual majalah ini kepada seorang pengusaha stereo, Sydney Harman pada 2010. Sebelum meninggal, Harman akhirnya menggabungkan Newsweek dengan The Daily Beast yang saat itu dipimpin oleh Tina Brown.

Bukan Yang Pertama
Apa yang menyebabkan media sebesar dan sekelas Newsweek bangkrut, dan mengakhiri penetrasinya selama 80 tahun ke kios-kios majalah di seantero jagat?  Benarkah era digital yang menjadi “malaikat maut” bagi sekumpulan majalah cetak konvensional, yang menghabiskan banyak sekali uang untuk biaya produksi dan distribusi?

Sebagai media konvensional, eksistensi media cetak sangat bergantung pada oplah dan pemasang iklan. Saat kedua elemen penting tersebut hilang, maka saat itulah sebuah media terancam eksistensinya.  Hal itulah yang harus dialami bahkan oleh media dengan pengalaman segudang seperti Newsweek.

Newsweek memang bukan yang pertama. Sebelumnya sudah tak terhitung jumlah media cetak yang harus gulung tikar ataupun mengganti platform cetak menjadi digital. Mulai dari Chicago Tribune,  Los Angeles Time, The Rocky Mountain News, San Juan Stars hingga Kentucky Post adalah contoh-contoh media cetak di Amerika yang tak lagi hadir di tengah masyarakat.

Berbagai upaya untuk membendung kerugian dari media cetak sudah dilakukan. Mulai dari mengurangi jumlah halaman serta ukuran kertas—seperti yang dilakukan oleh The Tribune Company di Amerika—hingga mengurangi durasi penerbitan dari setiap hari menjadi 3 kali seminggu—seperti yang dilakukan oleh harian New Orleans Times Picayune.

Senada dengan di Amerika, media-media asal Inggris pun mengalami nasib serupa. Media terkemuka seperti The Independent, Daily Mail, The Derby Telegraph, The Bristol Evening Post dan Leicester Mercury ramai-ramai menyatakan akan merumahkan sebagian besar pekerjanya. Beban operasional yang semakin besar, membuat nafas media cetak kembang-kempis.

Selain bukan menjadi yang pertama, banyak kalangan memandang Newsweek juga bukan media cetak terakhir yang akan pindah haluan. Dua media besar asal Inggris—The Guardian dan The Observer—juga diprediksi akan segera mengikuti langkah Newsweek. Beberapa tahun terakhir, pemilik The Guardian harus berjuang untuk membendung kerugian yang mencapai ₤44 juta.

Senjakala media cetak juga tergambar dari hasil riset yang dilakukan oleh USC Annenberg Center for the Digital Future. Dengan tingkat penetrasi internet yang luar biasa pesatnya di Amerika, lembaga riset ini berani memprediksi media cetak Amerika akan mati dalam kurun waktu 5 tahun.

“Hanya 4 media besar seperti The New York Time, USA Today, the Washington Post dan the Wallstreet Journal yang akan bertahan pada versi cetak,” ujar Jeffrey I. Cole, direktur USC Annenberg. 
Rupert Murdoch, sang taipan pemilik raksasa media dunia—News Corporation—bahkan berani memprediksi media massa akan mati dalam 20 tahun lagi.

Bukan Hal Yang buruk
Lantas apa yang salah dari konversi media cetak ke ranah digital? Tentu tidak ada. Apa yang dilakukan oleh Newsweek sebenarnya merupakan sebuah strategi untuk bertahan hidup. Dalam sejarah perjalanannya, bukan sekali media cetak diproyeksikan akan runtuh.

Media cetak terlahir dari pergulatan sejarah yang panjang. Riwayatnya merentang jauh mulai dari era sebelum masehi, hingga mengalami perkembangan pesat saat Johannes Gutenberg hadir dengan mesin cetak inovasinya. Dengan pengalaman panjang ini, media cetak sebenarnya memiliki karakteristik tersendiri.
Saat Marconi menemukan radio pada 1895 banyak yang memprediksi media cetak akan kehilangan pamornya. Tapi ternyata gulungan koran dan majalah tetap dibaca banyak orang. Begitupula ketika televisi mulai menjajah rumah-rumah di seantero jagat. Banyak media cetak yang gugur, tapi tak sedikit pula yang bertahan.

Kini saat orang mulai meneriakkan new media, muncul kekhawatiran untuk kesekian kalinya bahwa media cetak tak akan bertahan. Pro dan kontra bermunculan. Tapi jika bertransformasi untuk menjadi yang lebih baik bagi pembaca, tak ada yang salah bukan? 
------------
Tulisan ini pernah dimuat di majalah Teknopreneur edisi Maret 2013

Minggu, 03 Februari 2013

Mencumbu Kabut Merbabu (Bagian II : Habis)

si kembar Sindoro-Sumbing dari Pos II..

Summit Attack

Pagi menjelang. Di sebelah barat tampak si kembar Sindoro-Sumbing dengan gagahnya. Pagi di gunung memang selalu menyenangkan, meski selalu dilalui dengan rutinitas yang hampir sama. Ngopi, bikin sarapan, foto-foto narsis sambil membicarakan angin kencang semalam. Saya seperti biasa, sangat menyukai memasak di pagi hari. Meskipun hanya sekedar menggoreng roti ataupun membuat teh dan kopi.

Foto keluarga di Pos II...

Pagi itu kami masih bingung dengan rencana selanjutnya. Apakah tetap dengan rencana awal: muncak membawa segenap perabotan lenong lantas turun lewat Selo, atau ada opsi lain. Sementara kawan-kawan mempercayakan keputusan kepada saya, maka saya pun silaturahmi kepada para tetangga sebelum mengambil keputusan.

Soulmate Misbah & Uchup...

Dari hasil obrolan dengan para pendaki lain, saya dapat kesimpulan tidak ada satupun pendaki yang berani lewat Selo saat ini. Cuaca yang cukup ekstrem membuat para pendaki harus membuat keputusan cerdas. Saat itu, cuaca di Merbabu memang sedikit banyak dapat diprediksi. Cerah dari pagi hingga jam 13.00, lalu kemudian hujan akan terus turun dan berpotensi menjadi badai semakin malam. Turun lewat Selo dengan jalur savana yang terbuka di sore hari sangat berpotensi dicumbu badai.

Jalur pendakian menuju Pos III
Sebelum Pos III

Pada akhirnya, kami pun memutuskan untuk summit attack dan turun kembali lewat Wekas. Persiapan segera dilakukan. Kami hanya membawa bekal berupa roti dan biskuit, air secukupnya, serta trangia untuk jaga-jaga jika diperjalanan tiba-tiba ngidam kopi.

Bayu, dengan kondisinya yang tidak memungkinkan untuk summit attack memutuskan untuk menunggu di tenda. Sekitar pukul 07.30, saya, Misbah dan Uchup pun melangkahkan kaki menuju puncak. Kami rombongan ke-2 yang summit attack hari itu. Sementara rombongan pertama sudah berangkat sejak dini hari demi mengejar lahirnya sang mentari.

Perjalanan awal kami lalui dengan lancar. Jalurnya tidak terlalu terjal tapi juga tidak terlalu landai. Perjalanan sempat break sejenak demi menunggu Uchup melaksanakan hajatnya di pagi hari. Sekitar 1 jam lebih kami berjalan, akhirnya kami tiba di Pos III. Disini ada aliran air yang cukup jernih. Padahal biasanya air hanya bisa ditemukan di Pos II. Kami pun segera mengganti air perbekalan kami dengan air di Pos III ini. Maklum, air di Pos II rasanya sudah tercampur belerang sehingga sangat tidak enak diminum langsung.


Pertigaan Pemancar-Puncak


Di pertigaan antara ke puncak dan pemancar kami berhenti cukup lama untuk bernarsis ria. Pada awalnya kami mengira sudah cukup dekat dengan puncak. Rupanya setelah berjalan agak jauh, saya menemukan plang yang bertuliskan:
Puncak Kentheng Songo à 1,6 KM
Pos Helipad à 0,2 KM


Masih jauh ciiiinggg....

Melihat hal itu, saya segera berteriak kepada Uchup dan Misbah untuk bergegas. Jika tidak ingin berhujan-hujan ria, kami harus sudah sampai kembali di Pos II sebelum jam 13.00. Sebelum mencapai pos Helipad, kami dihadapkan pada tanjakan yang cukup terjal. Entah apa rasanya jika bawa keril melewati jalur ini. Di Pos Helipad inilah kami mulai membuka perbekalan kami. Roti tawar berselimut susu coklat. Lumayan mengganjal perut.


Asik kali ya guling2 disitu...


Bukan gw-nya kok yang keren..tapi pemandangannya..hehe

Lepas dari Helipad, jalur mulai sering dikunjungi kabut. Perjalanan ke puncak ini seringkali menipu. Jalurnya naik turun. Beberapa kami kami tertipu karena memperkirakan sebuah spot sebagai puncak, nyatanya hanyalah bukit.


Melipiiiirrr.....

Tak jauh dari pertigaan Puncak Syarif-Puncak Kentheng Songo, kami bertemu dengan para pendaki lain yang hendak turun. Atas saran dari mereka, kami harus sudah turun dari puncak sebelum jam 12, jika tidak ingin diguyur hujan atau bahkan badai. Dengan keputusan bersama, akhirnya kami pun memilih untuk mengunjungi Puncak Kentheng Songo saja.

Merbabu yang memiliki 3 puncak—Syarif, Kentheng Songo dan Triangulasi—memang benar-benar luar biasa. Jalan setapak yang terkadang berselimut kabut dengan dominasi warna hijau di sekeliling menimbulkan sensasi tersendiri. Perpaduan antara putihnya kabut, hijaunya dedaunan, birunya langit serta coklatnya pohon dan tanah membuat perjalanan kami sangat menyenangkan.

Setelah melahap tanjakan yang cukup menguras tenaga, akhirnya puncak Kentheng Songo berhasil kami rengkuh. Waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 10.30 saat itu. Plang penanda puncak sekaligus batu-batu berlubang tak ayal menjadi objek nasis kami. Saat itu, kami adalah satu-satu rombongan yang ada di puncak.


Puncak yang dikepung kabut

Tak lebih dari 20 menit, kami segera turun. Seluruh penjuru mata angin sudah dikepung warna putih. Sayang memang. Saat mengedarkan pandangan ke sekeliling keindahan alam Merbabu terhalang oleh kabut.

Perjalanan turun jelas lebih menyenangkan. Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Di sebelah sana awan hitam mulai berkumpul siap untuk bekerja. Kami semakin bergegas. Tak jauh dari pertigaan puncak ke puncak Syarif, kami bertemu dengan rombongan besar yang baru akan menuju puncak. Tak kurang dari 23 orang yang tergabung. Kami berani memprediksi, mereka pasti akan kehujanan saat turun.

Sebelum mencapai pos Helipad, kami tergoda untuk ngopi sejenak. Jadilah trangia dan spirtus keluar dari persembunyiannya. Ditemani gulungan Samsoe dan segelas kopi, kamipun bercanda ditengah hawa dingin yang mengepung. Saat sedang asyik menggilir segelas kopi, 3 orang pendaki melewati kami lengkap dengan keril besar mereka.

“Mau turun lewat Selo mas?,” iseng saya bertanya.
“Enggak, lewat Wekas juga,” jawab salah seorang dari mereka pendek.

Seperti diburu waktu mereka pun bergegas melanjutkan perjalanan. Tinggallah kami yang geleng-geleng kepala keheranan. Mau turun lewat Wekas juga tapi tetap membawa segenap perabotan lenong ke puncak? Hanya orang saktilah yang mampu melakukannya.

Sekitar pukul 13.00 kami pun tiba kembali di tenda kami yang nyaman. Dan benar saja. Tak lama kemudian hujan mengguyur dengan derasnya. Entah bagaimana nasib para pendaki yang tadi kami temui saat turun. Yang pasti hujan akan mengguyur mereka dengan dahsyatnya.

Perjalanan dari puncak tadi membuat kami kelaparan. Uchup yang dalam perjalanan kali ini kami daulat sebagai koki utama segera melakukan eksperimennya. Dan hasilnya, berupa nasi goreng kornet dengan sosis dan bakso goreng. Yang lebih istimewa, nasi goreng ini pedasnya luar biasa. Tak ayal sempat memakan beberapa orang korban yang langsung sibuk mencari semak-semak pasca menyantap nasi goreng ini.

Kami menunggu dengan bosan. Hujan tak kunjung reda, sementara kami harus segera turun. Demi membunuh waktu saya dan Misbah yang memang satu tenda memutuskan untuk bermain kartu. Lantunan suara merdu dari Bossanova menambah syahdu siang itu. Hujan, di dalam tenda, alunan jazz romantis, aaaahhh….bisakah si Misbah ini dituker aja dengan seorang wanitaaa??

Sekitar pukul 15.00 rombongan dari puncak turun. Tubuh mereka basah kuyup tanpa menyisakan satu celahpun yang kering. Saya segera berinisiatif membuatkan kopi. Disinilah bencana terjadi. Kondisi gerimis memang memaksa kami untuk masak di vestibulate tenda. Kalian tahu sendiri, vestibulate si oranye lafuma kecil sekali. Perpaduan antara besarnya api dari trangia serta sempitnya vestibulate Lafuma akhirnya membakar tenda kami. Jilatan api itu berhasil melubangi tenda dengan diameter sekitar 2 cm. Ya sudahlah terima nasib saja. Hikss…!

Waktu semakin sore tapi hujan justru semakin deras. Akhirnya kami memutuskan untuk packing ditengaj hujan. Tenda jelas menjadi kendala utama dalam packing seperti ini. Karena sayalah yang bertugas membawa 2 tenda ini, saya menjadi orang terakhir yang packing. Jika sebelumnya di Manglayang saya harus merasakan nikmatnya mendirikan tenda ditengah hujan, kini saya harus merasakan membongkar sekaligus packing tenda ditemani rintik air hujan.

Sulit juga ternyata. Packing menjadi tidak maksimal hingga memakan banyak ruang. Keril saya sudah sangat tidak seimbang. Bahkan fly sheet tenda justru tidak muat akibat packing asal-asalan. Karena malas membongkar lagi ditengah hujan begini, fly sheet ini pun akhirnya saya tenteng saja.

Perjalanan turun tak juga membuat hujan semakin ramah. Bahkan semakin menjadi. Angin menderu-deru. Suaranya yang menghantam ranting dan dedaunan membuat merinding juga. Sekitar 1,5 jam turun kami harus berjuang dengan guyuran hujan, jalur yang licin dan bahkan menjadi aliran air serta angin yang bertiup kencang.

Akhirnya perjuangan kami usai sudah. Malam menjelang saat kami tiba kembali di basecame Wekas. Disinilah kami membersihkan badan dan numpang bermalam. Disini pulalah kami disuguhi nasi, sayur dan telur dadar yang rasanya sumpah nikmat alhamdulillah. Saya bahkan sampai nambah beberapa kali. Setelah perut kenyang dan membersihkan badan. Kami pun terlelap. Namun petualangan kami tak hanya berhenti sampai sini. Esok kami akan bertransformasi dari seorang hiker menjadi traveller. See you Jogjaaaa.


Pulaaaannggg
Credit foto : Uchup & Misbah